Cahaya Hati

Saturday, 30-8-2008 | 5:54 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan, Myanmar

NAMANYA Prie GS. Dikenal sebagai seniman dan budayawan. Ia pandai memainkan alat musik piano dan gitar.. Kamis (29/8) kemarin, saya sengaja menjemput dia di Bandara Sepinggan, Balikpapan, bersama Priyo Suwarno (Redaktur Pelaksana Tribun Kaltim) dan Eddy (Pemimpin Redaksi Smart FM Balikpapan).

Begitu keluar dari pesawat, Prie GS, terlihat melontarkan senyum. Hatinya berbungga-bungga setelah melihat sejumlah penari Dayak berikut musik pengiringnya sudah berada di tepi bandara. Dalam hatinya, “Ini kejutan luar biasa. Datang ke Balikpapan disambut penari.”

Ternyata, ketika ia mendekat, tak ada satu pun penari pun yang menyambutnya. “Waduh… hati saya tadi sudah keburu senang. Ternyata, para penari itu menjemput Kapolda Kaltim yang baru. Ha… ha… ha…” kelakar Prie, sambil cengegesan kepada saya.

Dalam perjalanan menuju Gedung Balikpapan Sport and Conventional Centre (DOM), perut saya benar-benar ‘dikocok’ olehnya. “Kenapa pesawatnya terlambat cak?” tanya saya. Seakan tanpa berpikir, Prie spontan nyeletuk… “Pesawatnya tadi mogok di atas…”

Ketika sampai di gedung, lelaki asal Semarang itu segera mengecek sound sistem. “Wah gaung sekali ya… Okey… saya akan pelajari dulu situasinya,” tuturnya sambil wira-wiri menjajal mic. Setelah dirasakan stelannya pas, Prie GS meminta sang operator agar tetap bertahan pada stelan yang ia inginkan. “Saya kira ini yang terbaik. Jadi kita stay di sini ya,” tuturnya.

Dari gedung DOM, saya lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Hotel Sagita. Sebelum ke hotel, kami sengaja mengajak Prie GS mampir dulu ke Kepiting Kenari. Sambil menunggu makanan datang, saya sedikit berkelakar. “Mas… makan kepiting di sini, berbeda dengan makan kepiting di Jawa..” “Apa bedanya?” tanya dia. “Bedanya… di tempat ini disediakan catut atau tang untuk memecahkan cangkang kepiting.”

“Ehmmm kamu sombong betul. Gitu aja dipamer-pamerkan ke saya. Tahu enggak, kalau di sini untuk memecahkan kepiting pakai tang, di Jawa itu ada perkembangan terbaru yang sampean tidak tahu,” ungkap Prie. “Apa Mas..?” “Di Jawa penjual kepiting yang di tepi jalan, malah menyediakan palu atau amer untuk memecah cangkang kepiting,” tuturnya.

Mendengar jawaban itu, lagi-lagi perut saya menjadi tegang lantaran terkocok oleh jawaban-jawaban Prie GS. Dari Kepiting Kenari, mobil yang kami tumpangi meluncur ke Hotel Sagita, tempat Prie GS menginap. “Wah.. ini waktunya sudah mepet. Saya mandi sebentar ya,” pinta. Seperempat jam kemudian Prie sudah keluar dari hotel lalu meluncur ke tempat acara.

“Bener kan Pak Walikota itu datang lebih awal dibanding para tamu undangan lainnya. Beliau itu sangat disiplin, memberi contoh kepada masyarakatnya,” jelas Prie. Kami semua lalu bersalaman dengan Imdaad Hamid, Walikota Balikpapan yang dikenal santun, arif dan bijaksana.

Saat ngobrol dengan sang Walikota, Pria GS pamit ke belakang. Sementara saya dibiarkan mendampingi Pak Wali hingga acara selesai. Sesaat acara dimulai, air mata saya tiba-tiba menetes. Saya benar-benar terharu ketika semua hadirin, diminta berdiri dan menyanyikan lagu Tanah Air.

Sambil mengusap air mata, seorang pejabat lainnya di sebelah saya berbisik. “Hati saya benar-benar tersentuh ketika menyanyikan lagu Tanah Air. Jiwa saya terbangkitkan,” tuturnya. Saya lalu merenung sebentar.. Bukankah, lagu Tanah Air yang dinyanyikan sekutar 2500 pengunjung secara bersama-sama tadi adalah bagian dari skenario saya.

Sebelumnya, siang hari saya menemui Lukman,, pembawa acara. Saya tanya, random acaranya apa saja. Setelah saya pelajari, saya meminta pemain organ tunggal untuk memainkan lagu Tanah Air. “Coba, perasaan anda tersentuh enggak mendenggar lagu ini? Karena itu lagu ini hukumnya wajib dan harus dinyanyikan bersama-sama,” pinta saya.

Lukman, akhirnya setuju kalau lagu itu disellipkan di acara awal. Saat lagu mulai terhenti, wajah Pak Wali, Danlanud Balikapapan, tak bisa menahan keharuan. Ada spirit baru yang harus dibangun. Spirit bahwa negeri ini adalah milik kita bersama dan karena itu tak booleh dipermainkan oleh siapapun harus segera dibangun.

Indonesia memang tengah menangis, tapi para penghuni di bumi tercinta ini tak boleh menangis hanya karena kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan pejabat negara –KKN, lemahnya supremasi hukum dan carut marutnya sistem ketatanegaraan dan lain-lain.

Kita semua juga tak boleh mengecam bahkan mencaci maki para pelaku-pelaku KKN, karena sesungguhnya mereka sudah tersakiti oleh lubang galian yang telah mereka buat sendiri. Akankah kita terlena dengan situasi dan kondisi seperti ini? Teramat mahal rasanya kalau kita berkutat pada pembicaraan yang itu-itu saja. Hentikan mengunnjing mereka, biarkan mereka menikmati apa yang telah mereka tanam. Biarkan mereka merasakan betapa tersiksanya bathin mereka, manakala aib-aib itu terbongkar dan tidak hanya disaksikan satu, dua, tiga orang rakyat Indonesia, melainkan rratusan juta manusia menyaksikan ulah mereka….

Bumi tercinta ini harus disinari oleh lilin-lilin yang mampu menerobos kegelapan hati para pemimpin bangsa di negeri ini. Lalu cahaya itu merasuk ke dalam jiwa dan pikirannya, sehinggga melahirkan darah yang benar-benar suci dan tidak kotor seperti sekarang ini. Darah yang kotor akan melahirkan penyakit terhadap bangsa ini. Mari kita tukar dari kotor itu menjadi darah yang bening, darah yang suci, darah yang di dalamnya ada spirit untuk kembali bangkit dan tak terlena dengan keadaan… Cukup lama kita berdamai dengan keadaan, karena itu mari… dan mari kita satukan langkah, pikiran, jiwa dan hati kita semua untuk menatap Indonesia yang lebih bersinar akibat cahaya hati yang lahir dari pikiran dan jiwa yang bersih…. (achmad subechi)

Leave a Reply