Pakaian ‘Kebesaran’

Saturday, 30-8-2008 | 5:06 WIB | Komentar | Kategori: achmad subechi, perusahaan

WANITA itu tiba-tiba menyapaku. Seperti biasa, saya cukup melempar senyum sekedar basa-basi. “Bapak lupa ya sama saya….?” “Ehmm.. enggak kok,” kataku, sedikit berpura-pura. Penampilan wanita itu amat perlente. Makfum, ia seorang wanita karir, pimpinan salah satu hotel bintang lima di Kalimantan. Bau parfumnya, wow… dasyat. Sepatunya mengkilat dan gaya bicaranya menunjukan bahwa ia memiliki intelektual. Apalagi, katanya, ia juga merangkap sebagai dosen.

Malam itu saya bertemu dia dalam sebuah perjamuan dengan pimpinan Polri. Karena di dalam undangannya dicantumkan harus mengenakan batik, mau tidak mau saya harus pinjam ke seorang teman. Kalau toh beli, buat apa, toh seumur-umur saya tidak suka batik. Rasanya mubadzir. Apalagi, undangan itu mendadak –datang ke meja saya tiga jam sebelum acara.

Bicara batik, saya teringat seorang sahabat saya di Jakarta. Namanya Uki M Kurdi. Sebulan lalu ketika pulang ke Jakarta, kami berdua datang di Gedung Mangggala Wana Bhakti, menghadiri resepsi pernikahan seorang rekan. Ketika melangkahkan kaki masuk ruangan, hampir semua undangan mengenakan batik.

“Pak Uki… kenapa sih setiap acara resepsi semua tamu undangan harus mengenakan batik? Apakah ada literatur atau sejarahnya?” tanyaku. Mendengar pertanyaan itu, Pak Uki tersenyum. Maklum, sahabat saya yang satu ini berasal dari Pekalongan. Dia tahu persis bagaimana sejarah batik di negeri ini. Setelah menjelaskan panjang lebar, dia memprediksikan bahwa ke depan trend mengenakan batik akan meningkat. “Coba lihat di mall, batik seakan-akan menjadi pakaian sehari-hari dan ke depan pasti akan menjadi pakaian yang tak lagi formil dalam sebuah perjamuan,” tuturnya.

Kembali ke acara perjamuan di sebuah hotel bintang lima, malam itu saya benar-benar gelisah. Bukan berarti takut dengan para jenderal, tetapi… kok rasa-rasanya saya menjadi kikuk saat mengenakan batik lenggan panjang. Saya amati satu persatu para tamu undangan. Tak ada satu pun di antara mereka yang grogi. Mereka happy-happy saja.

Atau jangan-jangan mereka sudah terbiasa? Ternyata asumsi saya itu benar. Ketika seorang pamen (kombes) –teman akrab– saya ajak ngobrol soal batik, dia menjelaskan bahwa pakain yang satu ini adalah pakaian ‘kebangsaan’. Ini pakaian formil bangsa Indonesia yang selalu dipakai dalam pertemuan resmi.

“Ingat enggak? Dulu ketika kita masih kecil, setiap kali diundang tetangga menghadiri acara selamatan, kemantenan atau acara apapun, kita kan diajarkan orang tua agar mengenakan pakaian batik. Nah, ini persoalan kebiasaan saja…” kata dia.

Aihhh… betul juga.. Dulu ketika saya masih kecil, seingat saya, orang tuaku selama bertahun-tahun hanya punya dua buah baju batik. Ia kerap mengenakan pakaian itu kalau menghadiri acara resepsi. Bagaimana dengan anak-anaknya? Tak ada satu pun anak-anaknya yang pernah mengenakan batik, setiap kali diajak menghadiri acara-acara penting, termasuk saya.

Ngomongin pakaian kebesaran –formil– saya teringat ketika harus duduk di pelaminan sekitar tahun 1992. Waktu itu tak ada acara resmi, memang tidak direncanakan. Tiba-tiba sahabat-sahabat saya mengirimkan tenda, alat-alat band, berikut pelaminan. Nah, lantaran tanpa persiapan alias tak direncanakan, maka tak ada woro-woro (undangan). Rencananya sih, acara itu khusus buat teman-teman komunitas saya saja tanpa mengundang tetangga.

Karena itu, istriku juga tak perlu ribet harus mengenakan pakaian pengantin, termasuk aku. Bahkan, ia berangkat sendiri ke salon, cukup mengenakan kebaya. Sedangkan saya sendiri mengenakan pakaian putih lengan panjang.

Nah, menjelang acara dimulai, seorang tetangga saya tiba-tiba mengajak saya masuk ke dalam kamarnya. “Ini tolong dipakai… ?” Hah… “Apaan?” “Rasanya tidak pantas kalau pengantinnya tidak mengenakan jas.” Wauw… “Saya enggak suka…!” “Enggak bisa.. pokoknya dipakai dan jangan bikin malu orang tua,” katanya.

Mau tidak mau jas itu akhirnya aku pakai juga. Ehmm… rasanya risih banget. Mengapa? Saya merasa mereka yang pantas mengenakan jas adalah orang-orang bule. Sedangkan saya ini adalah asli wong Jowo dan dari kecil tidak diajarkan soal pakaian-pakaian yang formil semacam itu karena memang orang tua saya tergolong fakir… (achmad subechi)

Leave a Reply