Ingat Jodoh Halifah Menangis..
Sunday, 31-8-2008 | 4:25 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
HALIFAH,35, masih terbaring di ranjang ruang Flamboyan 19 RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Tangan kanannya masih terinfus. Pakaian yang menempel di badannya masih seperti yang dikenakan ketika pertama kali masuk ke RSUD. Kaos putih dengan garis merah horizontal lengan panjang, dipadu kain menutupi kedua kakinya.
Sesekali Halifah menutupi mulutnya dengan tangan kanan. Entah apa maksudnya. Wanita kelahiran Penajam, 20 Juli 1973 mengaku lega karena dijenguk dua pejabat. Sebelumnya Wakil Bupati Penajam Paser Utara Mustaqim MZ datang sekitar pukul 12.00 Wita. Dua jam kemudian Penjabat Gubernur Kaltim Tarmizi Abdul Karim beserta istri Inayati Sa’aduddin, membezuknya. “Saya lega…terima kasih,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Matanya masih menerawang. Ia sempat menceritakan betapa pedih hatinya ketika harus hidup sebatangkara. Ketika itu usianya baru delapan tahun. Kedua orang tuanya, Kauteh dan Biah yang sehari-hari bekerja sebagai petani, meninggal dunia.
Karena tak ada biaya, Halifah terpaksa keluar dari sekolah. “Waktu itu saya masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar Negeri 005 Sotek,” tuturnya pelan sambil menahan tangis. Sehari-hari, wanita berambut lurus ini ikut kakak kandungnya,Yuli. Selama itu pula ia harus berkutat dengan benjolan-benjolan di sekujur tubuhnya. Ia bersyukur karena teman-teman di kampung tidak menghina bahkan mengucilkan dirinya. “Saya biasa saja dengan teman-teman, ya… main masak-masakan dan kejar-kejaran,” kisahnya. Lagi-lagi deritanya bertambah karena benjolan yang ada di kedua lengannya semakin membengkak seperti bola Tenis.
Tidak hanya itu, rasa pusing sering ia rasakan tanpa sebab. “Pusingnya itu kadang muncul kadang hilang,” katanya. Kalau sudah tidak kuat menahan pusing, kakaknya langsung membawanya ke Puskesmas Sotek. Puskemas itu seakan menjadi tumpuan Halifah selama menjalani rawat jalan.
Menginjak usia 27 tahun tepatnya tahun 2000, benjolan di kaki kirinya semakin mekar. Padahal benjolan itu awalnya sebesar biji jagung. Dari situlah, penderitaan Halifah mencapai puncaknya. Bahkan berat tumor yang mengggelayut di kakinya mencapai 30 Kg.
Sejak iitu ia tidak bisa lagi berjalan secara normal. Keceriaan hidupnya seakan tercerabut dari akarnya. Senyumnya sudah tak ada lagi. Sebaliknya, penderitaan fisik menderanya selama bertahun-tahun.Kalau pun dipaksakan untuk berjalan, ia terpaksa menyeret benjolan. Akibatnya, rasa sakitnya terasa di ubun-ubun, karena benjolannya menyentuh tanah. Bahkan, tak jarang darah menggalir. Bekas-bekas lecetnya itu sempat ia tunjukkan kepada Tribun. “Coba lihat, jadi hitam-hitam (bekas lukanya),” ujarnya sambil menunjuk ke arah benjolan tersebut.
Kalau sudah begitu, Halifah hanya pasrah berbaring di ranjang kamarnya. Makan dan minum dilayani Yulia bersama suaminya Nurdin atau Asri, anggota keluarganya. Kalau Yulia dan Asri bekerja, Halifah mau tidak mau menahan lapar menunggu kedatangan salah satu kerabatnya. “Biasanya saya sudah disiapkan makanan di kamar, tapi saya cepat lapar,” katanya.
Atas cobaan ini ia berusaha sabar dan tabah. Padahal, sebagai wanita normal, ia ingin berumah tangga. Keinginan itu muncul saat ia berusia 25 tahun. Waktu itu, ia berharap ada laki-laki menimangnya.
Menurutnya dengan memiliki suami, maka ia sudah pasti tidak akan merepotkan saudara-saudaranya. Tetapi lantaran kondisinya semakin terpuruk, maka asa itu sirna. “Siapa yang mau dengan saya?” ucapnya, sambil menundukkan kepala. Sesaat kemudian, matanya terlihat meleleh. Ada butiran bening yang keluar dari kelopak matanya, sebagai tanda rasa sedih.
Untuk menghilangkan kedukaan itu, Halifah berusaha menghibur diri. Ia mengalihkan pembicaraan. Katanya, sejak kecil hingga dewasa ia tak pernah berpergian. Paling jauh ia hanya berada di teras rumahnya. Ia menginjakan kaki di Kota Balikpapan karena kondisinya semakin memburuk dan harus dirujuk di RSKD. “Baru kali ini saya keluar kota dan tahu Balikpapan,” tuturnya sambil tertawa kecil.
Merasa capek bercerita, Halifah menghentikan pembicaraan. Tangan kanannya lalu meraih sebungkus coklat. Perlahan, coklat itu ia nikmati. “Saya makan dulu ya… Terima kasih atas bantuannya,” tuturnya sembari memegang tangan wartawan Tribun Kaltim. (ahmad bayasut)













