Tarmizi Doakan Halifah
Sunday, 31-8-2008 | 4:31 WIB | Komentar | Kategori: KONTEMPLASI, achmad subechi
BALIKPAPAN, TRIBUN -Derita Halifah (35), penderita penyakit tumor hingga melahirkan benjolan seberat 30 Kg di bagian kaki kirinya, mengundang rasa empati dari Penjabat Gubernur Kalimantan Timur, Tarmizi Abdul Karim dan isterinya Ny Inayati Sa’aduddin. Walau dalam keadaan lelah setelah melakukan kunjungan kerja ke Malinau, namun Tarmizi masih menyempatkan diri membezuk Halifah yang tengah dirawat di ruang Flamboyan 19 RSUD Kanujoso Djatiwibowo, Sabtu (30/8).
Tarmizi mengaku ia baru mengetahui kondisi Halifah setelah membaca Tribun Kaltim, satu-satunya koran yang mengangkat penderitaan Halifah (terbitan Sabtu, 30 Agustus dengan judul Benjolan 30 Kg Mendera Halifah) lengkap dengan fotonya.
Sejak berita itu diturunkan, sebagian masyarakat Kaltim ikut prihatin. Bahkan, telepon kantor redaksi Tribun Kaltim di Jalan Indrakilla, Balikpapan, sejak Sabtu (30/8) pagi tak henti-hentinya berdering. Para pembaca mengaku turut prihatin dan merasa trenyuh dengan penderitaan anak yatim piatu asal Kelurahan Sotek, Kecamatan Penajam, Kabupaten Paser Utara.
“Turun dari pesawat, saya langsung datang kemari untuk memberikan penghargaan kepada pihak rumah sakit dan dokter yang begitu cepat menanganinya tanpa harus menunggu instruksi dari saya,” kata Tarmizi kepada Tribun usai membezuk Halifah di RSUD Kanujoso Djatiwibowo. Ia berharap, dengan melihat penderitaan Halifah seperti itu dibutuhkan kepekaan sosial dari semua pihak, termasuk pihak rumah sakit, dokter, pemerintah dan pihak swasta.
Sedangkan Ny Inayati mengaku prihatin setelah melihat dari dekat bagaimana penderitaan yang dialami Halifah. “Sudah yatim piatu sakit begitu, tapi untungnya masih ada keluarga, itu yang patut kita syukuri. Dan alhamdulillah pihak rumah sakit dan wartawan peduli. Sehingga informasi yang diberikan kepada masyarakat sangat luar biasa,” ujarnya.
Inayati menceritakan, ia mengetahui kabar itu saat berada di Bandara Sepinggan, Balikpapan. “Setelah dari Malinau kita mendarat ke bandara kok ada berita seperti itu, akhirnya kita putuskan menjenguknya langsung,” katanya. Dalam kesempatan itu Inayati mengucapkan rasa terima kasihnya kepada wartawan.
Tarmizi tiba di RSUD Kanujoso Djatiwibowo sekitar pukul 14.47 Wita. Ia langsung menuju ruang Flamboyan 19. “Assalamualaikum…,” sapa Tarmizi, saat melangkahkan kaki masuk ke ruangan tempat Halifah dirawat. Melihat kondisi Halifah terlentang di ranjang, wajah Tarmizi mendadak berubah. Ia ikut merasakan kepedihan yang dialami Halifah.
Selanjutnya, lelaki itu geleng-geleng kepala. Dahinya mendadak ikut berkerut, tanda sedang berpikir. “Ya Allah…,” ucap Tarmizi, begitu kain yang menutupi benjolan besar di kaki kiri Halifah dibuka. Mata Tarmizi dan isterinya nyaris tak berkedip, menatap wanita berambut pendek. Dalam kesempatan itu Tarmizi sempat menanyakan kepada dokter apakah penyakit yang diderita Halifah itu katagorinya sama dengan Dede ‘manusia pohon’ asal Jawa Barat.
Dokter Sentot S Soenardi SpB K-ONK sempat memberikan penjelasan kepada Tarmizi bahwa penyakit Halifah tidak sama dengan Dede. “Tidak sama Pak, ini tumor yang terjadi akibat kelainan dari syarafnya,” katanya didampingi Direktur RSKD, Syafak Hanung dan sejumlah dokter lainnya.
Kedatangan Tarmizi seakan membuka harapan bagi keluarga Halifah. Yuli, kakak kandung Halifah menceritakan kalau adiknya sudah lama menderita penyakit tersebut. “Sejak bayi dia (Halifah) sudah kena penyakit ini, kita tidak punya biaya untuk berobat,” kata Yuli. Sementara Halifah hanya terdiam dan mengiyakan apa yang diceritakan kakaknya.
Tarmizi juga menanyakan status Halifah di dalam keluarga. Ternyata Halifah tidak memiliki suami. “Tidak ada suami, ia ikut saya ketika orang tua kami meninggal dunia,” jawab Yuli yang duduk di kursi samping kiri ranjang adiknya.
Merasa prihatin, Inayati mendekati dan memegang tangan Halifah yang penuh dengan benjolan. “Sabar ya…,” kata Inayati pelan. Kemudian Inayati menyelipkan amplop warna putih di bawah bantal Halifah.
Sebelum mengakhiri bezuknya, Tarmizi menyempatkan diri untuk berdoa agar Halifah kembali sembuh. “Semoga selama proses pengobatan dimudahkan oleh Allah dan operasinya lancar. Keluarganya yang diberi cobaan tetap tabah dan sabar,” ucapnya diamini seluruh rombongan gubernur. Sebelum pamit, Tarmizi juga mendatangi pasien-pasien lain yang berada di ruangan tersebut.
Derita Halifah membuat masyarakat bahu-membahu melakukan penggalangan dana. Seperti dilakukan kader-kader PKS, terdiri dari ibu-ibu. Mereka menggelar acara pengumpulan dana peduli buat Halifah.”Kalau tidak salah, Halifah dari keluarga yang kurang mampu. Ia orang yang berhak dibantu dana dan pengobatan sampai sembuh. Tidak hanya ini saja, diharapkan masyarakat Balikpapan lainnya turut membantu dengan cara yang sama,” kata Susanto, warga Kelurahan Gunung Bahagia.
Susanto mengetahui penderitaan Halifah setelah membaca Tribun Kaltim. Ia mengaku terharu dengan kesabaran Halifah dalam menahan penderitan selama bertahun-tahun. “Semoga Halifah tetap tabah dan sabar melewati masa sulit seperti ini. Penyakit yang diderita Halifah merupakan cobaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa,” katanya.
Ungkapan keprihatinan juga datang dari Irwan, seorang darmawan yang kemarin ikut menyumbang. Beberapa warga yang sedang berolahraga di Lapangan Merdeka, tidak segan-segan mengeluarkan uang dari dalam dompet. Menggunakan kotak kardus sederhana, uang receh dan lipatan puluhan ribu rupiah, mendadak terkumpul dalam hitungan menit.
Ketua DPD PKS Balikpapan, Syukri Wahid bersama kader PKS lainya berencana menjenguk Halifah sambil menyerahkan bantuan yang digalang dari masyarkat umum. “Dana yang terkumpul Sabtu kemarin (30/8) berjumlah sekitar Rp 1,5 Juta. Jumlah uang tersebut akan bertambah seiring rencana kita untuk membuka penggalangan dana di waktu dan tempat yang lain. Bila telah mencukupi dan sudah besar jumlahnya, nanti akan kita serahkan kepada penderita,” kata Syukri. (bay/m20)














