Wawancara dengan Mantan ‘Asisten’ Ibunda Obama (3-habis)
Tuesday, 2-9-2008 | 18:39 WIB | Komentar | Kategori: achmad subechi, wanita
I MADE Suarjana pernah datang ke Hawaii, memenuhi undangan dari University of Hawaii di Manoa. Ia sempat diundang makan malam oleh kakek dan nenek Barack Obama bersama Prof Dr Selo Sumarjan. Bagaimana ceritanya sehingga Made diminta membuat soto? Berikut penuturannya.
BU Ann Dunham, sedikit banyak telah berperan terhadap kemajuan kaum perempuan di Indonesia. Mungkin di permukaan, ia memang tidak tampak karena menyadari dan memahami bahwa statusnya adalah warga negara asing.
Ketika di Indonesia, Bu Ann pernah diundang beberapa kali memberikan kuliah umum di antropologi Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gajah Mada. Relasinya sangat luas di kalangan intelektual di Indonesia, khususnya perempuan.
Di mata saya, Bu Ann ini benar-benar cinta Indonesia. Suatu hari ia pernah mengatakan, Indonesia itu kaya raya akan kekayaan alamnya, seni dan budayanya. Karena itu pula ia sangat mencintai budaya Indonesia. Wajar saja setiap kali kemana-mana ia selalu memakai batik.
Batik seakan tak pernah lepas dari dirinya. Nah itulah kesalahan saya, kenapa saya tidak pernah bertanya kepada beliau soal itu. Dan selama di Indonesia, ia juga dekat dengan Iwan Tirta, karena batiknya. Beliau itu kalau membeli sesuatu, ingin tahu orangnya kayak apa.
Bu Ann itu adalah tipe wanita Indonesia. Kalau sudah kenal orang, beliau anggap sebagai keluarganya sendiri. Jangankan kita, dengan sopirnya, dengan pembantu rumah tangganya, dia sangat peduli. Ketika dari luar negeri, saya pernah ditanya mau oleh-oleh apa. Saya bilang enggak usah. Tapi beliau kemudian bilang, “Ini saya membeli jam tangan untuk sopir saya.”
Artinya apa? Dia ingat kepada temannya. Itu yang membuat saya sangat terkesan kepada beliau. Dan saya kira semua orang yang kenal Bu Ann mempunyai kesan yang sama. Perhatian beliau kepada rekan-rekannya sangat besar. Orangnyan rendah hati, sopan, pintar dan cerdas. Dan saya tidak kaget kalau misalnya Barack Obama cerdas. Sebab, ibu dan ayahnya orang pintar. Keluarganya lebih mengutamakan intelektualitas. Jadi kalau sekarang tampilan Obama sederhana, saya kira itu kultur yang dibangun keluarganya.
Kecintaan Ann Dunham terhadap Indonesia, pernah ia sampaikan ke saya. Ketika itu setengah bercanda ia bilang, jika meninggal ia minta dikremasi dan abunya dibuang ke laut. Mengapa? Supaya abunya bisa sampai ke laut Indonesia. Saya kira, beliau ingin menunjukan bahwa kecintaannya terhadap Indonesia sangat tinggi.
Dan bukan hanya Indonesia. Rata-rata dimana beliau pernah tinggal, rasa cintanya terhadap negara ini sangat tinggi. Beliau ini kan tipenya menghargai orang dan alam. Jadi dimanapun beliau pernah bertugas, pasti beliau cinta kepada lingkungannya.
***
SUATU hari, saya pernah diminta Bu Ann untuk melakukan penelitian di Pasar Seni Sukowati. Waktu itu Bu Ann melihat bahwa Pasar Seni Sukowati itu kan sebagian besar pedagangnya perempuan. Disamping itu barang dagangan yang dijual di setiap kios hampir sama. Sebagai seorang atropolog ekonomi, ia melihat bagaimana hubungan antarpedagang di pasar itu yang sama sekali tidak mengenal saingan, apalagi saling menjatuhkan antara satu dengan lainnya.
Kalau misalnya, seorang pembeli datang ke kios A menanyakan payung tradisional Bali warna merah dan di kios A tidak ada, maka sang penjaga kios tidak mengatakan tidak ada. “Sebentar ya…” Pedagang itu lalu mencari ke kios B. “Punya payung merah enggak ukuran sekian. Ini ada tamu.”
Sang penjaga kios B, akan melayani permintaan pedagang kios A. Nanti kalau dagangan itu dibeli, maka biasanya si penjaga kios A bilang, “Kasih dong Rp 1.000 atau Rp 2.000.” Nah, sikap pedagang wanita di Pasar seni Sukowati inilah yang membuat beliau terkesan. Dan kebetulan ibu saya kan punya kios kecil di Sukowati dan Bu Ann duduk di sana mengamati perilaku para pedagang. “Kenapa kehidupan di Sukowati seperti itu?” Kata Bu Ann, itulah model-model ekonomi pedesaan.
“Made kalau anda mau melanjutkan kuliah, anda sudah dapat tesis… Tesisnya ya tentang pedagang di Pasar Seni Sukowati. Tapi ketika itu saya hanya ketawa saja dan saya bilang nanti akan saya tulis di majalah saya.”
Ketika menjadi wartawan Tempo di Yogjakarta, saya pernah meliput wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono. Saya punya banyak file dan bertemu dengan Prof Selo Sumarjan. Kemudian tiba-tiba University of Hawaii di Mano, mengundang Pak Selo Sumarjan dan saya untuk ke Hawaii. Kebetulan waktu itu saya mempunyai lembaga di Yogjakarta, namanya LP3Y. Karena terkait dengan program peningkatan pengajar jurnalistik, saya lalu diminta ikut kesana. Dan kebetulan ketika itu Bu Ann sudah ada di sana.
Nah… saat di Hawaii, kami sempat diundang ke apartemen neneknya Barack Obama untuk makan malam. Di tempat itulah saya diminta membuat soto. Saya lalu berangkat ke toko yang menjual bumbu dalam kemasan. Kemudian di apartemen itu saya bikinkan mereka soto.
Waktu itu Bu Ann bilang, saya rindu makan soto. Orangtuanya juga seneng. Kesan saya terhadap kedua orang tua Bu Ann, mereka orang baik dan sangat ramah serta sederhana. Mereka sangat erat hubungannya. Realitas ini sangat berbeda dengan gambaran yang kita tonton di televisi. Mereka kayak keluarga di Indonesia, ada relasi antara suami-istri dan anak-anaknya. Mereka sangat akrab.
Suatu ketika saya diajak rekreasi keliling Hawaii oleh kedua orang tuanya, dan sepanjang perjalanan di dalam mobil, ayah dan ibunya nyanyi bersama sambil bertepuk tangan. Bapaknya nyopir dan di sampingnya ada istrinya. Mereka cerita soal masa kecil Bu Ann, setiap kali melewati tempat yang pernah dikunjunginya.
Apartemennya terletak di tengah kota dan sangat sederhana dan bukan apartemen mewah. Tapi tidak begitu jelek. Katanya, apartemen itu adalah apartemen biasa karena bukan di tepi pantai. Sedangkan apartemen paling mahal ada di tepi pantai.
Sebenarnya kalau anda (Tribun) tidak memaksa saya, saya juga tidak mau bercerita. Saya cuman ikut senang Barack tercapai cita-citanya untuk membangun AS lebih baik. Kita berharap kalau Barack memimpin AS, kebijakan yang diambil lebih friendly dan lebih bersahabat dengan negara-negara lain, termasuk Indonesia. (achmad subechi)














