Jejak Langkah Capres Barack Obama (4)
Saturday, 6-9-2008 | 16:51 WIB | Komentar | Kategori: achmad subechi
Hobi Main Gundu dan Bola Sepak
KAWASAN elit Menteng Dalam, Jakarta, menjadi saksi sejarah tempat penempaan calon intelektual yang kini bakal menjadi calon Presiden Amerika Serikat (AS). Tanggal 1 Januari 1968. Saat itu usianya sudah menginjak tujuh tahun. Obama kemudian disekolahkan kedua orangtuanya ke Sekolah Dasar (SD) Fransiskus Asisi, Menteng Dalam, Jakarta.
Ketika itu Barack Obama kecil menggunakan nama Barry Soetoro (Hal ini berdasarkan dokumen yang ditemukan). Bocah itu terlahir di Honolulu, 4 Agustus 1961. Dalam rapornya, Barry masuk ke sekolah tersebut dengan nomor urut 203, lengkap dengan status kewarganegaraannya (Indonesia) dan agamanya (Islam).
“Saya mengenalnya bernama Barry. Tapi, suatu saat saya pernah melihat dia menulis di dinding rumah dengan tulisan Obama. Oh… ternyata nama aslinya Barack Obama,” kenang Irma Dewi Sukanti, tetangga Obama sewaktu tinggal di Jalan H Ramli. Rumah Irma berdampingan dengan rumah Obama.
Sekolah Katolik tempat Barry mencari ilmu, berdiri 1967. Setahun kemudian, Barry tercatat sebagai salah satu siswanya. Saat itu sekolah sekolah tersebut hanya memiliki dua ruangan kelas. Bahkan, alasnya pun masih pasir dan atap sekolahnya tanpa eternit. Barry duduk di kelas 1 B.
“Di kalangan Katolik sekolah ini masuk tingkat C. Sejak dari dahulu sampai sekarang, sekolah ini biasanya untuk kalangan menegah ke atas,” kata Maryadi, 63, seorang guru yang mengajar di sekolah itu sejak tahun 1970. Kini sekolah tersebut sudah berkembang menjadi besar –i TK, SD, SMP, SMU, dan SMK.
Tiga tahun setelah meraih ilmu di sekolah itu –sekitar tahun 1970 an- Obama dipindahkan orang tuanya ke SD Percobaan 04 Besuki, Menteng, Jakarta Pusat. Bersamaan dengan itu, kedua orang tua Obama juga pindah rumah ke kawasan Jalan Dempo, Matraman, Jakarta.
Layaknya bocah cilik lainnya, Obama punya banyak teman sepermainan saat tinggal di Jalan Dempo, kawasan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Ia dikenal sebagai bocah yang supel dalam bergaul. Kadang, Obama kerap main gundu dan sepakbola bersama teman-teman kampungnya.
Walau supel dalam bergaul, Obama kecil paling tidak suka melihat rekan sepermainannya berbuat curang. Jika ada yang berbuat tidak baik atau tak jujur, ia tak segan-segan meminta temannya pergi menjauhinya. “Kami senang bermain kelereng di lapangan yang kotor. Kita sama sekali tidak dapat mencurangi dia (Obama). Dia tidak pernah ragu untuk mempertahankan haknya. Kami pernah mencoba berbuat curang, tapi dia selalu mengetahuinya. Dia dulu mengatakan, kamu curang…! Kamu curang…!” kenang Zulfan Adi (47), teman dekatnya.
Seperni anak-anak kampung lainnya, sesekali Obama kecil pergi bersama rekan-rekannya ke mushala untuk menjalankan ibadah. “Kita dulu sering mengajak dia ke mushala dekat rumahnya. Kalau pakai sarung, lucu deh…,” kenang Rony Amir, teman sepermainan Obama di Jalan H Ramli.
Sebenarnya, tanpa memakai sarung, Obama juga kelihatan lucu. Selain berbadan cukup gemuk dan tinggi, rambut Obama terlihat ikal dan hitam. Bahkan, Ronny kerap ketawa begitu menginggat wajah Obama kecil. “Lucu pokoknya. Yang membedakan dengan kita, saat itu badannya tinggi besar,” kenang Rony, pria yang kini bekerja di Bank Mandiri. (Achmad Subechi/Domuara Ambarita/dikutip dari buku Janji-janji Obama)













