Eksperimen di Bulan Ramadhan

Sunday, 7-9-2008 | 13:52 WIB | 1 Komentar | Kategori: achmad subechi

“POSISI dimana?” “Lagi di jalan Pak.” kata M Yamin, anak asuhku yang kini menjadi wartawan Tribun Kaltim. “Mau buka di rumah kontrakan atau dimana?” “Siap… saya meluncuur…” “Okey saya tunggu…” Sebelum Yamin datang, kulihat isi almari kulkas. Ehmmm lumayan… ada beberapa telor ayam, empat potong ikan pe (terbang) yang sudah dibakar, sayur-mayur, metimun dan lain-lain. Pokoknya lengkap dah.

Ikan bakar itu dua hari lalu saya beli bersama Rudy –redaktur Kota Tribun Kaltim. Kami berdua sempat belanja di Pasar Bugis, Balikpapan, sebagai stok makan sahur dan buka puasa. Ada tahu, tempe, sayur nangka, lalu pakis, minyak goreng, bumbu dapur dan lain-lain. Nah, ketika hendak memasukan semua bahan makanan ke dalam mobil, Rudy tiba-tiba nyeletuk. “Wah… sayur nangka plus sayur pakisnya ini semakin mantap bos kalau ditambah ikan bakar pe.” “Mana?” “Ini bos… jangan beli banyak-banyak.”

Ikan pe yang sudah dibakar itu kelihatan menggiurkan. Masih segar dan aromanya mantap. Kubelli empat tusuk. Harga satu tusuknya Rp 4000. Lumayan murah dibanding di Jakarta.. Tapi, jangan kaget kalau harga bumbu dapur di Balikpapan. Selangit bo…. terutama cabe, tomat, kemangi, dan lain-lain.

Sampai di rumah kontrakan, semuanya kami olah bersama-sama. Rudy, rupanya trampil juga memasak. Kelapa parut, santannya ia peras. sayur-sayur ia cuci. Sementara saya menyiapkan bumbu lodehnya.. “Nih… gue sedang menyiapkan bumbu masakan Padang,” kataku.

Bawang merah, bawang putih, cabe besar merah, merica, ketumbar dan garam, semuanya aku blender jadi satu, ditambah dua jari kunyit. Sedangkan laos, jahe, daun jeruk, daun salam dan apa lagi ya… oh… daun serai, sengaja aku pisahkan.

Setelah semua bumbu sudah siap, Rudy menjarangkan sayur nangka bercampur santan di atas kompor. “Biar lunak bos kalau dimakan.” “Eitt…. jangan dulu bos. Coba santennya dipisahkan lebih dahulu. Nah, setelah itu begini caranya…” kataku.

Sebagian bumbbu dapur yang sudah diblender,, saya masukan ke dalam sayur nangka. Sisanya ke sayur pakis. Hari itu, ada dua sayur lodeh yang sengaja saya siapkan. Setelah kedua panci dijarangkan di atas kompor selama 15 menit, santan baru kami masukan berikut empon-empon (daun salam, daun jeruk, jahe, laos, jeruk purut dan daun serai.

“Wow… baunya mantap bos. Kalau begitu aku iris ikan pe ini kecil-kecil lalu kita masukan ke dalam sayur. Mungkin tambah mantap bos..” “Okey… silakan bereksperimen…” tuturku.
Menjelang Magrib, semuanya sudah beres. Begitu juga nasi, berikut cincau hitam dan es batu.

Sirine mulai terdengar. Yamin, Rudy dan saya melahapnya. “Wah… lama-lama kita bisa membuat usaha restoran di Balikpapan nih..” celetuk mereka. “Hus… jangan banyak ide… Tuh tetangga sebelah kau ambilkan sayur lalu berikan ke mereka. Kata Rasulullah, kalau masak berkuah… berilah kuah yang banyak lalu sebagian engkau berikan ke tetanggamu.”
Yamin, lalu membawa dua buah piring berikut sayurnya. Tetangga pun akhirnya ikut mencicipi masakannya wong lanang.
***
DINI hari selepas pulang dari kantor, saya hanya berdua bersama Ferry, wartawan Tribun Kaltim lainnya di rumah kontrakan. Sambil buka internet, Ferry cerita ngalor-ngidul, tentang apa saja. “Bos… gimana kalau bikin kopi?” “Boleh juga… Tapi, saya mau eksperimen. Caranya bagaimana? Kamu rebus dulu air di atas wajan, setelah mendidih baru masukan empat atau lima sendok kopi. Biarkan sampai mendidih dan berbusa. Kemudian di kulkas kan ada kayu manis… Tumbukk dulu sampai halus, trus taburkan di atas kopi yang sudah kamu sajikan di dalam gelas,” kataku.

Lima belas menit kemudian, kopi sudah siap diminum. Ferry lebih dulu mencobanya. “Wah mantap bos rasanya.. Ini resep darimana?” Saya hanya senyam-senyum. Setelah itu saya juga ikutan meminumnya.. “Sayang nih Fer… kopinya kurang banyak. Jadi kesannya encer.”

Beberapa menit setelah minum kopi, Ferry terlihat tidur-tiduran di lantai dengan tubuh penuh keringat. Saya juga begitu. Rasanya jantung dag.. dig.. dug… “Ferrr gila nih, kopinya keras banget.  Jantung gue berdetak keras.” Ferry ketawa ngakak. Ia juga mengalami hal yang sama. “Saya sampai berkeringat bos… Enak sih enak, tapi rasanya kok begini ya efeknya.”
***
MINGGU sore Yamin, sudah tiba dari lapangan. Ia memanasi sayur nangka dan pakis. Saya sendiri menyiapkan minuman buat buka. Cuman, kagak ada apa-apa. Cincau sisa kemarin masih tersimpan di kulkas. “Ah.. jangan diminum. Biarkan aja. Coba cari di kulkas apa ada mentimun?”

Yamin lalu membuat dua buah mentimun. Keduanya saya kerok dan saya masukan ke dalam panci. Saya ambil dua batang serei yang sudah dihancurkan. Setelah itu diberi air putih secukupnya plus gula putih dan sedikit garam. Lalu kuaduk-aduk.

Adzan mulai terdengar. Yamin sempat tanya, “Nih minuman apa?” katanya sambil ketawa sedikit meragukan eksperimen yang saya lakukan. “Coba saja.. Di Balikpapan minuman kayak begini tidak ada.”

Selanjutnya, Yamin mengambil gelas. Dituangkankan minuman hasil eksperimen. “Ehmm… rasanya menyegarkan sampai gimana ya… Enak bos…” Saya senyum-senyum, lalu ikutan meminumnya. Rasanya memang dasyat…. Modal sedikit, tapi bisa menepiskan rasa dahaga selama seharian. Esok mau erksperimen apalagi ya? Entar malam baru cari inspirasi nih. (achmad subechi)

Comments (1)

 

  1. nothing says:

    wah mantep buko poso ne…

Leave a Reply