Deritamu adalah Derita Kita
Tuesday, 16-9-2008 | 2:53 WIB | 1 Komentar | Kategori: Gagasan, KONTEMPLASI, achmad subechi, renungan
SERINGKALI aku merasa jengah dan sungkan. Bicara tentang saudara kita yang terhimpit derita kemiskinan. Sebab sesungguhnya mereka mungkin, lebih terhormat di mata alam. Sebab sesungguhnya mereka mungkin, lebih berharga di mata Tuhan…. Kadangkala aku bahkan merasa cemburu melihat senyum polos dan lepas, meski sambil menahan kelaparan.Maka sesungguhnya mereka lebih kaya, meskipun tanpa harta. Maka sesungguhnya mereka lebih bahagia dapat mensyukuri yang dimiliki…
UANG zakat itu masih dalam genggaman tangan mereka. Seperiuk nasi dan seikat sayur serta sepotong tempe, sudah ada di dalam benaknya. Semuanya merindukan uang zakat antara Rp 30.000-40.000. Antre pun tak apalah. Semuanya demi sesuap nasi dan sekedar menghentikan tangisan sang anak.
Suara bedug terdengar di pagi buta. Fatimah bersama lima tetangganya, melangkahkan kaki menuju ke Pasuruan. Ia mendengar kabar ada orang kaya mau bagi-bagi zakat. “Saya bayar ongkos bus Rp 10 ribu PP. Lumayan ada sisa Rp 20 ribu,” jelas Fatimah, warga Probolinggo. Kali ini rumah H Syaikon, warga RT III/ RW IV Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, menjadi tumpuan harapan.
Astaga…! Ribuan orang sudah antre berjubel. Fatimah tak mau ketinggalan. Ia rela berpanas-panas, demi sesuap nasi. Satu persatu kaum papa mendapatkan amplop. Ketika mereka hendak balik, arus masuk semakin padat. Semuanya kaum papa. ‘Tabrakan’ di gang sempit mirip tragedi Mina, terjadi. Bocah-bocah menangis, menjerit sekuat tenaga, terhimpit tak bisa bernafas di depan pagar besi pintu rumah. Para orang tua, pasrah. Tubuh mereka terombang-ambing, kadangkali naik turun ke atas akibat tekanan kanan-kiri.
Nafas mereka satu persatu mulai raib. Dalam hitungan detik, mereka (21 wanita) kembali menghadap Sang Khalik. Kematian sudah ada garisnya (ketetapan). Tragedi Pasuruan, menjadi potret kemiskinan di negeri ini. Sampai kapan? Berjuang hidup, memperpanjang usia adalah pilihan terakhir bagi mereka. Lebih baik menjadi kaum fakir dan miskin, dibanding menggadaikan kebenaran dan kejujuran. Mereka mungkin lebih terhormat di mata alam… (achmad subechi)
Comments (1)















Saya pernah kelaparan, dan tentu mas bec juga pernah kelaparan. Nah, bagaimana naluri dan insting kita dalam keadaan demikian…? bagaimanapun manusia tidak akan diam dirinya mati kelaparan, dia akan berbuat sesuatu untuk bertahan hidup, meskipun sesuatu itu nihil hingga menemui ajal.
Trims kontemplasinya mas…SALAM