Memetik Kunci Sukses HM Jos Soetomo (5-habis)

Thursday, 18-9-2008 | 5:23 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

TAK ada pesta yang tak akan usai. Semuanya akan berakhir, ketika waktunya telah tiba. Sebelum pesta berakhir, eling (ingat kepada Tuhan) dan berbuat sesuatu (beramal) kepada manusia menjadi cara agar tubuh dan jiwa tetap bercahaya. Eling harus diimplementasikan dengan langkah-langkah nyata, terutama dalam bersedekah. Apa konsepsi-konsepsi yang dibangun HM Jos Soetomo terkait dengan sedekah? Berikut penuturannya:

MELAKUKAN sedekah membuat harta berkurang? Perasaan-perasaan seperti itu sudah saatnya harus dilawan. Kenapa? “Saya pasti mati… pasti bangkrut. Cuman, Ya Allah tolong bangkrutkan keluarga saya bukan melati dan rose, mudah-mudahan angrek.” Angrek itu kan baru mati tiga bulan. Usianya agak lama. Percayalah, semua kerajaan manusia pasti akan habis. Tapi kalau bisa, sejarahnya jangan rose dan melati. Ingat, sepintar-pintarnya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.

Manusia yang takut meninggal dunia, justru tidak sesuai dengan semangat awal untuk apa kita minta agar diturunkan ke dunia. “Ibaratnya cahaya lampu di ruangan ini berasal dari tuhan, maka kita cari cetekannya dimana?” Bagaimana bisa menemukan tombol-tombol lampu? “Hormati orang tua, ingat orang miskin dan sembayang. Tanpa kebaikan Tuhan, saya tidak akan seperti sekarang ini. Untuk itu temukan kunci atau tombol-tombolnya. Sekuat-kuat kalian mencari uang, sekuat-kuat itupula kamu beramal. Tidak semua orang bisa menjadi pilar. Tetapi jadikanlah dirimu pilar yang bisa memberikan harapan. Tombol ini kalau bisa menular ke semua manusia, insya Allah sukses. Kalau Jos Soetomo sendiri sukses, itu namanya tidak bisa dikatakan sukses. Tapi bismillah… Pak Tomo sekuat-kuat cari uang, sekuat-kuat beramal, ia menjadi pohon beringin yang orang lain bisa bernaung di bawahnya ketika hujan telah tiba. Itulah fastabiqul khairaat. Kita harus sukses.” Alam semesta ini adalah ayat dari Tuhan. Tinggal bagaimana bisa memahaminya dan mengimplementasikannya. Begitu juga rasa hormat kita kepada orang tua dan mertua…

Jangan ingin sukses lalu memanggil ahli nujum, atau buka fengsui. Kuncinya adalah iqro (membaca). Pengusaha adalah manusia yang banyak ‘ular’-nya. Tetapi selama kita mampu mengontrol cacing dalam tubuh, maka selamat dan akan menjadi rachmat. Kecil-kecil berlian, besar-besar batu. Buat apa milih besar-besar.

Nasihat saya kepada para generasi muda, jangan sekali-kali menghina orangtua. Kalau kalian menghina orang tua, maka bahaya yang akan datang. Mengecilkan orang, bala akan datang dan mengampuni orang percayalah rezeki akan datang. “Sekarang anak-anak ini menghinakan kami yang tua-tua. Sementara orang tua merasa tidak yakin dan cenderung meremehkan anak-anak. Untuk itu semua komponenen bangsa harus bersatu.”

Untuk itu para orangtua jangan segan-segan memberikan pengertian kepada anak-anaknya. Pelajaran menyangkut pengertiani itu sangat penting. “Coba beri mereka berlian… Kalau enggak ngerti pasti dimakan. Bagaimana bisa memahaminya wong tidak mengerti? Makanya kalau orang Jawa, selalu menanamkan ajaran-ajaran ari nenek moyangnya. Misalnya, kamu harus ngerti. Ngerti sama orang tua, ngerti terhadap negara, ngerti sama orang lain.Ngerti itu bukan berarti harus pinter lho. Orang pintar, nanti minterin wong. Jadi kalau saya ngomong kamu pintar, itu berarti penghinaan. Aduh si Fulan itu pintar, cerdik. Makanya, anak kita selalu kita katakan, mudah-mudahan kamu ngerti ya. Dia kan pintar, bisa mengambil hati orang pintar…. Pokoknya saya bodoh, tapi enggak mau dikibulin. Ada juga orang bodoh, tapi mau dikibulin.””

***

SEMANGAT nasionalisme Jos Soetomo begitu tinggi. Ia cinta terhadap negeri ini. Berikut pandangan dia terhadap Indonesia:

Zaman Bung Karno adalah analog. Zaman SBY adalah digital. Tolong… tolong jangan suka analog. Dia sudah menanamkan pondasi. Coba, ketika kita mau perang dengan Malaysia, semua orang cap jempol darah ingin mati. Apa bukan negarawan? Apa mereka bukan cinta negara? Indonesia sekarang sudah digital. Coba siapa berani jajah Indonesia sekarang? Tolong jangan hina Indonesia.

Cinta negara itu langsung konkrit. Prakteknya, ketika anda cinta terhadap karyawan, terhadap lingkungan, itu sudah bisa dikatakan negarawan. Bagaimana enggak cinta Indonesia, karena anda selalu dihina setiap kali berangkat ke negara orang lain.

Untuk melihat figur negarawan, coba lihat para pedagang daging di pasar. Dia jual daging sapi selama 20 tahun. Itu negarawan baik. Begitu juga semangat tukang becak untuk tetap hidup. Saya kasihan melihat mereka. Dia selalu dihina terus. Mestinya oorang-orang seperti ini yang dikasih bintang karena dia mencintai Indonesia. Mustahil kalian sayang terhadap negeri ini kalau mereka-mereka setiap tanggal 17 Agustus, tidak mendapat penghargaan dari negara. Coba lihat kalau ada apa-apa di negeri ini, pasti mereka yang maju membela negeri ini dari penjajah.

Terakhir saya berpesan, delapan triliun kali delapan triliun kali nol sama dengan nol. Lebih baik nol tambah satu sama dengan satu. Kalau kita berbuat jelek itu karena jembatan. Kita berbuat over acting itu juga karena jembatan, bukan jalanan empuk. Insya Allah jadi sejarah….. (achmad subechi/bintoro/perdata ginting)

Leave a Reply