Memaknai Perjalanan Panjang Tarmizi Abdul Karim (1)

Friday, 19-9-2008 | 14:59 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

AWALNYA bocah itu bercita-cita cukup mulia. Ia ingin menjadi seorang dokter. Sejak kecil, ada kerinduan menebar manfaat dan kebaikan buat orang lain. Namun apa daya, keluarganya yang berasal dari petani dan pedagang kecil, tak memiliki pijakan ekonomi mewujudkan impian sang anak. Adalah Tarmizi Abdul Karim. Jabatannya Pj Gubernur Kalimantan Timur. Bagaimana kisahnya?

SHALAT subuh berjamaah, terasa begitu khidmat. Mengenakan peci hitam, pakaian muslim putih bersih, dan sarung berwarna merah tua. Lelaki itu terlihat memimpin beberapa jamaah di Masjid Lamin Etam, Samarinda, Kalimantan Timur. Suaranya amat lantang dan merdu saat membacakan bagian akhir surat Al-Hasyr –mengandung pesan perintah Allah bagi setiap insan untuk merencanakan masa depannya sebaik-baiknya. Subuh itu serasa bukan suara sang gubernur yang mengalun, melainkan seorang hamba Allah yang selalu tunduk dan patuh terhadap Sang Khalik. 

“Di setiap langkah kehidupan, pasti ada yang berguna bagi orang lain. Jadilah uswatun hasanah. Hal itu jauh lebih berharga dari kekayaan materi,” katanya kepada Tribun. Itulah, secuil kata-kata mutiara sarat dengan makna yang keluar dari bibir Tarmizi. Kata-kata mutiara itu menjadi isnpirasinya dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Benarkah kata-kata mutiara itu bisa menjadi acuannya agar bisa menemukan makna kehidupan? Tarmizi, terdiam sejenak. Ia lalu menerawang ke belakang.

Saat masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar (SD), Tarmizi, sempat larut dalam kebimbangan dan pengalaman traumatis. Lingkungan pergaulannya banyak yang tak tuntas melanjutkan pendidikan. Masa-masa kelas dua adalah masa yang amat rentan, karena saat itu kebutuhan orangtua terhadap jasa anakya begitu besar. “Ekonomi keluarga kami tak cukup solid untuk mengayuh biduk di dunia edukasi. Di Aceh Utara, para bocah lebih banyak dibutuhkan membantu orangtuanya bertani,” kenang Tarmizi.

“Waktu itu seorang kerabat ayah terus mendorong saya. Beliau mengatakan bahwa hidup kian keras dan selalu membutuhkan topangan ilmu. Beliau lalu melakukan pendekatan kepada orangtua saya. Alhamdulillah, saya pun bisa melanjutkan pendidikan,” kenang Tarmizi yang mengaku terus bersekolah sembari sibuk membantu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.

“Kesulitan saya di masa kecil inilah yang membuat saya begitu peduli pada pengembangan pendidikan. Betapa banyak anak-anak yang memiliki potensi besar, namun harus terganjal cita-citanya lantaran ketidakmampuan ekonomi,” ujarnya.

Karena itu, ia berusaha semaksimal mungkin memberikan perhatian ekstra kepada dunia pendidikan, ketika ia mendapatkan amanah duduk di kursi pemerintahanan.“Saya selalu memberikan perhatian ekstra kepada dunia pendidikan.”

Jarum jam terus bergerak seiring dengan kariernya sebagai seorang birokrat. Nasib Tarmizi, semakin membaik. Di kemudian hari ia telah membangun banyak sekolah, mendirikan universitas negeri dan menjadi ketua yayasan sebuah pesantren.

Lanjut cerita, Tarmizi menghabiskan hari-harinya dengan kesibukan yang sama. Sekolah, belajar agama, dan membantu orang tua. “Setiap malam kami selalu belajar Al-Quran. Kami pun selalu dibimbing ulama, mulai dari level Sekolah Rakyat Islam, madrasah ibtida’iyah, tsanawiyah, dan jenjang selanjutnya.”

Ketika menginjak masa SMA, ia memutuskan menimba lmu di Ibu Kota Provinsi Banda Aceh. “Waktu itu saya memilih kelompok yang sejalan. Saya aktif dalam Ikatan Siswa Kader Da’wah (Iskada). Saya pun terus belajar Islam secara otodidak,” kenangnya.

Selama SMA, Tarmizi muda selalu menyimpan cita-cita besar untuk menjadi dokter. Dengan profesi itu, ia membayangkan bakal bisa berbuat banyak kepada manusia lain. Sayangnya, cita-cita luhur itu terganjal oleh kondisi ekonomi keluarganya. Apalagi untuk menjadi dokter, ia harus menuntut ilmu di luar Aceh. Ketiadaan biaya membuatnya mengubah haluan demo masa depan yang lebih baik. Dengan segala kesungguhan di tengan keterbatasan, Tarmizi lalu memilih kuliah di jurusan pertanian, Universitas Syah Kuala.

Di tengah masa kuliah, himpitan ekonomi menjepitnya. “Waktu itu, saya sempat menjalani kehidupan yang mandeg. Sepertinya jalan telah tertutup. Begitu sulit rasanya. Saya pun menyelsaikannya dengan penyerahan diri secara utuh… kaffah…” ujarnya dengan mata berkaca.

Alhamdulillah, pertolongan Allah datang kepadanya. Kesulitan perlahan diatasinya. Ketika kesulitan ekonomi kian menghimpit; ia kemudian memutuskan menuntut ilmu sambil bekerja. Selepas meraih gelar sarjana muda, Tarmizi bekerja sebagai Junior Planner di Bappeda Provinsi Aceh. Ia menjadi pekerja teknis yang bertugas di bidang olah data pembangunan. Inilah cikal bakal pemahamannya yang utuh dan komprehensif  terhadap dunia dan dinamika pembangunan. (kholis chered)

Leave a Reply