Menelusuri Kunci Sukses Imam Mundjiat (1)
Tuesday, 23-9-2008 | 13:50 WIB | 2 Komentar | Kategori: Gagasan, wanita
NAMA lengkapnya H Imam Mundjiat. Saat ini ia tercatat sebagai anggota DPRD Kaltim. Pernah mencalonkan diri menjadi Gubernur Kaltim. Ia kalah bersaing melawan Soewarna AF. Selain itu ia juga pernah menjadi Ketua Komisi VII DPR RI (1992-1997). Jauh sebelum Balikpapan menjadi kota vokasional (kejuruan) tahun 1971 atau 37 tahun silam, ia sudah mendirikan STM Pangeran Antasari dengan jumlah siswanya mencapai 1.700 siswa. Apa kunci suksesnya? Bagaimana kisahnya ‘terdampar’ di Balikpapan?
LAHIR 4 Agustus 1945, di Desa Grogol, Kecamatan Gringing, Kediri. Sejak usai 16 tahun ia sudah aktif di organisasi. Mengaku pernah hancur di tangan oknum militer, tetapi bisa menjadi ‘orang’ seperti sekarang ini juga berkat pertolongan militer.
Sabtu (20/9), suasana di depan rumah Imam Mundjiat di Balikpapan, terasa ramai. Bunyi kendaraan bermotor menyeruak masuk di ruang tamu berukuran cukup luas. “Kita masuk saja ke dalam ya… biar tidak terlalu bising. Tapi maaf ini berantakan semua,” pintanya kepada Tribun.
Di ruang kerjanya, berserakan bermacam macam koran, majalah, tumpukan fotokopi, kliping, map serta barang barang lainnya. Hampir semua catatan perjalan hidup dan surat-surat penting tersusun rapi di tempat itu. Ketika disodori tape recorder, Imam menyandarkan tubuhnya di atas bantal sofa sambil memegangi alat perekam. Berikut penuturannya.
***
SEJAK remaja saya sudah menjadi pengurus Ketua Anak cabang (PAC) PNI Grogol Kediri. Ia juga menjadi Ketua Jamiatul Muslimin periode 1964-1971. Saat itu usianya di bawah 20 tahun. Saya menamatkan Sekolah Teknik (ST) di Kediri tahun 1964-1965. Lalu masuk STM Nasional Jl Tanimbar, Malang. Setelah itu saya sempat kuliah di Unibraw dan aktif di berbagai organisasi diantaranya, GSNI dan GMNI. Ketika kuliah di Untag Surabaya Cabang Madiun, saya dipercaya menjadi Ketua Anak Cabang PNI. Kuliah hanya hanya satu semester putus, karena ayah saya bernama Imam Mubani meninggal tahun 1965.
Kembali ke kampung halaman, saya menjadi petani mengurusi sawah dan ladang sambil mengurusi partai, karena saya ditunjuk menjadi Ketua Cabang PNI. Tahun 1971, saya habis habisan. Ini akibat resiko sebagai ketua partai politik di zaman pergolakan politik nasional yang terlalu keras dari Orde Lama ke Orde Baru.
Saya mohon maaf, ketika itu ada seorang oknum militer yang bertugas di Kodim Kediri yang bertindak keras kepada saya. Saya ingat namanya, Mayor Iskandar. Sejak muda, saya suka mengumpulkan buku-buku. Saat itu rumah saya di-sweeping. Buku-buku itu disita, kemudian dihambur hambur dan dibanting banting. Saya lihat sendiri buku-buku Bung Karno itu dibanting-banting.
Komandan Kodimnya saat itu Pak Djamil. Saya ingat betul waktu itu saya dipanggil Koramil, karena saya mengadakan rapat tanpa izin. Akhirnya saya nekat menggelar rapat akbar di perempatan jalan dekat kampung saya di Grogol. Kenapa tak perlu izin? Karena karena perempatan jalan itu milik publik. Gara-gara iitu saya lalu dipanggil oleh Koramil untuk menghadap ke Komandan Kodim.
Biasanya, sesuai informasi yang saya dapatkan, kalau sampai dipanggil ke sana, itu pasti ditangani (dianiaya). Rupanya Pak Djamil tidak sampai hati melakukan itu kepada saya. Setelah beberapa bulan kemudian, saya mendengar beliau wafat.
Kedua, ada yang bernama Pak Firman Sanjoto.Sebelumnya ia menjadi komandan Koramil di Kediri, kemudian menjadi asisten di Kodim. Tingkah laku Pak Firman perlu diacungi jempol. Bahkan, setelah beliau pensiun ia tetap menjadi pengurus Yayasan Sosial Cinta Asih di Pohsarang, Kediri. Setelah saya telusuri beliau sudah wafat, pangkat terakhir letkol atau kolonel. Saya juga kenal dengan Komandan Kodim Kediri, Pak Risbanten. Beliau sangat persuasif dan selalu mengajak omong saya.
Saya kuliah di Untag Surabaya Cabang Madiun. Lulus, tetapi nggak bisa ujian negara karena saya dikelompokkan sebagai mahasiswa PNI Asu. (Gelar ini baru saya selesaikan tahun 1983 sarjana muda). Jadi saya frustrasi, karena saya bisa dibilang PNI Asu, kepala batu, pendukung Soekarno dan sebagainya.
Dari persitiwa-peristiwa itu akhirnya saya ke Surabaya. Tidak tentu tujuan, cuma kluyuran saja. Di Kota Buaya, aku jadi ugalan ugalan dan tidak punya tempat tinggal tetap. Kadang ada teman tidur, kadang ada kadang tidak. Saya mengalami banyak persoalan.
Di Jalan Arjuna, Surabaya, tempat saya nongkrong dan makan, saya sering omong-omong dengan Mayor Solikhin. Dari perkenalan itulah akhirnya terjadi keakraban, “Dik Imam yang sudah agak putus asa , tidak boleh putus asa lagi. Lebih baik sekarang buka lembaran baru saja,” kata Mayor Solikhin sedikit memberikan nasihat.
Karena terjadi peralihan situasi politik dari Orde Lama ke Orde Bru yang sangat keras –pada saat itu saya menjadi Wakil Sekretaris PNI di Kabupaten Kediri– saya sering bertemu oknum militer dan kita sering menghadapi kekerasan. Akhirnya saya bisa mandiri luar biasa juga berkat militer. Jadi saya ini hancur karena oknum militer, tetapi kemudian bisa bangkit dan sukses karena pertolongan orang-orang militer.
Jujur saja, saya terilhami spirit yang diberikan Mayor Solikin dan Mayor Panji –keduanya adalah personel yang bertugas di Zidam Mulawarman (sekarang ini Zeni Kodam Kodam VI/Tanjungpura). “Dik Imam sudahlah temui saya nanti di Balikpapan,” kata Imam mengutip ajakan Mayor Panji. Akhirnya saya berangkat dari Surabaya menumpang kapal barang Sabuda. Ada satu teman saya sekarang masih hidup dan tinggal di sekitar Pelabuhan, saya lupa namanya.
Kemudian, oleh Pak Panji saya ditawari bekerja di Zeni Kodam Mulawarman. Beliau sangat sayang kepada saya. Mengapa Pak Panji sayang kepada saya? Ketika saya tinggal di Surabaya di sekitar Jl Arjuna, saya ini dikenal sebagai pemuda urakan.
Akhir 1971, saya hijrah dari Kediri ke Balikpapan. Waktu itu Pangdam Jawa Timur Pak Soemitro (Mantan Pangkopkamtib) sangat ketat sekali. Kondisi saya agak longgar, setelah digantikan oleh Mayor Jenderal Yasin (Mohammad Yasin). Artinya saat itu saya bisa pergi ke Balikpapan dilengkapi surat bebas G 30 S/PKI secara resmi. Saya anggap penggantian Pangdam itu sangat monumental buat saya, banyak terjadi perusabahan yang saya catat. Jadi saya ini jotosan terus sama militer, tetapi saya juga diselamatkan oleh militer. Termasuk di antaranya Pak Solikhin. Saya tidak tahu dimana sekarang beliau berada.
Mudah-mudahan dengan membaca berita ini di Tribun, tali silahturrahmi saya terjalin kembali. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih atas semua budi baiknya, Selain itu barangkali saya ini dianggap anak yang cerdas.
Mengapa? Karena nilai IPA saya di ijazah ST (Sekolah Teknik) mendapat nilai 10 bulat. Jadi nilai saya itu sepuluh top, bulat. Untuk ilmu pasti alam sepuluh, yang lain bisa delapan sembilan.
Dari Pak Sarjono itulah kemudian saya bisa berkembang. Saya seolah-olah dianggap sebagai anaknya atau adiknya. Otak saya semakin terbuka. Yang paling berkesan saat itu, saya pernah diajak melihat langsung tahanan politik di Gunung Teknik, Balikpapan. Semua tapol (tahan politik) ditahan disana. Saya memberanikan diri untuk bertanya. “Tapol segini banyak ini untuk apa? ” Kemudian saya tanya kepada para tapol itu apakah ada yang bisa jadi tukang kayu atau tukang batu? Wuah… ternyata banyak. Atas izin Pak Sardjono saya minta agar para tapol itu diperbantukan untuk membangun sekolah.
“Pak ini kan banyak tukang kayu dan tukang batu, Bapak kan punya wewenang di sini sebagai kepala staf Pomdam (kepala markas) atau staf komandan.” Dari situlah kemudian saya mulai berpikir untuk membangun sekolah. Jadilah saya sebagai Ketua Pendiri STM Pangeran Antarsari, tahun 1971.
Uangnya darimana? Untuk membangun gedung, saya meminjam uang kepada Pak Sarjono. Belaiau beliau memiliki CV Tegal Agung. Pak Sarjono membuat hitam di atas putih, sebagao formalitas. Tapi nyatanya saya perlu duit untuk bayar ini… itu… dikasih terus (sambil tersenyum). Sayang sekarang beliau sudah almarhum.
Untuk bahan-bahan bangunan dam materialnya saya diberi rekomendasi oleh teman Jandam yang duduk sebagai Kakanwil Kehutanan. Dari situ saya dikasih rekomendasi. Menghadaplah saya ke Mr Jackson (orang Amerika) Direktur PT ITCHI dan manajer harian –kalau tidak salah namanya Kolonel Edi Suhedi.
Saya dikasih kayu-kayu itu membangun STM Pangeran Antasari di Gunung Pasir, bersebelahan dengan SMPN 2 Balikpapan Dari ICHI itu pula saya juga dikasih tiket pesawat terbang setiap hari Kamis untuk ke Surabaya. Lucunya kalau mau pulang ke Surabaya harus lewat Singapura dulu.
STM Pangeran Antasari awal tahun 1973 sudah dibangun, awal 1972 masih numpang di SD Kebun Sayur –sekarang ini kalau tidak salah menjadi gedung Bank Mandiri. Dulu kalau tidak salah ada SMP 3 yang kepala sekolahnya waktu itu Pak Mandagi.
Nah setelah berjalan kurang lebih satu tahun saya pindah ke SD Karang Bugis (untuk bisa masuk siang), tapi ternyata disitu juga masuk malam pakai lampu strongking (lampu minyak pompa). Mudah-mudahan dengan tulisan ini, murid saya yang masih saya ingat… namanya Hapsi. Saya dengar dia jadi orang cukup lumayan di Pertamina. Murid saya waktu itu 16 orang.
Waktu terus berjalan. Biaya gedung tetap dipinjami Pak Sarjono dan yang ngerjain para tahanan itu, kurang lebih ada sekitar 25 tapol dan seingat saya dalam waktu 100 hari (tiga bulan) selesai. Saya mengambil nama STM Pangeran Antasari karena selain sebagai pahlawan Kalimantan dan nasional, saya juga hidup dari Kalimantan. Memang ada orang yang nyeletuk, “Kenapa Pak Imam STM nya kok enggak dikasih nama Gajah Mada, Hayam Wuruk, Ronggo Warsito saja?” Saya menyadari insya Allah dapat restunya Pangeran Antasari, sehingga sekarang dijuluki STM Pangeran. Jadi saat itu sudah populer sebutan: Pangeran…Pangeran!!
Sambil bekerja di Projakal atas tawaran Pak Sardjono, setiap hari saya bekerja di laboratorium jalan Projakal, mengukur temperatur dan mengontrol aspal setiap sekian jam. Selesai dari situ, sore harinya saya ngajar di STM Negeri. Saya punya teman seperti Priyono Demo, Pak Kamto. Termasuk Dede Yusuf, itu adalah guru saya. (priyo suwarno/feri mei)
Comments (2)














wah ceritanya sangat seru……dan penuh arti
Terpenting harus diambil spiritnya bos. Kenapa dia berhasil, sementara kita tidak? Untuk itu mari kita petik atau kita contoh kunci resep keberhasilan mereka, sehingga kita bisa berhasil seperti mereka.