Perjalanan Panjang Tarmizi Abdul Karim (3)

Tuesday, 23-9-2008 | 13:16 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

PEMIMPIN yang benar adalah pemimpin yang mampu menjadi perekat serta lihai dalam melakukan pendekatan dalam situasi atau keadaan darurat sekalipun. Apa kunci Tarmizi Abdul Karim bisa meluluhkan hati para pimpinan GAM? Berikut kisahnya.

USAI menuntut ilmu di Amerika, Tarmizi Abdul Karim, kembali bertugas di Bappeda Provinsi Aceh. Usianya masih muda, namun kariernya semakin menanjak. Spesialisasinya sebagi planner. Karena itu, ia semakin memahami seluk-beluk pembangunan. “Saya begitu cinta desa. Selepas dari Amerika, bukannya semakin jauh, tapi saya semakin bangga dan cinta dengan desa,” ungkapnya.

Berkat profesionalismenya, tahun 1998, DPRD setempat memilihnya sebagai Bupati Aceh Utara. Ia menjabat selama tujuh tahun. Lima tahun masa jabatan reguler, dan dua tahun masa tambahan karena situasi konflik di daerah itu semakin memanas. “Aceh Utara adalah daerah konflik. Terlebih dengan diberlakukannya kondisi darurat sipil dan darurat militer di Aceh. Ketika masa itu tiba, saya kerap melakukan negosiasi dengan GAM sebagi upaya membangun perdamaian,” kisahnya. Dalam proses negosiasi, Tarmizi pernah menghadiri perjanjian jeda keamanan di Koha, Swiss.

Konflik Aceh, nyaris merengut jiwanya.  “Ketika masa konflik memuncak, rumah kami pernah dilempar bom lontar tahun 2002. Kamar anak saya hancur. Sebelum dan sesudah peristiwa itu, ancaman demi ancaman memang selalu kami terima,” kenangnya.

Dalam masa-masa konflik itu, banyak pejabat publik yang pergi meninggalkan Aceh Utara. Tak jarang, muncul pertanyaan dari kolega dan keluarga. Sampai kapan Tarmizi bertahan di daerah konflik itu? “Saya menjawab, tugas kita memang di sini. Allah-lah yang menakdirkan apa saja untuk kita,” tegasnya.
Bismillah, ia pun bertahan di daerah itu dengan segala bahaya yang mengintai. Ketegasan sikap itu berbuah manis. Ketika semangat rakyat Aceh untuk bangkit perlahan tumbuh, masyarakat pun berteriak lantang pada mereka yang sudah cabut dari Aceh; “kalian yang sudah pergi, jangan kembali,” pinta mereka.

Selain itu, selama ini Tarmizi selalu berpedoman pada prinsipnya, “Bahwa ancaman tidak akan selesai dengan ancaman. Justru sikap permusuhan yang beringas akan menjadi luluh dengan persahabatan yang lembut. Berdasarkan itikad itulah, ia pernah memasuki kawasan hutan belantara Sawang (markas GAM) bersama sopir dan seorang Kyai. Ia ingin bersilaturrahim dengan para pimpinan GAM di markas besarnya. Ketika itu, ia hanya bisa memasuki hutan dengan mobil yang telah ditentukan oleh pihak GAM. Jalanya pun di-ping-pong, ke utara, selatan, utara dan selatan, lantas berputar. Nampaknya sudah disetting sedemikian rupa agar markas besar GAM tak mudah ditemukan.

Ketika tiba dimarkas GAM, beberapa pimpinan sudah menunggu. Seperti Abdullah Syafe’i dan Muzakkir. Ketika itu, ratusan pasang mata menatap Tarmizi dengan moncong senjata yang siap diarahkan kepadanya. Ketika itu, sang bupati berbicara lembut namun tegas. “Saudara sekalian, kita sekampung. Kita punya cita-cita yang sama untuk membela kepentingan masyarakat. Kewarganegaraan saya memang 100 persen Republik Indonesia, tapi mari kita bicara dengan bahasa keimanan,” tegasnya yang lalu disambut hangat para pimpinan GAM.

Strategi diplomasi cukup cerdas itu akhirnya kena juga. Pasca pertemuan, para pimpinan GAM kian bersahabat dengan Tarmizi. Masih dengan kharakternya, Tarmizi selalu membuka diri, termasuk dengan para pimpinan GAM yang notabene pernah menjadi lawan politik dan militernya. Ia lantas mengajak beberapa petinggi GAM untuk mengikuti training ESQ. “Saya rasa, inilah metode yang tepat untuk membangun karakter seorang manusia, baik ia seorang muslim atau bukan,” ujarnya.

Bagaimana respon para petinggi GAM? Selepas pelatihan, Sofyan Daud (tokoh GAM) langsung memeluk Tarmizi dengan erat. Ia lantas berkata lembut kepada sang bupati yang penuh cinta dan persahabatan itu. “Bila dulu saya selalu bicara dengan M16, kini saya begitu cinta dengan 165,” ucapnya penuh haru. M16 adalah bahasa senjata, sedangkan 165 adalah bahasa iman yang tertuang dalam konsep iman, islam, dan ihsan. Subhanallah…. Selepas itu, ditopang kebijakan politik dan militer nasional, situasi di Aceh semakin membaik.

“Pengalaman memimpin Aceh telah mendidik saya untuk terus mampu managing in turbulance atau memimpin di tengah pergolakan. Dalam pergolakan, saya telah belajar bahwa inner power yang sesungguhnya akan muncul melalui Taqarrub Ila Allah, pendekatan diri kepada Allah. Bekal inilah yang saya bawa dalam predikat “Gubernur Luar Biasa” dalam lima bulan masa kepemimpinan di Kaltim,” ungkap Tarmizi pada Tribun di masjid itu. (kholish chered)

Leave a Reply