Perjalanan Panjang Tarmizi Abdul Karim (4)

Tuesday, 23-9-2008 | 13:42 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

TARMIZI Abdul Karim, Jumat (19/9) lalu,  sedang berada di Jakarta. Selepas shalat Ashar, Penjabat Gubernur Kaltim itu bersedia melanjutkan  bincang-bincang  dengan Tribun via telepon,  tentang makna kehidupan.

PASTINYA, setiap orang memiliki tiga fase kehidupan, terbagi dalam masa lalu, masa kini, dan masa depan. Demikian pula dengan Tarmizi Abdul Karim. Apakah makna kesuksesan baginya, dan apakah ia telah mencapai kesuksesan dalam hidupnya?

“Kesuksesan bagi saya terlihat dari adanya kepercayaan,” ujarnya. Ia memandang, kesuksan akan terwujud dengan tingginya kepercayaan masyarakat terhadapnya. “Kepecayaan dari orang orang yang berhubungan dengan kita (seperti keluarga, kawan, dan lingkungan pergaulan), maupun  mereka yang bersinggungan dengan tugas kita, seperti rekan dalam pemerintahan maupun masyarakat,” ujarnya.

Tarmizi menekankan, dalam proses mengapai sukses, hati menempati peranan sangat penting. “Hasil kesuksesan adalah pada hati. Hati yang yang lapang akan mengantarkan pada kepuasan (satisfaction). Dan kepuasan hati akan mengantarkan pada kebahagiaan. Kesuksesan yang sebenarnya akan mengantarkan kepada kebahagiaan,” ujarnya.

Tarmizi pun menyebutkan bahwa kebahagiaan ada dua jenis, yakni kebahagiaan semu dan permanen. “Bisa saja kita menjadi populer lantas disanjung sedemikian rupa. Namun kita masih hidup dalam keresahan. Hal itu hanyalah kesuksesan yang semu,” ungkapnya. “Dalam pandangan kita, apa-apa yang membuahkan hasil seakan sudah menjadi kebahagiaan permanen. Padahal the true achievement (capaian hidup yang sebenarnya) adalah mendapatkan amal shalih yang diganjar kebaikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.”

Ia menambahkan, dalam perspektif agama, ganjaran yang diberikan Allah akan terasa nyata di dalam bathin hambaNya. “Yang berhaga dalam hidup bukanlah apa yang indah dilihat mata, syahdu terdengar telinga, atau lezat dikecap lidah. Yang paling berharga adalah apa yang sejuk terasa di dalam hati,” ungkapnya filosofis. Tarmizi selalu menjalani hidup dengan suatu kaidah; We propose, God disposes. “Kita hanyalah  merencanakan, namun Allah jualah yang menentukan. Itulah hikmah keimanan kepada taqdir Allah,” ungkapnya.

Tarmizi memandang bahwa capaian puncak seorang insan di dalam kehidupannya adalah keselamatan di dunia dan akhirat. “The ultimate achievement adalah selamat di dunia dan akhirat. Inilah cita cita ideal bagi setiap muslim,” ungkapnya. Untuk itu, ia menyatakan akan selalu berusaha menjalani kehidupan sebaik mungkin untuk menggapai cita-cita ideal itu.

Sudahkah Tarmizi mengapai sukses dalam hidupnya? Ia lantas menjawab filosofis. “Kesuksesan sisi pribadi tidaklah seberapa menentukan, tapi bagaimana kita bisa menggapai sukses pada sisi umat,” ujarnya.
Baginya, kesuksean seorang diri hanyalah kesuksesan semu yang sangat kecil skalanya. “Visi pribadi sangat subjektif, berbeda dengan visi bersama. Karena itu diperlukan visi jamaah,” ujarnya.

Untuk level kesuksesan, ia menyebutkan tiga hal yang harus dicapai. “Pertama kontinum sukses individu. Lantas berlanjut pada kontinum sukses kelompok, dan puncaknya kesuksesan universal. Ketika kesuksesan universal mampu diraih, inilah yang dikatakan sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesata alam),” ulasnya.

Ia menyayangkan, banyak orang yang terjebak pada cita-cita dan kesuksesan individual. “Banyak orang yang memperjuangjan visi pribadi, namun di tengah keluarga eksistensinya tidak diakui,” ujarnya.  Baginya, pengembangan dan perjuangan visi ummat sangatlah penting. Dan untuk itu,  selalu dibutuhkan kepekaan, dan penihilan kungkungan egoisme. Bagaimana memperjuangakan visi ummat? “Ada dua pondasi utama, yakni berlandaskan Al Quran dan Sunnah. Kita takkan tersesat selama berpegang teguh padanya,” ujarnya.

Lantas, cita apa yang belum teraih dalam hidup seorang Tarmizi? “Alhamdulillah, Allah telah memberikan  anugegrah yang begitu luas pada saya. Namun masih ada yang harus saya pacu. Anak saya masih kecil. Semoga saya bisa memberikan pendidikan yang penuh bagi anak, baik pendidikan agama maupun umum,” ungkapnya.

Baginya, mendidik anak dengan baik merupakan agenda yang sangat penting. Ia merujuk pada surat At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan setiap mu’min memelihara diri dan keluarganya dari siksa neraka. “Allah akan mempertanyakan peran domestik (kelurga), dan peran publik yang kita jalankan,” ungkapnya..
Ia pun menekankan, bahwa anak-anaknya berhak memperoleh bagian dari rizki yang dianugerahkan Allah padanya. “Namun saya tidak ingin anak anak beranggapan saya adalah anak pejabat,” kata ayah empat anak ini. Ia justru berharap agar anak-anaknya mampu belajar dari orang tuanya, yang selalu berjuang dalam hidup, tanpa embel-embel jabatan orangtuanya.

Tarmizi pun selalu berdoa agar mampu menggulirkan ketetapan Allah, dan berbuat lebih untuk kepentingan umum. “Saya tak pernah berdoa meminta jabatan. Tapi berilah kesempatan yang lebih bagus untuk membangun masyarakat. itu adalah visi. Posisi atau jabatan yang lebih bagus hanyalah ruang gerak dan ruang berkarya. Saya berharap peran yang lebih baik, bukan jabatan. Saya pun berharap agar selalu dianugerahi Allah kesehatan, kekuatan, dan ketenangan untuk selalu bisa mengemban amanah dengan baik,”  ujar Tarmizi. (kholish chered)

Leave a Reply