Perjalanan Panjang Tarmizi Abdul Karim (5-Habis)
Tuesday, 23-9-2008 | 13:45 WIB | 3 Komentar | Kategori: Gagasan
BANYAK hal yang dituturkan Tarmizi Abdul Karim bukan hanya dari bacaan, tapi dari pengalaman dan muhasabah mendalam terhadap perjalanan dirinya. Termasuk pula harapan besarnya tentang urgensi keberadaan pemuda-pemuda bertakwa, sebagai generasi yang akan mencerahkan negeri.
TARMIZI beberapa kali menuturkan, sosok Tarmizi yang ada saat ini adalah Tarmizi yang terbentuk dengan proses yang panjang dan penuh warna. “Saya pun pernah berada dalam fase yang tidak sepenuhnya mampu mengendalikan diri. Namun semakin hari, Alhamdulillah kemampuan itu semakin terasah. Seorang mukmin tak boleh jatuh pada lubang yang sama,” ucap Penjabat Gubernur Kaltim itu.
Dengan kesungguhan untuk mengendalikan diri tersebut, deretan waktu pun menjadi saksi atas perkembangan capaian-capaian kehidupannya, setapak demi setapak. Ia juga punya bekal utama yang selalu dipegang teguh. “Sebaik-baik bekal dalam hidup adalah takwa,” tegasnya dengan mengutip sebaris firman Allah . “Takwa muncul karena komprehensifnya ilmu,” tegasnya.
Ia meyakini, takwa yang kokoh adalah takwa yang dilandasi oleh kecerdasan akal. “Janganlah seseorang membangun keimanan sekedar dengan ikut ikutan, dan kebodohan. Allah mencintai kaum mukmin, namun benci meraka yang “tuli dan buta”,” ujarnya.
Untuk itu, ia meyakini suatu kaidah, bahwa kesuksesan dunia dan akhirat hanya akan diraih dengan ilmu. “Rasulullah telah menyatakan hal tersebut. Selain itu, wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah (Surat Al Alaq ayat 1 sampai 5) membawa misi ketauhidan dan misi ilmu pengetahuan. Karena itu kita harus terus berusaha menjadi ahli ilmu, baik agama maupun dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan, Al Quran (sebagai pedoman hidup utama manusia) adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. “Bagaimana kita bisa bertakwa, bila tak punya kapasitas ilmu?” ujarnya retoris. Tarmizi ternyata menyimpan harapan besar pada terbangunnya generasi muda yang mampu menjadi penerus perjuangan membangun negeri. Ia pun memiliki konsep ideal tentang generasi muda yang diharapnya mampu terwujud, di mana pun “komunitas muda” itu berada. Generasi muda ideal adalah generasi yang memiliki tekad kemandirian. Mereka adalah generasi yang hidup dalam kosmologi ilahiah (lingkaran ketakwaan),” ujarnya.
Tarmizi memandang, pemuda yang tangguh tidak akan menyalahkan siapa?siapa dalam hidupnya. “Mereka justru ingin memberikan sesuatu kepada orang lain, keluarga, masyarakat, dan negara,” katanya. Ia memandang, anak-anak muda yang shalih akan memiliki sikap pioneristik sehingga ingin menerangi orang lain. “Berbeda dengan generasi muda yang tak bertakwa. Orang yang tidak bertakwa akan selalu melihat dirinya dalam keadaan gelap. Mereka suka menyalahkan orang lain sebagai pangkal kegagalannya, baik itu kesalahan pola didik orang tua, atau kondisi yang tidak mendukung,” urainya.
Ia justru memandang, generasi yang kuat adalah generasi yang selalu memandang positif tantangan hidup dan bisa menerobos segala tantangan itu. Bila ia belum menembusnya, ia akan terus berjuang. Ia pun menyayangkan jikalau terdapat generasi yang tidak happy menghadapi ujian hidup. “Setiap manusia pastilah mendapatkan ujian dari Allah. Generasi yang kuat adalah generasi yang mampu menghadapi segala tantangan hidup dengan happy. Bagi yang belum happy, mereka adalah orang yang belum ikhlash dalam berjuang. Milikilah keikhlasan dalam berjuang,” ucapnya.
Islam menunjukkan bahwa kunci keikhlasan adalah kemampuan untuk menutupi kebaikan diri sebagimana menutupi keburukannya. Menurutnya, generasi yang tidak bertakwa akan menjadi generasi yang mengahadapi banyak kesulitan. “Mereka akan memiliki beban psikologis. Mentalitasnya tidak cukup tangguh menghadapi masa depan,” pikirnya.
Tarmizi pun membagi kiat mencapai pengemabangan diri yang maksimal. “Pertama, gapailah ilmu setinggi?tingginya. Jangan membuang waktu untuk perkara yag tidak bermanfaat Tuntutlah ilmu, ajarkanlah ilmu, dan cintailah persatuan,” ucapnya. Selepas menggapai ilmu, implementasikan ilmu itu. Lantas, mulailah membangun di kancah umum yang dimulai dari skala mikro,” bebernya.
Dalam membangun diri, Tarmizi mengingatkan beberapa hal yang harus diperhatikan. “Yaitu kemampuan menyerap informasi melalui cara berpikir logis dan kemampuan menyaring dengan baik. “Selepas itu, wujudkanlah keseimbangan spiritual, emosional, intelektual (ESQ). Kita juga harus menjaga kewibawaan dengan jalan menjauhi dosa, dan membentengi diri dari kemaksiatan, sehingga tidak tercemar polusi dunia,” ungkapnya.
Terkait dengan virus-virus yang potensial menghalangi kemajuan, ia menyebutkan beberapa hal. Yakni hawa nafsu yang seharusnya dikendalikan, dan bukan dibunuh, perasaan cepat merasa puas, juga dengan rasa ingin dipuji atas jasa-jasanya beserta beragam penyakit hari. “Belajarlah membangun proses untuk menjadi ummat yang simbang- ummatan wasathan,” ungkapnya.
Ketika memimpin Kaltim, Tarmizi pun sempat menuturkan harapannya agar terbentuk masyarakat yang bertakwa di Kaltim. Ia meyakini, masyarakat yang bertakwa akan melahirkan sikap amanah kolektif. “Pertumbuhan ekonomi tidak akan kokoh tanpa ditopang oleh masyarakat yang amanah,” tegasnya.
Karena itu, ia berkomitmen dalam masa jabatannya yang singkat, untuk berusaha berkontribusi membangun masyarakat yang amanah di Kaltim. Termasuk dengan menyebarluaskan dan membudayakan pencerahan Emmotional Spiritual Quotient (ESQ-kecerdasan emosi dan spiritual) di Bumi Etam. Semoga. (kholish chered)
Comments (3)














Alhamdulillah…kalo membaca apa yang telah mas bechni tulis melalui dialog mas dengan Bang Tarmizi merupakan suatu pencerahan sarat makna bagi kita sebagai generasi muda…Suatu kemulian dan kesempatan yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita para generasi muda yang dapat bertemu dan mendengar apa dan bagaimana pandangan hidup seorang Tarmizi…PENCERAHAN….itu yang kita butuhkan dalam mensikapi kondisi zaman……Alhamdulilah mas dan saya adalah termasuk orang-orang yang diberikesmpatan oleh Allah Swt bertemu beliau….bukan suatu hal yang kebetulan…tapi Allah telah menentukan jalan kita pada kebenaran…sehingga mempertemukan kita pada orang – orang cemerlang yang padanya Allah memberikan kita kesempatan melihat, mendengar dan menambil pelajaran dari perjalan seorang hamba….subhanallah….smoga Allah Swt tiada henti mencurahkan Rahmat dan kasih sayangNya kepada kita….amin…
oh ya mas…tulisan 1-4 dimana dapat kita baca…
Alhamdulilah, saya juga diberi kesempatan Bertemu Beliau, bersalaman, berpelukan di Lamin Etam Sebelum kita bersama2 melaksanakan sholat Id Fitri di masjid Islamic Center, dan Beliau sebagai Khotibnya. Subhanallah…