Sumidjan dan Gaung Sirene
Tuesday, 23-9-2008 | 7:08 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
MASIH ingat Sumidjan, pedagang es teler yang dijebloskan ke LP Tenggarong gara-gara dituduh menghina Walikota Bontang? Pria yang pernah mendapatkan penghargaan dari Tiga Pilar Kemitraan karena kepeduliannya terhadap gerakan antikorupsi, dua pekan lalu baru saja menghirup udara bebas.
Sehari setelah keluar dari LP, saya menyempatkan diri bertandang ke rumahnya di Bontang, Kalimantan Timur. Kebetulan pada hari itu, Tribun Kaltim punya kegiatan buka bersama dengan anak-anak yatim piatu di Bontang, sebagai tradisi tahunan.
Saat kali pertama bertemu, wajahnya terlihat sumringah. Ia tidak menyesal, walaupun harus berada di balik jeruji selama empat bulan. Sehari setelah putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA) keluar, Sumidjan sempat menghubungi saya.. “Sam (mas) saya besok bakal dijemput oleh eksekutor (jaksa) dan menghuni LP Tenggarong. Saya agak takut, siapa tahu ada skenario membunuh saya di dalam penjara.”
Mendengar keluhan itu, saya berusaha meyakinkan dia bahwa apapun yang terjadi, itu adalah bagian dari konsekuensi perjuangan, memperjuangkan negeri ini agar bebas dari koruptor. “Kenapa harus takut? Nikmati saja dan sampean akan menemukan hikmahnya. Pesan saya, tolong cerahkan semua nappi di sana agar spirit mereka untuk memasuki wilayah kesadaran bisa terbangun kembali,” pesan saya.
Esoknya, Sumidjan benar-benar dieksekusi. Ia harus masuk LP. Sejak itu saya tak lagi bisa menghubungi dirinya.. Sebulan kemudian, sesekali tempo itu menghubungi saya via telepon. “Ini hp kepunyaan napi lainnya Sam,” ungkapnya. Dia mengabarkan kepada saya bagaimana keadaan dan situasi di dalam penjara.
Hari yang ia tunggu telah tiba. Sumidjan akhirnya bebas. “Saya banyak menemukan hikmah selama di dalam penjara. Para koruptor yang berada di LP yang tadinya benci dengan saya berbalik meminta belajar kepada saya. Hampir tiap malam kami melakukan diskusi panjang bersama napi-napi lainnya,” tuturnya.
Sumidjan, pria polos dan lugu itu mengaku sempat menjadi ‘raja’ di LP akibat kecerdasan yang ia bangun diantara sesama napi. “Saya tidak boleh makan nasi penjara. Teman-teman selalu membelikan makanan dari luar.”
Tidak hanya itu. Sebagai Walikota LIRA Bontang, lelaki itu mengaku banyak mendapatkan data otentik dari para koruptor mengenai ulah aparat yang pernah mendapatkan cipratan dana. “Ternyata saya baru tahu kalau mereka mereka itu ketika berkuasa dijadikan ATM berjalan oleh aparat,” katanya.
***
DUA hari lalu, ia bertemu saya di Samarinda. Kami sama-sama menginap di Hotel Bumi Senyiur. Sore hari, saya dan Sumidjan sempat berjalan kaki membeli tajil, makanan pembuka puasa. Ada urap-urap, rempeyek, kue cemplon, dan empat gelas air mineral serta gule kambing.
Semua makanan itu kami bawa ke dalam kamar. Setelah tersajikan di meja, Sumidjan lalu tidur sejenak. Saya pun sibuk mengetik berita menggunakan laptop. Tak terasa suasana di luar sudah gelap. Saya buka daun jendela. Seorang petugas hotel terlihat sibuk membagikan tajil ke karyawan hotel lainnya.
Di pos penjagaan ada seorang satpam sedang duduk. Ia saya amati dari atas. Sesaat kemudian lelaki itu berdiri membuka bungkusan kolak lalu menuangkannya ke dalam gelas. Sejurus kemudian kolak itu dilahapnya.. “Sam… sam… udah buka nih. Itu lihat kalau enggak percaya. Pak Satpam dibawa sudah makan tajil,” teriaku sambil membangunkan Sumidjan.
Lelaki iitu bangkit dari ranjangnya.. “Mana? Oh.. iya… Tapi kok belum dia makan?” “Tadi sudah dimakan Sam. Coba amati sekali lagi, nanti kolak itu dimakan lagi,” kataku. Sambil menahan kantuknya Sumidjan mengamati gerak-gerik Pak Satpam. “Wah benar Sam… Tuh dia sudah makan…” katanya.
Kami berdua lalu makan bersama. Usai makan, Sumidjan masuk ke kamar mandi mengambil air wudhu. Saya sendiri masih berada di dekat jendela sambil merokok. Saat itulah suara sirene terdengar meraung-raung. Adzan maghrib bergema. “Lho… Sam… kita salah nih. Itu suara sirene tanda buka dimulai. Sementara kita dari tadi sudah buka.” “Wah… masak sih…? Waduh… inilah Sam kesalahan kita. Kita kan punya akal. Kalau engggak tahu jam buka, mestinya kita jangan percaya sama Satpam di bawah itu.. Seharusnya dia kita tanya dulu, apakah anda berpuasa… Nah, kalau begini… ehmm… ya… kita serahkan saja ke Tuhan, toh kita tak berniat untuk membatalkan apalagi mempermainkan puasa,” gerutu Sumidjan.
Jadilah kami tertawa terbahak-bahak akibat kegeblekan kami. “Lain kali jangan begitu lagi Sam. Semua harus ddicek dulu,” pesannya kepada saya setengah dongkol. Maaffff Samm… (achmad subechi)













