Emang Gue Pikirin…
Wednesday, 24-9-2008 | 18:37 WIB | 1 Komentar | Kategori: Gagasan
RUANGAN di lobi Hotel Novotel, Balikpapan, terlihat agak gelap. Makfum, jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Hanya ada dua petugas keamanan yang berjaga di pintu utama. Walau begitu saya terus melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan. Seorang tokoh elit politik dari sebuah partai politik besar di negeri ini, terlihat sudah cukup lama menunggu saya.
Hubungan kami sudah begitu dekat, sejak terjadinya pergolakan politik sebelum lahirnya era reformasi. Ia dikenal politisi lantang dan berani bersuara. Hampir 16 tahun, kami tak pernah bertatap muka. “Waduh… kita baru ketemu kembali setelah enam belas tahun,” sapanya, sambil menghisap rokok dalam-dalam.
Dulu penampilannya keren. Rambutnya yang ikal, sorot matanya nan tajam serta suaranya yang menggelegar, sudah tak tampak lagi. Kali ini rambut di kepalanya bisa dihitung dengan jari. Suaranya pun juga parau, pelan dan sesekali meninggi. Sorot matanya sudah sayu. Sebaliknya yang masih terlihat dengan jelas adalah wibawanya. “Inilah perubahan. Sehebat-hebatnya manusia, ternyata ia bisa tua juga. Setinggi-tingginya karier di struktural partai, semuanya tak ada gunanya. Kulitnya telah layu, rambutnya memutih, matanya tak lagi bercahaya, suaranya juga begitu,” guman saya dalam hati.
“Saya ini lelah… capek ngurusin partai. Kenapa? Saya capek memberikan penjelasan ke bawah setiap kali DPP mengambil keputusan. Ketika ada pertanyaan dari kader yang di bawah, elit-elit kita tak bisa menjelaskannya secara komprehensif,” katanya.
Usut punya usut saya bisa memahami penjelasan dia. Di era euforia seperti ini, masyarakat berlomba-lomba menjadi anggota partai. Pihak partai sendiri kurang ketat ketika melakukan rekruitmen. Akibatnya, kader-kader baru tak memahami filosofi bahkan garis ideologi partai.
“Kita ini kan sudah tua-tua. Ya setidaknya masih ada sekitar lima persen manusia-manusia lama yang masih tersisa di partai. Lha kalau yang tua-tua ini enggak ada, bagaimana nasib partai saya ke depan? Saya rada gemes melihat orang-orang baru yang tidak tahu sejarah. Wajar saja kalau mereka ‘dimakan’ oleh kader-kader di tingkat DPC ketika sedang melakukan dialog. Begitu diserang kesana-kemari, mereka enggak bisa menjelaskan. Nah, tugas saya sekarang adalah menerjemahkan semua pertanyaan dari bawah dan menjelaskannya secara komprehensif,” tuturnya.
Celakanya lagi, di usianya yang sudah renta, ia masih saja mendapat tugas cukup berat. Apa? Mengawal anak seorang petinggi partai sebagai bakal caleg di daerah Jawa Tengah. “Untuk itu saya harus ke dapilnya lalu merapatkan barisan. Semua DPC saya kerahkan dan saya minta ikut mengawal mereka. Tetapi, jujur saja saya katakan, walaupun dia anaknya pimpinan partai, kalian harus menggembleng mental dia. Suruh dia menempelkan telinganya ke perut bumi. Untuk apa? Ya supaya dia mau mendengarkan keluhan rakyat, mengetahui penderitaan rakyat dan mau memperjuangkan kepentingan rakyat.”
Lagi-lagi ia geleng-geleng kepala melihat kader-kader partai yang masih ‘hijau’. Perlu tempaan lebih keras buat mereka. Tapi, menyampaikan visi, misi, tak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu cukup lama. Sayangnya Pemilu 2009 tinggal selangkah lagi.
Kelak, ketika mereka terpilih mewakili rakyat, maka kualitasnya perlu dipertanyakan, terutama komitmennya dalam membangun bangsa dan negara ini, serta mengawal perjalanan bangsa hingga usia berakhir ditelan waktu…. Pertemuan dengan sahabat saya, berakhir pukul 05.00 pagi. Andai mata saya masih kuat menahan kantuk, mungkin obrolan bisa sampai siang hari, karena banyak bocoran termasuk peta konstalasi politik nasional menjelang pemilu 2009, masuk ke kuping saya…
***
SEMALAM seorang asisten khusus mantan kepala neggara menghubungi saya via telepon. Dia minta strategi khusus menghadapi Pemilu 2009. Tanpa tedeng alling-aling saya katakan, para calon pemimpin negara saat ini yang namanya sudah muncul di permukaan, kok kayak katak dalam tempurung. Mereka lebih banyak diam duduk di rumah. Sementara di luar, semua manusia berlari cepat untuk mencapai titik tujuan.
“Bagaimana mau jadi presiden kembali, kalau ngumpet terus. Coba mana ada capres yang tiap hari masuk koran? Lalu kemana mereka? Seharusnya, mereka sudah mendekat ke rakyat. Entah babagaimana caranya, usahakan setiap hari bertemu dengan rakyat. Kedua, kritisi semua kebijakan negara dengan kecerdasan. Nah, kalau itu dilakukan, saya yakin separoh perjalanan sudah tertempuh. Kalau tidak yo wis… biarin aja. Emang gue pikirin,” sahut saya.
“Okey mas, nanti saya akan sampaikan.. Mudah-mudahan besok bos sudah turun ke bawah. Persoalannya, yang mengatur beliau ini banyak tangan. Masak, mau tampil saja ada rencana mau pergi ke KL nonton balap mobil. Lho apa yang dicari kesana?” gerutunya. (achmad subechi)
Comments (1)














Wah kian malam, spertinya informasi dan wawasan penting sering muncul. Saya mungkin termasuk yang masih “hijau” mau tahu politik sekarang.Belum banyak tahu bagaiamana bijaksana dan arif memperjuangkan rakyat. Salah-salah nanti yang hijau malah memperparah keadaan hidup berbangsa dan bernegara. OK.. lanjut mas