Menelusuri Kunci Sukses Imam Mundjiat (2)
Wednesday, 24-9-2008 | 17:05 WIB | 2 Komentar | Kategori: Gagasan
MEMULAI sesuatu memang terasa berat. Tapi itulah proses yang harus dialami semua manusia jika hendak menuju ke pintu kesuksesan. Keberhasilan manusia selalu saja ada ukurannya. Tak hanya diukur dari berapa banyaknya finansial yang ia hasilkan, tetapi seberapa bermaknanya pikiran atau gagasan serta keringat yang telah dikeluarkannya buat manusia lain. Berikut kelanjutan kisah perjalanan H Imam Mundjiat, menuju ke pintu kesuksesan.
UNTUK bahan-bahan bangunan dam materialnya, saya diberi rekomendasi oleh teman Jandam yang duduk sebagai Kakanwil Kehutanan. Dari situ saya dikasih rekomendasi. Menghadaplah saya ke Mr Jackson (orang Amerika) Direktur PT ITCHI dan manajer harian –kalau tidak salah namanya Kolonel Edi Suhedi.
Saya dikasih kayu-kayu itu untuk membangun STM Pangeran Antasari di Gunung Pasir, bersebelahan dengan SMPN 2 Balikpapan. Dari ICHI itu pula saya juga dikasih tiket pesawat terbang setiap hari Kamis. Lucunya waktu itu, kalau mau pulang ke Surabaya harus lewat Singapura dulu.
STM Pangeran Antasari awal tahun 1973 sudah dibangun, meskipun pada awal 1972 masih numpang di SD Kebun Sayur –sekarang ini kalau tidak salah menjadi gedung Bank Mandiri. Nah setelah berjalan kurang lebih satu tahun, saya pindah ke SD Karang Bugis (untuk bisa masuk siang), tapi ternyata disitu juga masuk malam pakai lampu strongking (lampu minyak pompa). Mudah-mudahan dengan tulisan ini, murid saya yang masih saya ingat… namanya Hapsi. Saya dengar dia jadi orang cukup lumayan di Pertamina. Murid saya waktu itu 16 orang.
Waktu terus berjalan. Biaya gedung tetap dipinjami Pak Sarjono dan yang ngerjain para tahanan politik, kurang lebih ada sekitar 25 tapol. Untuk membangun gedung itu butuh waktu 100 hari (tiga bulan lebih). Saya mengambil nama STM Pangeran Antasari, karena selain sebagai pahlawan Kalimantan dan nasional, saya juga hidup dari Kalimantan. Memang ada orang yang nyeletuk, “Kenapa Pak Imam STM-nya kok enggak dikasih nama Gajah Mada, Hayam Wuruk, Ronggo Warsito saja?” Saya menyadari insya Allah dapat restunya Pangeran Antasari, sehingga sekarang dijuluki STM Pangeran. Jadi saat itu sudah populer sebutan: Pangeran…Pangeran….!!
Saya bekerja di laboratorium Projakal atas tawaran Pak Sardjono. Tugasnya, mengukur temperatur dan mengontrol aspal setiap sekian jam sekali. Selesai dari situ, sore harinya saya ngajar di STM Negeri. Saya punya teman seperti Priyono Demo, Pak Kamto. Termasuk Dede Yusuf, dia itu guru saya.
Dalam perjalanan sekitar tahun 1974, saya diperkenalkan dengan seorang militer. Jabatannya, Ketua Puskopat. Dari perkenalan itu akhirnya film-film yang sudah diputar di beberapa bioskop di kota besar, saya putar lagi di gedung Antasari bekerja sama dengan Puskopat, dan memakai pesawatnya Pak Edy.
Perlu diketahui tanah yang ada di Gunung Pasir itu saya kuasai kurang lebih sampai tiga ribu pirkan (meter pesegi). Saat itu kita belum ada yayasan. Akhirnya tahun 1979 lunas semua hutang-hutang saya. Sekolah itu pernah mencapai puncaknya, meluluskan 36 kelas dari kelas 1-3, nah mengapa STM saya menjadi sangat terkenal saat itu tahun 1976, 1979, 1983. (priyo suwarno/feri)
***
JADI selama tahun 1971-1974, saya tidak menyentuh ranah politik. Sebenarnya saya ini STM sipil, pengen jadi insinyur sipil. Namun begitu saya dikasih penjelasan dan pelajaran oleh guru saya bernama Gono Wiyadi (Kepala Sekolah STM Nasional), Pak Herman sama Pak Fandi, akhirnya hidup itu paling tepat adalah milih pendidikan dan politik.
Tahun tahun 1977, saya punya pendirian yang sangat tegas. Saya memilih politik dan pendidikan, lalu menjadi caleg nomer satu di PDI. Senior-senior saya seperti Pak Sarjono memanggil saya dan memberikan saran, “Dik Imam jangan berkecimpung di politik dulu, bangun sistem ekonomi dan sistem pendidikan yang kuat baru masuk. Jadi yang sabar.” Setelah dapat banyak kritikan dan masukan, akhirnya saya mengundurkan diri dari caleg.
Perlu diketahui tanah yang Gunung Pasir itu saya kuasai kurang lebih sampai tiga ribu pirkan (meter pesegi-red) saat itu kita belum ada yayasan, akhirnya 1979 lunas semua utang-utang, saya sudah meluluskan dan murid saya luar biasa sekitar 18, dan tahun itu seperti sudah luar biasa. dan pernah puncaknya sekolah saya meluluskan 36 kelas dari kelas 1-3, nah mengapa STM saya menjadi sangat terkenal saat itu tahun 1976, 1979, 1983. (priyo suwarno/feri)
Comments (2)














Innalilahi wainallillahi roji’un
Saya adalah alumni STM pangeran Antasari tahun ajaran 1988-1991,setelah membaca artikel ini saya merasa sedih karena pak Imam Mundjiat adalah kepala sekolah saya waktu saya bersekolah di STM pangera Antasari Balikpapan.Semoga amal ibadahnya di terima Allah AWT amin..dan salam saya buat rekan2 alumni STM PA,saya bangga pernah menjadi siswa STM PA..Mungkin teman2 seangkatan saya dapat bersua lagi,,Insya Allah
Hoiiiiiiiiii Mas jaka? Kok pakai Innalilahi wainallillahi roji’un? Beliau masih hidupppppppppp… Artikel yang ditulis itu adalah kisah sukses beliau