Pembagian kelas
Thursday, 9-10-2008 | 6:10 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
SETAHUN sekali saya sengaja menyempatkan diri ke Taman Makam Pahlawan di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Di tempat ini, ayah sudah terbaring di alam kubur sejak tahun 1994. Hari pertama Lebaran kemarin, kami sekeluarga datang kesana.
Kali pertama memasuki areal pemakaman, hati saya sedikit bertanya-tanya. “Kenapa makam lain ada topi bajanya, sedangkan makam di deretan ayah saya tidak?” Ketika hal itu saya tanyakan ke kakak, dia memberikan penjelasan cukup singkat. “Sekarang itu susah mendapatkan topi baja yang asli. Bahkan, menurut petugas Garnisun, stok topi baja sudah habis.”
Kami lalu melangkahkan kaki menuju ke pusara ayah. Lagi-lagi ada sedikit protes. “Kok makam lainnya tertata rapi, sedangkan makam ayah tidak?” Kakak saya angkat bicara. “Untuk merapikan makam butuh dana. Dua tahun lalu saja, petugas pemakaman meminta dana Rp 1 juta. Itupun hanya diplester di bagian samping kanan kiri dan di atas pemakaman diberi batu-batuan.”
Saya hanya geleng-geleng kepala. Kuamati makam-makam lainnya. Terasa ada perbedaan kelas alias ada kesenjangan di kuburan. “Lihat tuh, orang mati saja pakai kelas-kelas. Kayak di Tanah Kusir. Ada kelas tipe A, B dan C. Harganya juga variatif,” tutur saya kepada kakak.
Sama halnya di TMP di Surabaya. Walau semua biaya perawatan ditanggung oleh negara, tetapi manusia (petugas perawatan) yang sengaja menciptakan kelas hanya untuk kepentingan ekkonomis.
Sekat-sekat (pembagian kelas) ternyata tak hanya terjadi di dunia saja. Di alam akhirat nanti, Tuhan telah menciptakan ruang tersendiri buat manusia sesuai dengan amal perbuatannya. Di surga juga ada kelas-kelasnya. Di neraka juga begitu. So… urusan kelas sudah ada sejak dari sono. Ada kaum bangsawan (ningrat), ada kaum rakyat jelata. Ada kaum borjuis ada kaum proletar. Ada si miskin, ada si kaya dan lain sebagainya.
Sekarang tinggal manusianya sendiri. Mau menempatkan posisi di kelas mana? Mau menjadi borju, bekerjalah dengan baik dan benar. Mau miskin, malaslah bekerja. Mau pandai, rajin-rajinlah membaca. Mau bodoh, kagak usah belajar…. (achmad subechi)













