Gaya Angkot di Manado

Friday, 14-11-2008 | 18:35 WIB | 2 Komentar | Kategori: Gagasan

JARUM jam telah menunjukkan pukul 01.00 Wita. Wajah rekan-rekan saya, sedikit terlihat lelah, tapi tetap semangat. Adalah Yusran Pare, Pemred Tribun Jabar yang sejak beberapa tahun terakhir diperbantukan ke Banjarmasin Post. Tanggal 7 November lalu  ia mendapat tugas ke Manado, memberikan pelatihan jurnalistik kepada calon redaktur dan wartawan Tribun Manado (Kelompok Koran Daerah Kompas Gramedia).

SELAIN Yusran, ada juga Richard (Redpel Tribun Batam), Krisna (Korlip Tribun Jabar). Kedua nama terakhir hampir dua pekan, sudah bergulat dengan urat nadi kehidupan di Manado. Minggu-minggu pertama mereka turut aktif membimbing calon-calon reporter. Pak dosen lainnya diambil dari Makassar. Namanya Ronald Ngantung, Wapemred Tribun Timur.

Selama ini saya sudah dua kali bertemu belliau, setiap kali ada acara pelatihan jurnallistik. Misalnya, beberapa bulan sebelum Tribun Pontianak lahir, kami bertemu di kota itu. Tugasnya sama, mendidik calon redaktur dan reporter.

Tak hanya mereka yang berurusan dengan jurnalistik saja yang datang ke Manado. Ada sahabat saya Hendrayanto (bagian umum) dan Adrison Jubir (IT) yang juga sudah berhari-hari dikirim dari Jakarta.
***
DINI hari itu, suasana di Bukit Nona Lingkungan, Kelurahan Batu Kota, Winangun, Manado tampak sepi. Kawasan sejuk, berbukit-bukit itu serasa mampu menyulap kepenatan kami. Rumah yang kami tempati, lumayan bagus dan memiliki view nan menawan.

Kami semua melangkah ke ruang keluarga. Di sana ada televisi, kasur, meja makan, sofa dan makanan ringan. Sebagian teman langsung nongkrong di depan layar kaca nonton bola.. Sebagian lagi, cuci muka, masuk kamar lalu bobok. Lainnya, sibuk di dapur membuat nasi goreng. Ehmmm…. sedap…

Nah, ketika saya sedang berada di dapur membuat kopi, tiba-tiba terdengar suara musik cukup keras. “Hei… siapa tuh memutar musik kok keras banget? Udah malam nih?” teriak saya sambil masuk ke ruang keluarga. “Bukan bos.. Itu mah mikro (angkot),” jawab Krisna. Mikro di Kota Manado memang seperti itu. “Kalau enggak ada musiknya kagak laku. Jadi semua saling berlomba-lomba memutar musik,” tambah Krisna.

Saya lalu melangkahkan kaki keluar rumah. Sang pengemudi mikro tetap saja ndablek memutar musik dari dalam angkot dengan suara hinggar-bingar. “Orang itu edan atau apa? Ini kan sudah hampir pagi, masak mutar musik sekeras itu. Trus lagi pula ngapain berhenti di rumah kita?” tanya saya kepada Krisna. Krisna hanya geleng-geleng kepala, sambil senyam-senyum.

Di Kota Manado, angkutan kota (angkot) biasa disebut mikro. Mikro adalah kepanjangan dari mikrolet. Masing-masing mikro punya keunikan tersendiri untuk mencari penumpang..Biasanya, dilengkapi dengan sound system yang lumayan lengkap. Pendek kata full power music. Lagu yang diputar juga variatif dan terkini alias yang tengah ngetren. Dentuman suara musiknya bisa terdengar dari jarak radius 15 meter dan terasa memekakan telinga.

Suasana seperti ini hampir sama dengan angkot yang ada di Maumere.. Ketika meliput gempa tahun 1992, saya sempat terkaget-kaget saat naik angkot di kota itu. Suaranya keras banget dan tanpa ada basa-basi, terutama kulonuwun lebih dulu kepada para penumpangnya. Terpenting cedar… ceder, lalu kepala sang pengemudi bergoyang-goyang mengikuti irama. Herannya lagi, penumpangnya juga senang. Bahkan tangan, kaki dan kepala mereka, ikut bergoyang pula.

Di Manado,  hampir semua mikro mirip dengan auto contest. Ada bodykit lengkap dengan desainnya. Ingin tahu interiornya? Wow… banyak asesorisnya, bahkan ada juga yang dilengkapi DVD player, sehingga  penumpang bisa menonton lagu atau film yang diputar. engemudinya.

Jemmy, seorang sahabat saya yang sudah lama di Manado, tertawa ngakak ketika saya tanya soal fenomena mikro di Manado. Pengurus Ikatan Motor Indonesia Pengda Sulut itu, bercerita panjang soal keunikan-keunikan mikro di kotanya.

“Para penunpang di Mando pilih-pilih kalau mau naik mikro. Mereka pura-pura menelponlah kalau mikro yang berhenti di depannya tidak ada musiknya,” tutur Jimmy. So… tanpa musik, jangan harap kantong pengemudi akan kemasukan doku, karena penumpang kagak bakalan naik.

Comments (2)

 

  1. reza pahlevi says:

    pada dasarnya, cerita yang saya baca mengalir lancar.. saya pernah baca buku, “bagaimana menulis novel,jurnalistik,dan cerpen yang baik” di situ menjelaskan atau lebih tepatnya tips, dalam menulis kalau bisa di awal penulisan hindari penulisan jam atau cuaca hari ini, karena kesannya tidak kreatif!

  2. bechi says:

    Thanks Mas Reza atas tanggapannya. Apa yang sampean katakan adalah benar. Itu teorinya. Dulu ketika saya kuliah di jurnalistik, semua mahasiswa selalu berpegangan pada teori-teori dasar. Belakangan, zaman telah berubah. Para penulis menemukan polanya sendiri dan tidak mau terpaku dan berhenti pada titik itu-itu saja. Bahkan, ke depan tak menuutup kemungkinan, bahasa jurnalistik akan amburadul. Salah satu indikatornya, semua orang (masyarakat) tanpa melalui pendidikan jurnalistik, dengan begitu mudah melaporkan setiap peristiwa yang terjadi melalui blog atau bahkan media online serta elektronik dan cetak. Itulah yang dinamakan citizen jurnalism.

Leave a Reply