Menyeret Badan

Friday, 21-11-2008 | 7:59 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

Oleh: Hj Marissa Haque Fawzi SH MHum, Kandidat Doktor

PEMIMPIN Redaksi Tribun Kaltim, Achmad Subechi –kawan baikku– suatu hari pernah mengatakan, menulis adalah salah satu bagian dari teknik atau metodologi terapi psikologi. Mengapa? Katanya, tidak semua manusia mampu menuangkan dan mengimplementasikan gagasan atau keinginan-keinginan yang lahir dari hatinya.

BEGITU juga sebaliknya, tidak semua manusia mampu mencurahkan berbagai macam problem yang ada di pikirannya. Nah, ketika pikiran sudah overload, dan manusia tak bisa mengendalikannya, maka apa- apa yang ada di pikirannya dipastikan akan menyeret badan.

“Apa konkritnya menyeret badan?” tanyaku kepada dia. “Lha gimana enggak menyeret badan. Coba kalau anda tidak mampu menyelesaikan masalah di kantor, lalu persoalan itu terbawa ke rumah, saya kira semuanya akan rugi besar. Dia rugi, istrinya rugi dan anak-anaknya rugi. Coba saja kalau enggak percaya. Gara-gara tidak mampu memanage problem, mau tidak mau semua kena imbasnya,” kata dia.

Saya masih penasaran atas kalimat itu. Berulangkali saya bertanya dan bertanya. Penjelasannya, benar juga. Ia memberikan contoh, bagaimana seorang manusia bisa makan dengan enak dan tenang, kalau tiba-tiba muncul wajah atau bayangan problem-problem yang sedang dihadapinya?

Akibatnya, nafsu makannya berkurang dan ujung-ujungnya lambungnya dihantam penyakit maag. Kalau maag sudah kena, maka akan merembet kemana-mana. “Itu artinya badan yang tadinya melayani keinginan- keinginan manusia, mulai terserat dan sengaja kita jebloskan ke wilayah sakit atau kontraproduktif,” tuturnya.

Sebenarnya wilayah kontraproduktif ini jarang menjadi bahan renungan manusia. Mengapa? Manusia cenderung terlena dengan kemapanan dan baru terengah-engah manakala, ia sudah tidak mampu berbuat apa-apalagi. Yang terjadi adalah penyesalan dan penyesalan.

“Intinya, kalau manusia tidak mampu memanage konflik, maka yang terjadi banyak mudharatnya. Contohnya, bagaimana mungkin kita bisa memberikan pelayanan yang baik kepada istri atau suami, kalau mood manusia itu naik turun gara-gara bayangan kecemasan akibat tak mampu mengendalikan masalah selalu hadir?” tuturnya.
***
KEMBALI ke inti masalah. Benarkah menulis bisa menentramkan hati dan mengendalikan pikiran manusia? Ternyata benar sahabat. Saya telah membuktikannya. Setiap kali selesai menulis esai bebas, ada sejenis rasa ‘plong’ dari belasan, puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan target perjuangan kehidupan yang belum terealisasikan dan selama ini  menjadi beban hati dan pikiran saya.

Dengan mobilitas yang tinggi dan semakin tinggi belakangan ini, boleh dikatakan bahwa hampir setiap menit hari-hariku adalah catatan sejarah yang sangat menarik untuk dibagikan kembali kepada orang-orang yang dekat di hati…

Adalah Propinsi  Riau. Wilayah ini termasuk daerah paling sering saya kunjungi dalam dua tahun belakangan ini, selain Banten, Katim, dan Kalsel. Dan Kota Pekanbaru adalah destinasiku hari ini. Perjalanan mengajar kali ini bukan sekedar sharing saya sebagai seorang artis atau publik figur kepada penggemarnya.

Pengalaman pertama, tugas saya adalah memberikan pencerahan kepada kelompok administratif eselon 2, 3, dan 4 di Pemda (Pemerintah Daerah) Propinsi Pelalawan, Propinsi Riau –kerja pendidikan bersama kelompok resmi kenegaraan bernama LAN (Lembaga Administrasi Negara). Daerah ini baru saja ‘kehilangan’ bupatinya, karena harus bertanggung jawab atas seluruh dakwaan kejahatan lingkungan hidup dipengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi).

Besar kemungkinan kasus ini  juga menggiring Gubernur Riau, Rusli Zaenal (RZ). Indikatornya, RZ minggu lalu telah dihadirkan di dalam sidang terbuka di pengadilan Tipikor sebagai saksi. Seperti yang sudah-sudah, begitu berhasi tergiring menjadi saksi, maka langkah selanjutnya bagaikan berjalan di sehelai rambut.

Dari berbagai macam kasus korupsi dengan melibatkan para pejabat tinggi negara dan daerah, saya lalu bertanya-tanya dalam hati. “Benarkah

Indonesia

sudah merdeka? Lalu kenapa manusia mudah terseret dalam irama permainan yang pada akhirnya menjerumuskan mereka ke wilayah terbukanya aib? Mengapa para koruptor tidak berpikir panjang, terutama beban psikologis yang diderita anak istrinya manakala kasusnya terungkap?”

Saya mengambil nafas sejenak. Lalu tertawa geli dan geli. “Oh… ternyata mereka belum memasuki wilayah kesadaran yang hakiki. Jadi wajar sajar kalau perilaku-perilaku buruk yang merugikan diri sendiri, anggota keluarganya dan orang lain itu terus saja terjadi dan tidak bisa dihentikan.”

Kedua, Propinsi Riau sebagai wilayah dengan PAD (Penghasilan Asli Daerah) kedua tetinggi setelah Kalimantan Timur, seharusnya diagaram laju peningkatan masyarakat miskinnya terus menurun lalu bertemu di ujung titik alpha. Kenyataannya, ketika PDB (Pendapatan Domestik Bruto) provinsi itu naik, angka kemiskinan juga naik?

Hipotesaku mengatakan, ini pasti ada yang salah dan tidak benar. Dan ternyata ketika diuji ulang, hipotesaku itu terbukti benar adanya, karena faktor eror yang didapatkan saat penghitungan sangat dominan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… ternyata hukum di Propinsi Riau secara khusus dan Indonesia secara umum tidak berjalan dengan baik dan benar. Tidak pernah jalankah? Atau pernah jalan, namun sekarang sedang tidak jalan? Masihkah ada asa untuk dijalankan agar negeri yang sangat elok ini kembali mendapatkan keberkahan dari Allah  Jalal-jalalu?

Fatabiqul khoirat, berlomba-lomba di dalam kebaikan. Demikian yang sering kita dengar selama ini. Sudah lama kita tak mendengar elit pemimpin nasional di negeri ini mengajak kita semua –rakyat Indonesia– untuk berlomba-lomba hidup di jalan yang lurus –jalan yang diridhoi Tuhan.  Tugas memperbaiki akhlak ini tak hanya dilakukan oleh para ustad dan ustadzah yang sering muncul di radio maupun televisi, tetapi para pemimpin negara sudah saatnya memiliki peranan yang sama.

Seorang pemimpin harus mampu membawa rakyatnya bergerak  menuju surga al-jannah. Seorang pemimpin harus mampu meng-influence bangsanya bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, karena itu berlomba-lombalah mengumpulkan kebaikan. So… Apa yang kita tanam hari ini, pasti akan kita tuai esok hari. Bagaimana mungkin manusia bisa memetik buah yang ia rindukan, sedangkan lahan itu tak pernah dicangkulnya, ditaburi benih dan dirawatnya?

Leave a Reply