Kena Getahnya

Saturday, 22-11-2008 | 16:03 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

PELAJAR Jakarta kena getahnya. Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan peraturan baru  –memajukan jam masuk sekolah– buat para pelajar, terkait dengan upaya mengurai kemacetan. Jika aturan baru itu gol, maka mereka sudah harus berada di dalam kelas pukul 06.30 WIB.

PARA pelajar sendiri, sebagian ngomel lantaran kebijakan itu dinilai aneh dan berimplikasi kepada kebiasaan hidup mereka. Wakil Gubernur DKI (wagub) Prijanto menghimbau agar masyarakat tidak menggerutu. “Jangan gerundul (menggerutu). Itu kan hanya yang biasanya bangun siang, seperti Anda para wartawan,” ujar wagub kelahiran Ngawi.

Ada dua hal yang harus kita garis bawahi. Pertama, soal kemacetan dan kedua menyangkut kebiasaan para pelajar. Menyangkut kemacetan di Ibu Kota, penyebabnya bermacam-macam. Misalnya, ruas jalan yang tersedia tak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada. Data dari Badan Pusat Statistik (2006), jumlah kendaraan bermotor mencapai 7.773.957 unit. Rinciannya, mobil 1.816.702 unit, sepeda motor 5.136.619 unit, angkutan barang 503.740 unit, sedangkan bus hanya 316.896 unit.

Sedangkan, luas ruas jalan di Jakarta hanya mencapai 27.340.000 meter persegi. Bila semua kendaraan bermotor yang ada di Jakarta semuanya keluar kandang, ada kemungkinan ekornya bisa mencapai Bekasi atau Tangerang. Fakta itu membuktikan bahwa pemerintah sekarang mulai gerah, lalu muncul ide-ide liar seperti mengubah jadwal masuk para pelajar. Kenapa pelajar? Kok enggak PNS, karyawan swasta atau TNI/Polri dan lainnya.

Sebenarnya, arus lalu lintas di Jakarta akan bisa bernafas dengan baik kalau, biang atau penyebab kemacetan diselesaikan lebih dulu. Kita semua tahu bagaimana tingkat kedisiplinan para pengemudi angkutan umum yang begitu rendah, berhenti seenak udelnya tanpa memperhatikan tingkat kepentingan orang lain.

Ambil contoh saja, di perempatan Slipi menuju Palmerah, Jakarta. Bertahun-tahun sopir angkota ngetem seenak udelnya. Begitu mulutnya ‘pintunya’ dihambat, maka kemacetan akan menjalar hingga sampai ke Jalan Gatot Subroto. Sudah berapa juta pengemudi kendaraan yang mengumpat dan mencaci maki mereka (pengemudi), tetapi mereka tetap saja berhenti mengambil penumpang sesuka-sukanya.

Aparat kepolisian? Ada, tetapi apa daya tangan tak sampai. Akibatnya budaya menutup mulut jalan, seakan menjadi hal biasa. Begitu juga di kawasan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Berapa banyak angkot yang melawan arus dan memarkirkan kendaraan tidak pada tempatnya. Polisi? Tutup mata atau memang tak mampu mengatasi problem-problem yang menyangkut kepentingan publik. Soal lain, berapa banyak ruas jalan di Jakarta yang tersumpal kaki-kaki meja PKL? Belum lagi lampu lalin yang kerap mati. Ditambah dengan meningkatnya pasukan bermotor dan bus way.

Ruas jalan yang tadinya agak lebar, kini semakin sempit karena bus way mendapat prioritas. Padahal, semangat awal bus way sengaja dimunculkan, supaya warga Jakarta tak lagi membawa kendaraan pribadi ketika melakukan kegiatan sehari-hari. Nyatanya, Jakarta tambah ruwet. Sekarang, ketika semua orang lelah, capek, mengeluh, cemas, pusing akibat ruwetnya arus lalin, pelajar seakan-akan menjadi ‘kelinci percobaan’. Berhasilkah?
***

PROBLEM kedua. Jika kebijakan mengubah jadwal masuk jadi diketok, maka tidak hanya pelajar saja yang akan mengalami tekanan fisik dan psikologis. Para orang tua, juga akan terkena imbasnya –kerepotan membangunkan anaknya. Coba kita hitung dari jam ke jam kegiatan para pelajar.

Seorang pelajar bangun antara pukul 05.30-06.00. Setelah itu mandi, pakai pakaian, memeriksa buku lalu berangkat ke sekolah. Bagi yang tak punya kendaraan, mereka harus jalan kaki lebih dahulu menuju ke tempat angkot. Berapa waktu yang tersita? Belum lagi menunggu angkot yang notabene selalu penuh sesak di pagi hari.

Praktis, banyak pelajar yang terlambat sekolah. Itu dengan asumsi kalau mereka masuk pukul 07.00. Nah, kalau jadwal diubah sesuai keinginan para penguasa, maka tak menutup kemungkinan mereka akan bangun pukul 05.00.

Ironisnya, sekolah di era dulu dengan sekarang rada berbeda. Anak saya saja, pelajar SMAN di Jakarta kelas satu, hampir setiap hari tiba di rumah antara pukul 16.00-17.00. Padahal, berangkat pagi hari pukul 06.30 mengendarai sepeda motor. Kenapa pulang terlalu sore? Bukan persoalan jarak tempuh, tetapi mata kuliah yang diajarkan begitu banyak ditambah kegiatan ekstra kulikuler.

Sesampainya di rumah yang terdengar dari bibir anak saya hanyalah keluhan. “Lelah… capek…” Lalu setelah makan, ia tertidur beberapa jam. Bangun menjelang Maghrib. Usai mandi, buku pelajaran dibuka. Semua PR dikerjakan hingga pukul 21.30. Belum lagi kalau ada PR mencari data di internet. Mau tidak mau harus ke warnet, antre hingga pukul 22.00. Nyampai di rumah, mata sudah memerah dan fisik sudah lelah.

Rutinitas itu ditambah lagi dengan kegiatan ekstra tambahan yang diwajibkan orang tua kepada anaknya. Misalnya, mengikuti kursus Bahasa Inggris atau bimbingan belajar (bimbel) dan kursus yang terkait dengan kegiatan seni.

Sama halnya yang dialami anak saya yang duduk di bangku SLTP. Hampir setiap hari, ia terlihat panik setelah bangun pagi, setelah semalaman menghabiskan waktu mengerjakan sejumlah PR yang diberikan masing-masing guru.

Situasi dan kondisi semacam itu jika dibiarkan berlarut-larut mau tidak mau mengakibatkan para pelajar menjadi kontraproduktif ketika mereka tak lagi mampu menghadapi tekanan eksternal yang luar biasa beratnya. Bagi siswa yang merasa lemah, akhirnya ngasal, bermalas-malasan bahkan rajin bolos. Konsekuensinya, nilai raportnya sudah dapat ditebak.

Lalu apa implikasinya kalau kebijakan baru itu diterapkan. Saya yakin, daya serap para pelajar akan menurun. Mengapa? Biasa diibayangkan bagaimana otak bisa bekerja dengan sempurna, kalau ketika berada di dalam kelas mata mereka masih memerah dan selalu mengguapppppp……….. Pernakah para penguasa peduli dengan kondiisi kejiwaan pelajar?  Tanyakan kepada jiwa, hati dan pikiran mereka…

Wajar kalau sekarang ada beberapa rekan saya yang lebih suka memilih menyekolahkan anaknya ke Singapura untuk sekolah lanjutan tingkat pertama, dibanding melanjutkan sekolah di negeri ini. “Di Singapura lebih tertib dan teratur. Buktinya, anak saya yang baru beberapa bulan sekolah di sana, kemandiriaannya lebih cepat terbangun. Misalnya, kalau ada waktu libur, anak saya berani pulang sendiri ke Indonesia dan kembali tepat waktu ke Singapura. Selain itu, intelektualnya benar-benar kelihatan,” kata teman saya.

Leave a Reply