ABG dan Gunung Berjalan

Thursday, 27-11-2008 | 4:00 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

JALAN-jalan ke Samarinda, Kalimantan Timur, jangan lupa mampir ke Rumah Makan Wong Solo. Letaknya, menghadap Sungai Mahakam. Dari tempat inilah, kita bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa kayanya Kalimantan Timur. Sayangnya angka kemiskinan hingga Maret 2007 masih mencapai 11,04 persen (324,8 ribu orang). Angka yang terus meningkat selama tiga tahun terakhir.

TIGA gunung berwarna hitam itu terlihat dari kejauhan. Sambil menikmati ayam penyet di RM Wong Solo, rekan-rekan saya bercerita panjang lebar tentang fenomena ala Monas yang terjadi di Samarinda.

Kata mereka, dalam beberapa tahun terakhir di sekitar tepian Sungai Mahakam, banyak ABG yang menemani para pembeli makanan yang juga dijajakan ABG. “Mereka akan menemani kita minum. Tapi setelah itu, kita harus memberi tips kepada mereka Rp 20 ribu per orang. Biasanya yang menemani bisa empat sampai lima orang. Itu hanya menemani saja lho…,” kata rekan saya. Anda kok tahu? “Dulu saya juga sering nongkrong di situ. Akhirnya saya kapok. Habis harus bayar sih,” kelakarnya.

Jawaban cerdas. Konco saya itu sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Artinya, dia sudah mulai berhitung untuk masa depannya, lebih-lebih di era seperti iniĀ  mencari duit susahnya minta ampun. Sama halnya yang dilakukan para ABG –menemani tamu/pembeli. Coba kalau negara menjamin kesejahteraan penduduknya, tentu saja anak-anak bangsa itu tak akan mau menggadaikan harkat dan martabatnya hanya untuk sesuap nasi.

Dulu, di Monumen Nasional (Monas), fenomena semacam itu berjalan bertahun-tahun. Sekarang, mereka tersingkirkan setelah pemerintah DKI melakukan gerakan pemagaran di areal Monas.

Mungkin jawaban yang sama akan keluar dari bibir para wanita-wanita cantik yang tersebar di gedung-gedung bertingkat berkedok pusat kebugaran yang ada di Jakarta. Prostitusi terselubung itu juga sudah berjalan bertahun-tahun, berganti-ganti pengelola dan penghuni. Sampai kini saya tidak pernah mendengar ada niat baik dari pemerintah untuk membahas dan mencarikan jalan keluarnya.

Ingin tahu penderitaan mereka? Datang saja sendiri dan tatap mata para wanita yang ada di sana, lalu ajaklah berdialog. Ada tangisan terpendam yang tak pernah berhenti dari dalam hati kecil mereka. “Wartawan kan bisa mengangkat penderitaan mereka?” tanya seorang rekan saya sambil minum teh hangat.

Saya jelaskan, “Wartawan itu bukan pengambil kebijakan atau keputusan. Kita ini bukan pemerintah, kita tugasnya hanya menyampaikan fakta apa yang sedang terjadi di masyarakat. Nah, selanjutnya… terserah sang penguasa. Kalau penguasa ndablek, tutup mata dan telingga, ya sudah… semuanya akan seperti ini. Mau rusak monggo… toh negara ini bukan milik kita sendiri, tetapi milik semua anggota masyarakat dan milik para calon bayi yang rohnya masih di awang-awang sono,” kata saya.
***
EITttt…. hampir lupa soal gunung berjalan. Lamat-lamat sambil ngobrol, saya perhatikan gunung berwarna hitam itu. Dari kejauhan, gunung itu kelihatannya terus berjalan mendekat ke arah kami melalui Sungai Mahakam. “Itu gunung apa? Kok bisa berjalan…?” pancing saya setengah meledak. “Lha… masak sih enggak tahu. Itu batu bara yang sedang diangkut tongkang,” sahut seorang diantaranya.

Sejam kemudian, ‘gunung batu bara’ itu semakin mendekat. Wow… menakjubkan, sambil mengelus dada. Sekilas kalau dilihat, tongkang itu bentuknya empat persegi panjang dan ditarik kapal tunda tug boat. Lantaran berat batu bara yang diangkut mencapai puluhan ribu ton, maka lambung tongkang tak bisa terlihat.

Tak sampai lima menit, dari arah lain muncul kapal cukup besar. “Itu kapal apa lagi?” “Lha itu tongkang yang mengangkut batu bara. Kalau dia lagi tak ada muatannya, lambungnya kelihatan. Mirip kayak kapal penumpang, semuanya terlihat dengan utuh,” jelas rekan saya.

Dari arahy berbeda, muncul gunung warna coklat yang juga sedang berjalan melintas di Sungai Mahakam. Dari dekat saya sedikit kaget. Ternyata bukan batu bara, tapi kayu yang sudah diolah. “Ada kemungkinan itu kayu Ulin. Tapi, masih muda. Buktinya, potongannya tak begitu besar 8 x 8,” tambah rekan saya.

Sayang, saya tak tahu berapa jumlah batangan kayu yang diangkut. Tetapi, menurut estimasi saya, jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu. Padahal, beberapa hari lalu, teman saya membeli sebatang kayu Ulin ukuran 8 X 8, harganya Rp 80.000 per batang. Nah, kalau estimasi saya benar, berarti kayu satu tongkang dikalikan Rp 80.000, wow… besar banget. Lha kok, masih ada pelajar jalan kaki tanpa alas kaki, masih ada pelajar yang menrindukan bus sekolah, masih ada pelajar yang kesulitan buku, masih ada pelajar yang susah bayar uang sekolah, masih ada pelajar yang tak bisa menikmati kehidupan modern di Kalimantan Timur? Kok bisa ya… Tanyalah kepada sang penguasa Kaltim.

Hilir mudiknya batu bara dan kayu hasil hutan, seakan menjadi pemandangan yang wajar-wajar saja di Bumi Borneo. Potensi batu bara di Kaltim, sangat besar. Mencapai 22 milyar metrik ton dan hingga kini yang di produksi rata-rata sekitar 40 juta juta ton/tahun.
Dengan potensi itu, Kaltim seharusnya mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar berupa batu bara untuk pabrik baja di sejumlah negara, misalnya Korea yang produksinya mencapai 17 juta ton baja/tahun.

Batu bara Kaltim cukup diminati negara-negara di seantero dunia untuk berbagai macam kebutuhan, seperti pembangkit listrik. Sementara di Kaltim sendiri, listriknya masih byar pet karena keterbatasan energi. Aneh tapi nyata. Sampai kapan? Tanyalah kepada para penguasa.

Belakangan, ada upaya dari pemerintah untuk menghentikan pemberian izin kepada KP-KP. Alasannya, KP-KP dikhawatirkan akan merusak lingkungan. Berapa lubang-lubang bekas galian penambangan yang belum tertimbun? Lagi-lagi tanyakan kepada para penguasa. Sementara penguasa sendiri, menjanjikan angin segar (temuan baru) di bekas galian batu bara.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro ketika berrtemu saya beberapa bulan lalu di Jakarta mengatakan, “Era minyak sudah surut, sekarang kita ganti dengan batu bara dan gas. Batu bara dan gas menjadi energi primadona dan paling murah yang berlimpah di negara kita. Saat ini kita mulai eksplorasi gas alam, coal bed methane.”

Cadangan CBM secara nasional mencapai 453 triliun standar kaki kubik atau trillion standard cubic feet (TSCF). Konsentrasi potensi terbesar terletak di Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimantan Timur, antara lain tersebar di Kabupaten Berau dengan kandungan sekitar 8,4 TSCF, Pasir/Asem (3 TSCF), Tarakan (17,5 TSCF), dan Kutai (80,4 TSCF). Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah (101,6 TSCF). Sementara itu di Sumatera Tengah (52,5 TSCF), Sumatera Selatan (183 TSCF), dan Bengkulu 3,6 TSCF, sisanya terletak di Jatibarang, Jawa Barat (0,8 TSCF) dan Sulawesi (2 TSCF).

Bentuk CBM sama halnya dengan gas alam lain. Dapat dimanfaatkan rumah tangga, industri kecil, hingga industri besar. CBM biasanya didapati pada tambang batu bara non-tradisional, yang posisinya di bawah tanah, di antara rekahan-rekahan batu bara. Agar lebih mengunutngkan, CBM lazimnya dieksplorasi setelah batu baranya habis ditambang. Saat ini, kabarnya ada 20 perusahaan antre mendapatkan izin eksplorasi CBM, di antaranya perusahaan swasta pemilik kuasa pertambangan batu bara.

Pengembangan teknologi untuk mengekstrak sumber energi, kali pertama dilakukan di Amerika Serikat –Alabama dan Colorado Selatan pada akhir tahun 1980. Di Amerika, gas alam jenis CBM mencapai 7 persen dari total produksi. Negara lain yang sudah mengembangkan CBM antara lain Afrika Selatan, Australia, dan Kanada.

Rencana besar manusia itu membuat alam Borneo tertawa dan sedih mellihat ulah-ulah atau kecerobohan mnanusia yang tak pernah puas. Alam yang sifatnya memberi, tak mampu melakukan perlawanan ketika tubuhnya disakiti –rambutnya ditebangi, kulitnya dikelupas dan perutnya diobok-obok.

Ketika upaya mengobok-obok alam melalui rongga mulutnya dianggap keterlaluan, dikhawatirkan sang alam mual lalu muntah melahirkan bencana dan menyisakan tangisan nan menyayat. Akankah kesadaran itu lahir setelah alam menampilkan diri siapa sesungguhnya saya lalu menelan korban tak terhingga?

Leave a Reply