Sang Bayi…
Sunday, 30-11-2008 | 12:30 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
BAYI berusia 57 hari itu hanya terselimuti selembar kaos kusam warna kuning. Sekilas wajahnya amat mungil… Berbekal selembar jarik, emaknya tak lelah mengendong sang bayi. Bayi itu dibawanya kesana kemari, sambil sang emak menadahkan tangan. Rintihan suara sang emak mengharap belas kasih demi sesuap nasi, tentu saja didengar sang bayi walau usianya belum menyentuh angka dua bulan.
SANG emak tak bisa mendengar. Mata hatinya belum setajam sang bayi. Ada suara protes dari sang bayi. Kenapa emak harus mengemis? Kenapa emak hidup terlunta-lunta ditengah-tengah kehidupan serba mewah seperti sekarang ini? Kenapa emak hanya mambelikan baju kumal? Kenapa…. Kenapa?
Sayang… protes sang orok tak didengar emaknya. Emaknya hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kelebihan untuk mendengar suara hati dari sang anak. Emaknya bukan seorang nabi atau malaikat. Andai sang emak mendengar protes sang bocah, mungkin hati sang emak akan terbakar… Terbakar sebuah kekuatan dasyat yang akhirnya melahirkann spirit baru.
Spririt baru terbangun dari keadaan atau kondisi serba kecepit alias kepepet —penindasan, kesewenang-wenangan, pendzhaliman, penistaan dan lain-lain.
Sebaliknya, ada juga manusia yang tak mau berubah walau sehari-hari mereka hidup dalam keadaan seperti itu. Nrimo, apa adanya atau pasrah dan hanya berharap kepada Tuhan, merupakan jalan terbaik. Itu persepsi mereka. Persepsi yang mungkin saja bisa keliru dan bertentangan dengan logika umum.
Apalagi Tuhan sendiri tidak akan mau memberi sesuatu atau mengabulkan mimpi-mimpi dari manusia-manusia yang tak memiliki semangat hidup. Tuhan juga ogah dengan manusia-manusia yang cenderung berpangku tangan alias pasrah dengan nasibnya. Bukankah Tuhan sudah menganjurkan agar manusia bertebaran di muka bumi untuk mencari nafkah? Buat sang pengemis… mungkin ia sudah memahami firman Tuhan.
MATA wanita itu masih menerawang jauh. Entah apa yang ia pikirkan. Jauh-jauh berangkat dari sebuah desa di Indramayu, wanita itu sengaja melangkahkan kakinya menuju Jakarta. Ia berangkat bersama dua anaknya –satu masih orok dan satu lagi usianya baru empat tahun (seumur anakku). Kedua anaknya amat lugu.
Selama door to door, bocah itu kerap merenggek minta dibelikan sesuatu. Tapi, lagi-lagi sang emak tuli. Ia bukannya tak mau mendengar suara rintihan anaknya, namun keadaanlah yang membuatnya menutup mata, telingga dan hati. Andai saja ia punya sawah yang luas, tak mungkin ia tega membawa dua anaknya ke Jakarta.
Jakarta, bukanlah kota yang menjanjikan. Kota yang sebagian besar dihuni oleh para pencari rezeki dari belahan daerah, kelihatannya menjanjikan segudang harapan buat sang emak. Andai saja suaminya bekerja dengan penghasilan cukup tinggi, wanita itu tak mungkin pergi ke Ibu Kota.
“Kami hanya peminta-minta. Anak kami tujuh orang. Yang besar usianya 17 tahun. Ia putus sekolah. Tinggal adik-adiknya yang masih duduk di bangku SMP. Sedangkan yang ini (menunjuk anaknya berusia empat tahun) belum saya sekolahkan karena masalah biaya,” katanya.
Mendengar penjelasan itu, hatiku berkecamuk…. Penjelasan dari seorang pengemis yang jujur itu membuat mataku terbelelak. Darah dagingku ikut bergejolak. Sel-sel syarafku yang tadinya mengendor mendadak tegang. Bulu-bulu di kulitku berdiri. Air mata… berusaha aku tahan agar tak jatuh ke dasar bumi. “Beginikah wajah Indonesia? Beginikah janji-janji yang diberikan pemimpin bangsa? Beginikah cara negara mengelola rakyatnya? Yang jelas… ini adalah kesalahan struktural dari sebuah negara. Andai saja sang ibu itu ketika muda bisa menempuh pendidikan tinggi, tentu saja anaknya tak terlantar seperti ini.”
Raut wajah wanita itu masih menatapku dengan tajam, setelah aku sodorkan beberapa lembar uang recehan. Ketika itu, ia berdiri di balik pintu warung sambil menatapku. Di meja warung yang ada di depanku tersaji sepotong ayam baker, lengkap dengan nasi, lalapan dan sambal. Sang bocah yang masih berusia empat tahun juga melihatku dengan penuh keraguan. Entah apa yang mereka rasakan ketika melihat makanan selezat itu.
“Bu… mari masuk… Silakan makan sekenyang-kenyangnya,” pintaku. “Tidak Nak… Terima kasih…? Saya malu… Saya maluuu…,” katanya berkali-kali sambil menepis tanganku yang ada di bahunya. Saya bisa memahami kenapa wanita itu menolaknya. “Bu… saya ikhlas… silakan anaknya diajak makan,” pintaku sekali lagi sambil menyuruh sang pedagang membuatkan makanan buat mereka. Perlahan.. akhirnya wanita itu mau juga. Ia duduk di deretan bangku dekat pintu. “Terima kasih Nak…. Terima kasih…” katanya.
Sang orok yang digendongnya masih terlihat lelap. Pelan-pelan aku dekati sang orok. Bajunya warna kuning. Ketika baju itu aku pegang, sang wanita itu mengatakan, “Baju ini… hasil pemberian dari orang lain…” Hatiku tambah bergetar. Mengapa? Aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau malam tiba? “Masya Allah… Apa sang orok tidak kedinginan?” tanyaku dalam hati.
Seakan ada yang menyuruh, aku lalu merogoh dompetku. “Tolong nanti ibu belikan dia pakaian…..” Isak tangis mendadak meledak. Ia mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Aku hampir tak percaya…. Ternyata uang yang tak begitu besar nilainya, sungguh… amat-amat berarti buat orang kecil seperti sang ibu. “Tuhan, andai saja aku mampu secara materi, akan kuambil dan kurawat bocah-bocah itu. Lalu mereka kutimang-timang…. Maafkan aku Tuhan yang telah menceritakan pengalaman bathinku kepada manusia-manusia lain. Bukannya aku berniat untuk riak atau menyombongkan diri… Tetapi, aku ingin menyentuh empati dari mereka-mereka berkantong tebal agar mau berbagi kepada saudara-saudaraku yang lain…. Terima kasih Tuhan atas ‘ayat’ yang engkau tunjukan kepadaku…”
Tuhan… aku percaya dan yakin… bahwa Engkau akan merawat bocah-bocah itu. Engkau akan memberikan yang terbaik buat mereka. Berilah mereka rezeki berlimpah, kesehatan, panjang umur dan kebahagian dunia-akhirat. Amien… Doa yang tulus itu dalam hitungan detik terjawab. Rupanya, ketika terjadi dialog antara saya dengan sang pengemis, seorang pembeli lainnya telah memperhatikannya. Lelaki yang duduknya agak jauh dari kursi, tiba-tiba bangkit dan berdiri.
“Bu… saya sudah pesan 10 potong ayam bakar berikut nasinya. Nanti ibu bawa pulang saja ke rumah buat anak-anak,” pesan lelaki itu. Spontan, isak tangis kembali terdengar. Alam kemudian bergetar… ikut merasakan betapa sejuknya tetesan air mata kaum papa yang meresap ke sela-sela tanah lalu bergerak menuju bebatuan, kemudian melambung ke angkasa dan menjadi saksi bahwa masih ada empati di Ibu Kota…. (Achmad Subechi)













