Adopsi…

Monday, 1-12-2008 | 6:49 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

PULUHAN pohon kelapa itu tak juga tumbuh dengan sempurna. Daun-duannya sebagian kelihatan menghitam, kurang terawat. Padahal tanaman itu sudah cukup lama ditanam, tak jauh dari bibir pantai Balikpapan, Kalimantan Timur. Di bawah pohon tertera nama tokoh-tokoh pejabat negara. Kelihatannya, penanaman pohon kelapa itu  dulu bagian dari rangkaian reboisasi.

TANGGAL 28 November kemarin, pemerintah secara serentak mencanangkan sebagai hari gerakan menanam dan bulan menanam. Semua pejabat heboh. Begitu juga para pimpinan di daerah. Ribuan orang dikerahkan. Sejumlah perusahaan diminta mengirimkan sejumlah perwakilannya untuk ikut cangkul-mencangkul.

Pendek kata, hari itu semua manusia di seantero Ibu Pertiwi, heboh. Mereka baru eling kalau gerakan itu tak dilakukan, maka bencana akan mengintai keselamatan manusia. Kesadaran itu tumbuh setelah dunia internasional mulai serius melempar isu global warming. Dan harus diakui salah satu penyebab utama terjadinya pemanasan global adalah ulah (aktivitas) manusia.

Dibalik gencarnya gerakan menanam untuk menyelamatkan penghuni Bumi, dari Bumi Borneo (Kalimantan), penebangan pohon tetap saja berlangsung baik dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Coba lihat saja apa yang terjadi di areal hutan penelitian dan wisata Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto.

Di sepanjang kawasan menawan itu, dalam beberapa bulan terakhir berdirilah rumah-rumah liar (warung) yang jumlahnya kian hari kian bertambah. Untuk mendirikan warung, mau tidak mau pohon-pohon yang ada di tepi jalan digorok kakinya hingga putusssss. Pohon pun menangis, tapi manusia tak mendengar jerit tangisnya.

Setelah pohon itu tak berdaya, berdirilah bangunan dari kayu. Para pemilik kemudian menjadikan lahan itu menjadi warung untuk melayani sopir truk atau kendaraan pribadi. Menjamurnya warung-warung liar  itu, terjadi sejak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) melalui Dinas Perhubungan, membangun kawasan tempat peristirahatan sementara (stop over) di areal hutan penelitian dan wisata Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto.

Sejak pembangunan stop over di Km 54 dimulai, masyarakat setempat mulai berebutan membangun warung di tepi jalan. Diharapkan, ketika proyek itu selesai, mereka akan mendapat tempat yang telah disediakan. “Kami.. kami katanya sih nantinya akan dipindah kesana Pak,” kata seorang wanita pemilik warung kepada saya.

Dari balik warung saya amati, alat-alat berat menerabas hutan lalu menumbangkan pohon-pohon. Pohon-pohon itu lagi-lagi menjerit kesakitan dan tamatlah riwayatnya. Belum lagi tanaman kecil-kecil dari beragam jenis yang tadinya menitipkan diri untuk sesaat di kulit Bumi, ikut tergerus. Kawasan yang tadinya hijau, seketika berubah menjadi coklat (warna tanah) setelah ‘rambut’ Bumi dikelupas perlahan-lahan. Padahal, Tahura Bukit Soeharto merupakan kawasan konservasi seluas 61.000 hektare yang merupakan eks-Hak Pengusahaan Hutan (HPH) pada era 1970-an hingga 1980-an. Di kawasan itu terdapat hutan penelitian Universitas Mulawarman dan ribuan hektare hutan reboisasi, serta reklamasi dari perusahaan HPH dan pertambangan di Kaltim.

Seorang pejabat di Pemprov Kaltim pernah mengatakan, stop over dibangun untuk memberikan kenyamanan bagi para pengguna jalan rute Samarinda-Balikpapan. Selama ini banyak kendaraan berupa truk dan bus berhenti di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak ketika melakukan rute pejalanan dari Samarinda-Balikpapan atau sebaliknya.
“Kalau ada tempat istirahat sementara, mereka pasti tidak stop seenaknya di pinggir jalan, karena mengganggu pengguna jalan lainnya,” katanya.

Apalagi, jalur jalan yang digunakan untuk beristirahat itu, kata sang pejabat tadi merupakan jalur lurus yang sangat riskan terjadinya kecelakaan karena hampir semua kendaraan dalam kecepatan tinggi.
***
SAYA hanya geleng-geleng kepala mendengar penjelasan para pejabat itu. Kalau hanya sekedar untuk mengantisipasi terjadinya kasus kecelakaan, kan cukup ditempatkan rambu  dilarang berhenti. Kalau ingin memberikan ruang kepada pengemudi yang ngantuk, boleh-boleh saja dibangun tempat peristirahatan, tetapi ya mbok jangan di kawasan konservasi.

Tanpa berburuk sangka, saya khawatir pembangunan stop over itu hanya entry point dari rencana besar pihak ketiga yang ingin melibas kawasan konservasi itu hanya untuk kepentingan ekonomis semata. Sebab, di bawah tanah kawasan Bukit Soeharto, kabarnya memiliki kandungan batu baru dengan kualitas cukup ciamiikkk…

Kembali kepada gerakan menanam, saya khawatir upaya dari pemerintah itu hanya sekedar gerakan basa-basi, ditengah derasnya ‘tuntutan’ internasional kepada masing-masing negara agar peduli kepada pemanasan global. Lalu siapa yang akan merawat berjuta-juta pohon yang telah ditanam? Siapa yang memberi pupuk dan menjaganya?

Biasanya, gerakan yang sungguh mulia itu sifatnya hanya formalitas belaka, seperti nasib pohon kelapa yang ditanam para pejabat Jakarta di Balikpapan. Setelah diberi nama, lalu sang penanam tak lagi pernah tahu apakah pohonya mati atau hidup. Begitu juga pohon-pohon besar yang ada di Bukit Bangkirai, Balikpapan. Hampir semua pohon besar sudah diadopsi oleh para pejabat. Menempelah nama mereka di papan, di depan pohon-pohon raksasa itu. Bagaimana perkembangan ‘anak asuhnya’ setelah diadopsi, apakah mati kena petir, mati karena tua atau mati karena tangan jahil, sang pengadopsi juga kagak pernah tahu.

Cukup… dan hentikan budaya latah. Negeri ini tak butuh manusia yang ikut-ikutan, apalagi tanpa mengetahui dengan dalam apa filosofi atau makna dari gerakan itu. Sebaliknya, negeri ini membutuhkan manusia-manusia yang visioner, tulus, ikhlas, baik hati dan tanpa pamrih dalam melakukan perbuatan…. (achmad subechi)


Leave a Reply