Manusia…

Monday, 1-12-2008 | 6:44 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

TEMAN saya masih muda. Ia seorang hakim. Hidupnya sangat-sangat sederhana. Setiap hari ia naik motor butut. Kestika saya perkenalkan kepada rekan-rekan komunitas saya, sebagian besar tidak percaya kalau ia seorang hakim yang bertugas di sebuah kota cukup mapan di Kalimantan Timur.

“Ah… gue kagak percaya. Mana ada di zaman sekarang ada hakim naik motor. Penampilannya pun juga meragukan,” kata teman saya. Mendengar keraguan itu saya tertawa dalam hati. “Kok masih ada ya manusia pintar, tetapi menilai orang hanya dari satu sudut pandang, penampilannya saja,” guman saya dalam hati.

Pak hakim yang satu ini amat tekun beribadah. Selama menjalankan profesinya, ia tahu ada celah-celah yang bisa dimainkan perkaranya. “Tapi apa itu yang harus kita cari? Manusia ini kan hidupnya hanya sekali. Setelah itu ia masuk ke alam keabadian,” katanya pada suatu hari.

Beberapa hari lalu ia datang ke kantor saya, biasa hanya sekedar berdiskusi tentang apa saja, termasuk menyangkut bagaimana nasib negeri ini ke depan pasca para pengelola negara sudah dicabut SIM-nya (Surat Izin Menetap) di Bumi. “Jujur saja, saya sebenarnya stres berat. Bukan persoalan tidak mampu menangani perkara yang akan saya sidangkan, tetapi saya heran dan heran,” tuturnya.

Kenapa heran? “Dimana-mana orang selalu membicarakan uang. Di kantin bicara uang, di ruangkan kantor membicarakan uang, di jalan membicarakan uang. Saya sampai-sampai mencari tempat yang sepi agar manusia-manusia itu tak lagi membicarakan uang,” ungkapnya.

Betul yang dikatakan teman saya. Hidup ini kok rasanya seperti dikejar-kejar hantu kalau tidak berbicara soal uang. Bahwa manusia butuh uang untuk menghidupi dirinya, keluarganya dan orang lain adalah wajib hukumnya. Tanpa uang, manusia bisa mati kelaparan, apalagi di zaman yang tak menentu seperti ini.

“Pernakah kita duduk sebentar lalu mengosongkan pikiran dari lembaran rupiah atau dolar?” tanya Pak Hakim. Lagi-lagi saya ketawa ngakak. Bukankah manusia sudah diatur dan bahkan bisa mengatur dirinya sendiri, kapan harus mencari nafkah dan kapan harus beristirahat untuk bercengkarama dengan keluarganya.

“Soal apakah ada waktu luang untuk tak lagi memikirkan atau membicarakan uang, ya itu urusan mereka masing-masing bos. Tergantung kepada mereka juga apa orientasi mereka dalam menjalani kehidupan ini? Sukses itu tak hanya bisa diukur oleh yang namanya materi saja lho. Sukses berumah tangga, sukses mendidik anak, sukses menempatkan diri di tengah pergaulan, sukses dalam melakukan silahturahmi dengan siapa saja, itu adalah bagian dari kesuksesan,” kata saya.

Kadang, rekan-rekan kita, famili kita, kerabat dekat kita, keluarga kita, pimpinan kita dan lain-lain, hanya melihat kesuksesan seseorang itu dari sisi materi. Kalau rumahnya bagus, mobilnya bagus dan semua perabotannya bagus dan karirnya bagus, mereka menilai kita sukses.

Tadi pagi, ketika sarapan di warung, saya bertemu dengan seorang perwira menengah bertugas di salah satu Polres. Penampilannya sederhana. Gaya bicaranya pun santun. Setelah berkenalan, kita ngobrol kesana-kemari soal profesi dia, profesi saya dan soal keluarga. Lelaki itu bangga kepada dirinya, karena ia berhasil mengarungi kehidupan ini dengan keserhanaan dan tidak tamak terhadap harta benda.

Apa yang membuat anda bangga? Lelaki itu segera menunjukan foto anaknya yang ada di pesawat handphonenya. “Ini anak saya. Dia sekarang bekerja di perusahaan asing yang ada di Jakarta. Dia saya didik dan saya sekolahkan dengan keringat yang halal. Alhamdulillah, sebentar lagi anak saya mau dikirim ke Qatar untuk bekerja di sana.”

Saya terharu dan terharu. “Anda memang sukses. Kalau bisa di luar negeri nanti suruh ambil S2 dan S3.” Mata lelaki itu menerawang jauh entah kemana. Ada keharuan yang terpancar dari bintik-bintik putih yang ada di matanya. Saya lalu berdiri menyalaminya. “Sukses ya dan jaga anak-anak agar mereka semakin sukses.”
***
BEBERAPA tahun lalu, saya tinggal di rumah petak yang ada di Jakarta. Ukuran rumahnya 3 X 7 meter. Saya dan keluarga bisa menikmatinya, walau sebelumnya ada tuntutan dari anak-anak agar mereka dibelikan rumah yang layak huni. “Anggap saja rumah ini seperti vila. Kalau perasaan kalian seperti itu, maka kalian akan merasa nyaman,” kata saya kepada anak-anak.

Suatu hari, lewatlah seorang lelaki tua berbadan tambun. Pak Tua itu menawarkan jasa memperbaiki payung. Bajunya terlihat kumal dan berlubang. Begitu juga celananya. Istri saya menghentikan langkahnya. Ada dua payung yang harus diperbaiki.

Dari balik ruang tamu, saya lihat lelaki itu serius mengerjakannya. Sayangnya beberapa menit kemudian, pekerjaannya terusik oleh cuaca. Hujan tiba-tiba turun. Menepi di teras? Mana mungkin. Rumah kami tidak ada terasnya. Selanjutnya, lelaki itu saya suruh masuk ke ruang tamu yang sempit.. “Enggak usah Nak. Ini adalah resiko dari pekerjaan saya. Biarlah saya berhujan-hujan di luar.” Saya tidak tega. Ia saya paksa masuk ke dalam rumah sambil saya buatkan kopi.

Begitu ia masuk ke ruang tamu, saya melangkahkan kaki ke belakang. “Ma… siapkan baju atau celana bekas buat Pak Tua itu. Kasihan dia..” Istri saya lalu mengumpulkannya dan memasukannya dalam tas palstik. Ketika barang-barang bekas itu hendak diberikan, saya agak ragu dengan orang ini.

“Apakah harga dirinya tidak terusik? Kalau ditolak, apa saya enggak malu. Maksudnya sih baik, tapi siapapun dia, kita harus bertanya dulu,” kataku kepada istri. Pak Tua itu saya dekati. Saya ajukan sejumlah pertanyaan tentang profesinya, termasuk anggota keluarganya.

Dia bercerita bahwa istrinya sudah meninggal. Anak-anaknya sudah pada besar dan menetap di Jakarta. Kerja apa? “Anak saya yang pertama adalah perwira dan dia anggota Paspamres.” Hah…. Saya pura-pura tidak terkejut. Trus anak yang lainnya? “Anak saya yang wanita ada dua. Satu kepala sekolah SMEA di Jakarta dan satu lagi guru SMEA di kota yang sama. Sedangkan satunya lagi masih duduk di bangku SMA.”

Kenapa Bapak tidak ikut anak-anak? “Maaf… Bapak dari dulu tidak mau merepoti mereka. Biarlah mereka bahagia dengan keberhasilannya dan Bapak tetap mencari nafkah seperti ini,” katanya. Amat dalam coiiiiiiiiii…………… filosofinya. Hari itu juga, mulut saya hampir tak bisa berkata apa-apa. Keinginan untuk memberi pakaian bekas tidak jadi saya lakukan.

Tetapi, ada hikmah dibalik ‘ayat-ayat’ Tuhan yang bertebaran di muka Bumi. “Jangan melihat penampilan atau fisik seseorang jika hendak memberikan penilaian. Lihatlah hati dan pikirannya sebelum kalian tertipu oleh oleh penilaian yang selalu saja subyektif ” (achmad subechi)

Leave a Reply