‘Syetan’ Penggoda
Thursday, 4-12-2008 | 19:22 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
- HAMPIR dua tahun saya tidak bertemu dia. Dulu ketika di Jakarta, kami kerap cangkruk di Plasa Semanggi. Belakangan, ia sibuk keliling dunia, urusan pekerjaan. Postur tubuhnya, hampir sama dengan saya. Tinggi, kurus dan berkulit hitam. Pengalamannya lumayan banyak di dunia jurnalistik. Apa yang bisa kita petik dari dia?
PENAMPILANNYA biasa-biasa saja. Saat ini ia menduduki jabatan cukup lumayan -–salah satu direktur di perusahaan produsen emas level dunia. Suka memakai kaos oblong dan selalu saja bersandal jepit. Mirip dengan gaya saya sehari-hari. Sebaliknya, ia baru kelihatan perlente kalau sedang bekerja. Penampilan, perilakunya, kekritisannya, kekonyolannya dan hobinya, tak jauh beda dengan saya. Yang membedakan adalah isi dompetnya. Huaha… ha… ha…. Kemana-mana ia selalu membawa kartu charge personal American Express. “Ini unlimited…” katanya suatu hari.Saya tetap tak bergeming dan ngiri dengan ‘kehebatan’ kartunya itu. Dari dulu sejak muncul fenomena maraknya penggunaan kartu kredit, saya sama sekali tidak begitu tertarik. Mengapa? Malas saja dan takut kagak bisa bayar, lalu dikejar-kejar para penagih alias debt collector. Daripada pusing kepala, mendingan bawa tunai saja…
Begitu juga istri saya. Ia juga tidak malu-malu membawa uang berlembar-lembar kalau sedang belanja bulanan ke mall. “Kapan hari sih diperhatikan para konsumen lainnya. Hari gini kok masih bawa duit. Ah.. gue cuek aja,” kata istriku menceritakan.
“Baguslah… Justru kita yang bayar tunai ini lebih terhormat lho. Huaha… ha.. ha…. Nah kalau bawa kartu kredit, itu kan sama dengan tidak punya uang. Ngutang dulu… Hik… hik… hik…..” candaku kepada ibunya anak-anak. Begitu juga setiap kali hendak menginap di hotel. “Punya kartu kredit untuk deposit?” “Gua kagak punya. Yang ada kartu ngutang. Huaha… ha… ha… Okey… tunai saja…” kata saya tanpa malu-malu. Prinsipnya, sing penting bayar dan tidak ngutang.
***
DUA pekan lalu, sahabatku yang satu ini baru pulang dari Eropa. Kamis (4/11) kemarin, ia mengirimkan SMS ke saya. “Kapan kita bisa bertemu? Jam berapa? Saya sudah di Blaikpapan dan menginap di Hotel Novotel.” Wow… kejutan luar biasa…Ternyata dia benar-benar datang ke Balikpapan. Beberapa hari sebelumnya, ia menghubungi saya dan mengatakan baru tiba dari Eropa. Setelah itu akan ke Manado menenggok istri dan anaknya. “Dari Manado, saya akan terbang ke Balikpapan. Di Balikpapan saya enggak ada urusan pekerjaan. Saya sengaja datang kesana hanya kangen dengan anda saja lho Bec… Kita sudah lama tidak bertemu,” tuturnya.
Dia adalah sahabat yang pernah terjun di dunia kewartawanan. Dulu ketika masih tinggal di rumah kontrakan, buku-bukunya segudang. Ia rajin membaca buku. Wajar, kalau disuruh membuat tulisan atau berdiskusi, wow… jangan ditanya. Pengalamannya meliput ke luar negeri, juga tak bisa dihitung. “Hanya ada satu kota yang belum saya injak di dunia ini,” katanya. Kota apa? “Atlanta….”
Atlanta adalah ibu kota negara bagian Georgia, Amerika Serikat yang menjadi pusat perkeretaapian di AS Selatan dan pusat distribusi, industri, perdagangan serta kebudayaan. Pabrik-pabrik tekstil, alat-alat rumah tangga, minyak biji kapas, mesin, alat-alat listrik, sepatu dan obat-obatan. “Suatu hari saya yakin akan bisa jalan-jalan kesana,” bisiknya kepada saya.
Pagi hari, pesawat selulernya saya hubungi. Maksud saya, dia akan saya jempur di bandara. Lagi-lagi Hp-nya tidak aktif. Baru sekitar pukul 17.45, ia mengirim SMS dan mengabarkan bahwa dirinya sudah tiba di Kota Minyak. Malam itu juga saya merapat ke hotelnya. Kami tertawa terbahak-bahak, saat bertemu di lobi hotel. Ia ketawa karena melihat penampilan saya yang hanya mengenakan kaos oblong dan bertopi. Sebaliknya, saya ketawa karena dia juga sama-sama pakai kaos oblong dan bersandal jepit. Penampilan tempoe dulu itu masih saja melekat, kalau tidak ada urusan formal.
“Wah… penampilan kita dari dulu begini-begini saja. Lu juga makin keren Bec… Pakai topi segala, kayak ABG. Huaha… ha… ha… Ayuk kita makan di Bumahai, makanan khas Manado. Tadi saya tanya sopir taksi, katanya Bumahai sudah pindah dekat Bandara Sepinggan.”
Kami berdua berkeliling mencari-cari lokasinya. “Coba tanya dulu ke orang itu?” pinta saya. Ia bergegas turun dari mobil dan bertanya kepada seseorang yang sedang duduk di depan sebuah restoran. Dari balik mobil saya lihat, koncoku melambai-lambaikan tangan. “Ayo turun… Betul di sini tempatnya…”
Saya lalu turun dan melangkahkan kaki masuk ke restoran yang lumayan besar.Saat berada di pintu masuk, sang pelayan menyodorkan sejumlah menu. “Saya ikan bawal dan udang saja. Dibakar, tapi jangan dikasih bumbu apa-apa ya,” kata dia kepada sang pelayan. Sayurnya? “Kangkung saja….”
Sambil menunggu makanan disajikan, kami ngobrol kesana kemari, mengenang kebiasaan masa lalu –berpikir kritis terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk menyangkut masalah-masalah perilaku elit di negeri ini.
Setengah jam kemudian, semua menu disajikan di meja. “Maaf… ini bawang bombai ya? Trus masaknya dicampur dengan kangkung?” tanya teman saya kepada dua orang pelayan. “Betul Pak… Lain kali kalau mau masak kangkung, jangan sekali-kali bawang bombainya dimasak bersamaan. Pasti rasanya berbeda. Jelek-jelek begini saya pakarnya masakan Manado lho… Ini serius. Begitu juga yang ini… (cabe rawit dipotong-potong, lalu dikasih air jeruk). Kok ini rasanya manis? Dikasih gula ya? Usahakan kalau membuat yang semacam ini, jangan ditambah bahan kimia. Kalau mau enak, peras jeruk lalu ambil airnya saja, selanjutnya dicampur dengan tomat. Kalau yang ini… kalian pasti dikasih air ya?,” tanyanya.
Mendengar penjelasan itu, dua pelayan terlihat diam, kecuali ucapan terima kasih yang selalu keluar dari mulutnya. Usai makan, ia bercerita bahwa kita berdua salah alamat (masuk). “Saya tahu persis bagaimana masakannya Mami (pemilik Bumahai). Yang ini tadi bukan orsinil… Tapi biarlah….”
Menurutnya, dunia kuliner atau masak memasak, bukan hal yang baru bagi dirinya. “Kapan hari saya ke Afrika, gue masak sendiri tuh ikan tongkolnya. Gue campur sama cabe Afrika yang pedes banget. Sampai bule-bule yang ngincipin makanan saya, berkeringat dan terengah-engah nafasnya karena kepedasan,” kelakarnya.
Ia juga bercerita soal kisah sukses seorang pengusaha dari India yang tiba-tiba kaya mendadak di Singapura karena kecerdasannya terbangunkan. “Di Singapura ada satu restoran yang besarnya empat kali dari ini. Dulu dia warga biasa. Karena melihat orang Singapura suka membuang tulang iga kambing, maka iga-iga itu ia minta. Kemudian ia eksperimen, dibakar. Dan ternyata lezat. Sekarang kalau saya kesana, ngantri dan hampir semua tamu yang datang menggerogoti tulang kambing. Bahkan sebagai rasa syukurnya atas keberhasilannya, semua karyawannya diberangkatkan naik haji.”
***
SELAMA berada di Eropa, ada beberapa hal menarik yang ia amati. Misalnya, soal bagaimana para pejabat di Le Havre –kota yang terletak di sebelah utara Perancis dan berpenduduk sekitar 200.000 jiwa—dekat dengan rakyatnya. “Walikota terpilihnya itu bekas montir. Gila enggak. Tapi, hatinya baik. Kalau dia sedang berjalan, lalu melihat sebuah mobil di derek, pasti ia hentikan. Apakah ini diderek karena pelanggaran atau memang mogok? Kalau mogok, dia tak segan-segan membantu memperbaiki mobil itu,” tuturnya.Begitu juga wakil walikotanya. Dia seorang wanita berusia 50 tahun, berbadan gemuk. “Tahu enggak? Tinggalnya di apartemen kelas rakyat. Kalau pagi, dia berbaur dengan warganya, jalan kaki bersama-sama dan mendengar keluh kesah rakyatnya. Di Indonesia mana ada pejabat yang seperti itu?”
Mendengar cerita unik nan mengagumkan itu, saya lalu berceloteh. “Lha… mestinya para anggota DPR RI kita segera dong melakukan studi banding ke kota itu. Daripada ke LN, tapi hanya basa-basi kemudian ngelencer kesana kemari, kan lebih baik mengambil nilai-nilai kebaikan dari sang walikota.” Teman saya hanya tersenyum. Dan saya tahu makna dari senyumannya itu.
Kenapa mereka bersikap seperti itu, sementara pejabat kita jarang yang ringan tangan dan mau mendekat ke rakyat? Bukankah para elit tadinya berasal dari bawah? Itulah yang dinamakan perubahan. Ketika nasib berubah, maka kharakter dan perilaku manusia, pasti akan berubah. Ketika derajat manusia semakin tinggi, maka godaannya pun juga kencang. Kalau tidak mampu menahan godaan, maka yang terjadi adalah mana tahaaannn….
Makfum, sang penggoda bukanlah syetan berlevel kelas kopral atau sersan. Saat derajat mereka naik, maka syetan berpangkat kolonel atau jenderal yang datang. Terjadilah tarik menarik. Kalau tidak kuat, maka masuklah ke dalam lubang dan terperangkap. Sejak itu, maka ideologinya adalah ideologi ‘syetan’. Kemudian aibnya tersebar kesana-kemari dan menghancurkan serta meluluhlantakan citra diri keluarganya, termasuk anak istrinya. Setelah itu, baru muncul penyesalan dan kesadaran baru bahwa hidup ternyata memang rumit dan tak seindah yang mereka bayangkan. Apa yang bisa kita petik dari cerita di atas? Mari kita temukan sendiri jawabannya….













