Kompasiana Versi Cetak, Bukan Cuma Gertak!
Thursday, 5-3-2009 | 8:40 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
Oleh Pepih Nugraha – 23 Februari 2009 – Dibaca 312 Kali -
JIKA boleh berandai-andai, bagaimana kalau blog Kompasiana terbit dalam versi cetak sebagaimana pernah dilontarkan Taufik Mihardja dalam satu postingannya, Blogger Masuk harian Kompas? Angan-angan liar yang masuk akal dan tidak sulit dilakukan, asalkan ada kemauan… jalan sudah terbuka. Salah satu blogger Achmad Subechi yang sekarang menakhodai harian Tribun Kaltim, mempraktikkan langsung gagasan itu dengan memuat beberapa postingan para penulis Kompasiana.
Kali ini yang mendapat giliran adalah Pak Chappy Hakim dan Pak Prayitno Ramelan. Memang tidak ada honornya sih, tetapi kebanggan atau pride biasanya tidak bisa dihargai dengan rupiah atau dollar. Saya pribadi selalu yakin, ngeblog atau menulis di blog itu tidak akan langsung menghasilkan uang, tetapi kita meng-investasikan personal branding kita masing-masing. Darimana uang itu didapat, ya dari substitusi. Siapa tahu kalau nama sudah berkibar-kibar ada penerbit beken yang tertarik menerbitkan tulisan Anda di Kompasiana. Siapa tahu Anda tiba-tiba jadi pembicara yang diundang dimana-mana. Siapa tahu Anda jadi dosen atau pengajar khusus berkat ngeblog di Kompasiana. Banyaklah subsitusi lainnya.
Apabila Anda perhatikan foto di atas dan samping kanan ini, ada kolom “The Real Blogge” yang digagas Achmad Subechi. The Real Blogger tidak lain dari sebutan Pak Chappy dalam dunia blogging. Maksud saya dengan postingan ini, tidak ada yang tidak mungkin dengan Kompasiana, tinggal konsistensinya saja. Mau menerbitkan buku, mau bikin koran blogger news, mau bikin cafe, mau bikin merchandise, mau bikin institut jurnalistik dan kepenulisan, mau bikin EO juga oke. Tetapi sebagai langkah awal, membentuk Komunitas Kompasiana yang “militan” sebagaimana yang dilakukan pada Gathering Kompasiana lalu sudah lebih dari cukup, bahkan di luar perkiraan. Saya berharap, mereka yang hadir inilah yang akan menjadi motor penggerak Kompasiana di masa depan. Mereka inilah nucleus (inti) yang akan menyebarkan “virus” Kompasiana ke segala arah.
Apabila Anda perhatikan foto di atas dan samping kanan ini, ada kolom “The Real Blogge” yang digagas Achmad Subechi. The Real Blogger tidak lain dari sebutan Pak Chappy dalam dunia blogging. Maksud saya dengan postingan ini, tidak ada yang tidak mungkin dengan Kompasiana, tinggal konsistensinya saja. Mau menerbitkan buku, mau bikin koran blogger news, mau bikin cafe, mau bikin merchandise, mau bikin institut jurnalistik dan kepenulisan, mau bikin EO juga oke. Tetapi sebagai langkah awal, membentuk Komunitas Kompasiana yang “militan” sebagaimana yang dilakukan pada Gathering Kompasiana lalu sudah lebih dari cukup, bahkan di luar perkiraan. Saya berharap, mereka yang hadir inilah yang akan menjadi motor penggerak Kompasiana di masa depan. Mereka inilah nucleus (inti) yang akan menyebarkan “virus” Kompasiana ke segala arah.
Nah, dalam foto tampilan Tribun Kaltim di sebelah kanan, Pak Chappy dengan atribusi “The Real Blogger” yang rupanya menjadi rubrik di halaman depan, berbagi dengan pembaca Tribun Kaltim dimanapun berada. Selain aktualisasi buat penulisnya sendiri, Kompasiana akan terus dikenang karena pada rubrik itu tentulah ditulis sumbernya, yakni Kompasiana.
24 tanggapan untuk “Kompasiana Versi Cetak, Bukan Cuma Gertak!”
1. linda,
— 23 Februari 2009 jam 10:14 am
Kenapa tidak ? Sebetulnya hal ini sudah terlintas dalam angan-angan saya. Informasi tanpa batasan jendela, kalau berkualitas, baik bagi orang banyak, tentu akan banyak pula manfaatnya. Tentu dengan segala aturan main dan konsekwensinya. Misalnya, si penulis di Kompasiana sadar betul bahwa tulisannya memang sekedar untuk aspirasi, bukan untuk tujuan memperoleh honor. Hal ini harus betul-betul dibicarakan sejak awal. Banyak orang yang cukup berbahagia apabila perwujudan pemikiranya dalam bentuk tulisan bisa dibaca dan syukur-syukur diapresiasi orang , tanpa embel-embel imbalan finansial.
Jadi, jalankanlah !!
2. wijaya kusumah,
— 23 Februari 2009 jam 10:18 am
Saya salut dengan ide yang sangat luar biasa ini, dan saya pun tersulut untuk membuat tulisan-tuliasan yang baik tentang dunia pendidikan kita. Tulisan ini sangat menginspirasi saya. terima kasih kang.
3. syaifuddin sayuti,
— 23 Februari 2009 jam 10:34 am
hebat pak pray dan pak Chappy bisa nembus Tribun Kaltim.
kapan ya kompas print melakukan hal serupa?
ayo bung rikard bagun, mas taufik miharja, kompas juga pasti bisa!!
4. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 23 Februari 2009 jam 10:38 am
..embrio ini sungguh nyata cikal. Ada sekian gagasan brilian yang bermunculan dari benak banyak Sahabat, melontar spontan & tulus.. tanpa embel-embel tidak penting ini itu. Saya menyaksikannya sendiri..
..terasa membahagiakan.. berada di tengah komunitas yang.. bisa saling mengembangkan dengan indah.
Saya yakin, cikal ini akan terus tumbuh & besar. Termasuk realisasi ide-ide adequate & asik di dalamnya..
Cepat atau lambat, bisa kita hidupi saja denyutnya yang sudah semakin kuat. Setidaknya, dari cepatnya rembetan posisi posting artikel tertentu.. seberkualitas/semenarik apa pun itu.. hanya dalam hitungan jam, sudah masuk “kotak”. Amazing!
[..tentu saja, kita masih tetap bisa sepuasnya menyimak satu demi satu artikel yang sudah masuk "kotak" indah di baliknya.. bergabung dengan yang lain di sana sedari diluncurkan Oktober '08 lalu.]
Begitu cepatnya produktivitas para Sahabat menuangkan gagasan brilian & mencerahkannya.. Yang dalam kondisi lebih “longgar”, aura kesantunannya sungguh terjaga & terhidupi.
Indah. ..
.. ‘nuwun
5. yulyanto,
— 23 Februari 2009 jam 10:45 am
Mmmm…..muantep kang PEP…….
Ayo kita siap-siap menunggu giliran……:-) …he…he..
Salam Blogger
http://www.yulyanto.com
6. Aris Heru Utomo,
— 23 Februari 2009 jam 10:56 am
Wah saya justru enggak sabar nih untuk melihat Kompasiana cetak. Saya yakin banyak blogger bagus yang tidak keberatan tulisannya ditampilkan tanpa honor. Karena honor bukanlah tujuan utama saat ngeblog. Saya sendiri ketika ngeblog cuma ingin berbagi makanya di blog saya menulis begini “Dear Visitors and fellow bloggers. It is a kind of pleasure to share views, notes as well as information through this blog”.
Dengan adanya Kompasiana cetak, segmen pembacanya pun menjadi lebih luas, bukan hanya mereka yang memiliki akses internet saja. Maka tujuan untuk berbagi pun akan lebih terasa maknanya.
Sementara bagi blogger sendiri, hal tsb bisa menjadi pemicu untuk menulis lebih baik dan fokus sesuai keahlian dan latar belakang sang blogger. Ya seperti kata Pak Tony waktu gathering Kompasiana, buatlah tulisan yang fokus sesuai dengan latar belakang dan keahlian.
Ayo mari kita terus gulirkan ide Kompasiana cetak dan ide-ide asik lainnya sebagai tindak lanjut gathering Kompasiana kemarin.
Jabat erat dan salam Kompasiana.
7. Hari Bangsawan,
— 23 Februari 2009 jam 1:08 pm
Waaahhhhh kayaknya bakal makin seruh nihhhhh
8. Chappy Hakim,
— 23 Februari 2009 jam 1:10 pm
Wow Bung Pepih ! ini benar-benar “beyond expectation”. Satu hal lagi yang akan hadir adalah banyaknya beberapa tulisan yang justru tidak keluar dari orang yang kompeten di bidangnya, namun ini adalah salah satu dari riaknya gelombang peradaban di era globalisasi yaitu “multi displin” dan “cross border” dalam sharing terutama di bidang “popular science”. Disinilah pentingnya kemudian peran para ahli untuk mengoreksi, meluruskan atau menambah uraian yang disampaikan. Proses interaksi , biar bagaimanapun akan jauh lebih banyak manfaatnya dibanding alur yang pasif atau satu arah, yang berpotensi menumbuhkan “arogansi sektoral” ataupun “arogansi profesi” yang menjadi “barrier” bagi kemajuan Iptek. Itulah “perubahan” yang memunculkan ” Tantangan Baru” ! dan sudah dijawab oleh agent of change, “Kompasiana.com”! Bravo ! Salam, CH.
9. taufik h mihardja,
— 23 Februari 2009 jam 1:23 pm
Teman2,
Idenya sudah ada. Tinggal sekarang pembicaraan lebih serius, dan kalau hal ini sudah dilalui, berarti tinggal proses persiapannya. Maka mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing ….
10. imronsuharsono,
— 23 Februari 2009 jam 1:24 pm
Salam…
Awas….Kompasiana… siap meledak.. meluluh lantakan dunia jurnalisme… byarrrrrrr… saya harap semua mendengar dentumannya…. Wasalam
11. linda,
— 23 Februari 2009 jam 1:33 pm
Ya…yaaaa.., kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing…..
niat baik InsyaAllah selalu didengar Yang Kuasa…
Kita dorong Taufik Djemi.. (ah, udah ah nggak akan lagi menambahkan nama, karena sudah tersosialiasi kemarin di depan orang banyak ), kita dukung Pepih dan gerombolannya yang memiliki segudang ide cemerlang ini…..
salam Kompasiana !!
12. Prayitno Ramelan,
— 23 Februari 2009 jam 1:34 pm
Kang Pepih, melalui halaman ini saya mendukung sekali kompasiana juga diterbitkan menjadi bagian cetak dari Kompas Group, jelas disitulah akan muncul sebuah “pride” para blogger. Benar kata Pak Chappy, kompasiana menjadi agent of change. Selain bisa diterbitkan menjadi sebuah buku..kini dicetak dan sebagian isi kompasiana nanti bisa ditenteng kemana-mana. Hebat ide dari Mas Taufik Mihardja, Kang Pepih dan para elit Kompas itu. Saya numpang sedikit ya, terima kasih banyak kepada Mas Subechi yang telah memposting artikel saya di “Tribun Kalbar”, ternyata muncul banyak ucapan kepada saya…boleh juga ni, kata mereka, Blogger masuk koran! Begitu Kang Pepih, salam hangat, juga buat rekan2 dan sahabat2 saya di Kompasiana.Pray
13. Novrita,
— 23 Februari 2009 jam 2:15 pm
Iya nih kang Pepih.. gara-gra mas Bechi juga, tulisan saya juga sempet nongol di Tribun Kaltim, meski di edit sama beliaunya dulu sih…
Tapi rasa bangga, senang, haru…. wah gak karuan deh …pas lihat tulisan ecek-ecek bisa nongol di Tribun Kaltim… Padahal kalo mau posting di kompasiana saya masih malu.
Oya pak Pray..bukan Tribun Kalbar tapi TRIBUN KALTIM….
14. linda,
— 23 Februari 2009 jam 2:23 pm
Temans, jadi bisa dibayangkan , seorang penulis , atau pun jurnalis, yang sehari-hari melihat hasil tulisannya dipublikasikan…., betapa kekayaan batin selalu datang…
15. amriltg,
— 23 Februari 2009 jam 4:18 pm
Sebuah terobosan yang luar biasa! Saya dukung penuh usaha ini, apalagi bila kemudian Kompas bisa menjelma menjadi sebuah “super media”–seperti yang disitir oleh Lily Yulianti Farid dalam presentasinya Sabtu lalu di BBJ — dimana hal itu muncul ketika jurnalisme warga dan media profesional bersatu dan bersenyawa dalam sebuah media interaktif. Dashyat sekali! Ditunggu perkembangan melegakan selanjutnya..Bravo Kompasiana!
16. yulyanto,
— 23 Februari 2009 jam 4:35 pm
Orang luar saja sudah berani mempublikasikan tulisan para blogger Kompasiana, lalu kompas tunggu apalagi donk???…
…
http://www.yulyanto.com
(Ikut berdoa, sesuai petunjuk pa taufik…
…..)
17. Sri Purwanto,
— 23 Februari 2009 jam 5:53 pm
- Pak PR & CH, congrats tulisannya telah ikut mencerahkan pembaca Tribun Kaltim. Bung Achmad Subechi thanks support nyatanya. Bravo Tribun Kaltim!
- Kang Pepih & gerombolan (sebenarnya siey di awalnya si akang kakak kelasku dulu di Bandung ini sendirian aja Mbak Linda namun dng dukungan team teknis di belakang dan management Kompas); yg gerombolan kita-kita ini kalee yaaa…. Kang Pep, maju terussss pantanggg mundurrrr…. Pak Taufik Djemi… udah support abies tuh dan sedang proses negosiasi mem-print kan Kompasiana, makanya kita disuruh bantuain doa. Siap boss. rekan2 Kompasiana…berdoa, dimulai…..
Salam T3T4P 53M4N64T!
SP.-
18. Pepih Nugraha,
— 23 Februari 2009 jam 6:40 pm
Teman-teman Kompasiana harus mendorong Taufik Mihardja dan Pemred Rikard Bagun untuk segera mewujudkan ide liar tapi brilian ini! Biar deh nanti saya susun skala prioritas buat kemajuan Kompasiana pasca Kopdar I ini.
19. linda,
— 23 Februari 2009 jam 7:58 pm
Marilah kemari hey..hey..hey..hey…hey kawan..
Kompasiana di Kompas hey ..hey..hey..hey..hey…, hey kasih..
akulah di sini
menulis lagi,
hey…, kayak mimpi…!!
Sekali lagi, untuk berbagai teman yang apabila suatu saat impian kita terwujud ( kompasiana masuk kompas ), rasakanlah keajaibannya. .. ( dan saya alami selama hampir 23 tahun !! ).., betapa bila tulisan kita dibaca orang lain, keluar ke permukaan publik, dihargai…duh…rasanya kita kayaaaa sekali..!! Paling tidak, ada kekayaan batin yang melimpah ruah. Ya kan Pepih, Wisnu, atawa Taufik Djem.. ( wuaduh teman-teman sudah mulai memanggil dikau Taufik Djem lho sekarang , jangan salahkan daku !).
Salam, dan selamat menikmati malam dengan keluarga !
20. Sigit Kurniawan,
— 23 Februari 2009 jam 8:30 pm
Setuju banget kalo blog Kompasiana juga ikutan “kopi darat” (baca: tercetak) di lembaran halaman Kompas cetak. Baik Kompas maupun Kompasiana pasti akan lebih dekat dengan masyarakat. Pasalnya, keduanya melibatkan masyarakat sendiri di dalamnya. Bahkan, dari sisi branding, Kompasiana bisa jadi akan lebih mendarat di hati ketimbang Kompas-nya…ini bisa jadi loh. Pokoknya, saya mendukung mimpi mas Pepih dan bloger Kompasiana lainnya untuk mewujudkan ini. Kompasiana Para Siempre!
21. agus,
— 24 Februari 2009 jam 11:10 am
ide brilian Pak taufik dan kang pepih. sukses
22. 123awangs,
— 24 Februari 2009 jam 7:27 pm
Aku sih kepinginnya begitu, itu ide bagus, soalnya para penulis blog bisa di katakan wartawan, kalau pihak kompas memperhatikan, lebih-lebih bila ada lowongan kerja sebagai wartawan, atau penulis……., sekali lagi tolong, pihak kompas….,agar artikel di blog itu bisa di cetak…terima kasih.
23. dwiki setiyawan,
— 25 Februari 2009 jam 5:52 pm
Kang Pepih. Saya amini saja postingan Akang tersebut. Hanya saya perlu menggarisbawahi postingan tersebut pada alenia, “Saya pribadi selalu yakin, ngeblog atau menulis di blog itu tidak akan langsung menghasilkan uang, tetapi kita meng-investasikan personal branding kita masing-masing. Darimana uang itu didapat, ya dari substitusi. Siapa tahu kalau nama sudah berkibar-kibar ada penerbit beken yang tertarik menerbitkan tulisan Anda di Kompasiana. Siapa tahu Anda tiba-tiba jadi pembicara yang diundang dimana-mana. Siapa tahu Anda jadi dosen atau pengajar khusus berkat ngeblog di Kompasiana.”
Kalau yang kongkrit langsung menghasilkan uang dari aktivitas ngeblog saat ini dan beberapa bulan ke depan, menurut saya adalah ‘membuatkan blog untuk caleg’ yang di Indonesia mulai dari caleg DPR-RI, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota jumlah ribuan.
Bila tidak keburu waktu, ya ‘membuatkan blog untuk caleg terpilih’ pasca Hari-H Pemilu 9 April 2009. Tidak jauh-jauh Kang Pepih, saya sendiri sudah ‘ada komitmen’ dengan beberapa caleg DPR-RI untuk nantinya kalau terpilih saya buatkan blognya.
Cuma yang saya agak bingung, berapa mau nawarkan ongkos pembuatan blog, semisal di Blogspot atau WordPress, itu? Soalnya setelah sebuah blog personal anggota DPR-RI itu selesai dibuat, saya juga mesti ‘mentraining’ Asisten Anggota DPR-RI-nya yang, katakan masih awam soal ngeblok itu. Atau, kalau perlu ‘mentraining’ si anggota DPR-RI yang awam ngeblog. Dari 560 anggota DPR-RI terpilih itu nanti kan ya tidak mungkin semua bisa saya buatkan blognya. Paling dapat membuatkan 10 buah blog saja sudah hebat.
Nah, bukankah ini peluang yang bisa ditangkap para blogger di seluruh Indonesia saat ini, Kang Pepih? Blogger Medan membuatkan untuk anggota DPRD Provinsi dan Kab/Kota dan blogger-blogger kota lainnya.
Demikian Kang Pepih.
24. Sukron Abdilah,
— 26 Februari 2009 jam 1:41 am
Pagi ini…, kok saya tidak bisa memposting tulisan kang? gmana caranya? katanya harus permisi dulu, ndak dikasih kekuasaan buat mosting tulisan. Padahal, saya mau menulis di kompasiana. Sekian…salam kang!!!













