Tujuh Malam di Maroko (10-Habis)
Wednesday, 20-5-2009 | 6:22 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
Harga Persaudaraan
Dini Kusmana Massabuau–penulis Citizen Journalism Tribun Kaltim- tak mampu membendung air mata. Ia menangis sesenggukan manakala pesawat mengudara meninggalkan Maroko menuju Prancis. Berikut laporan perjalanannya.
HUJAN cukup lebat, seakan menyapa kami di pagi buta. Ketika terbangun, saya mendengar suara guyuran air hujan. Yahhh… hari terakhir kok malah hujan. Padahal hari ini kami berencana membeli oleh-oleh buat keluarga.
Sebelumnya, saat berada di Maroko, kami sudah sepakat tidak mau dipusingkan tetek bengek urusan titipan atau oleh-oleh. Maklum, kami sengaja datang ke Maroko untuk berbulan madu. Saya ingin menikmati waktu yang ada untuk berduaan dengan suami, bersenang-senang dan bersantai.
Tapi, semangat tak mau direcoki itu rasanya berat juga. Mengapa? Saya adalah manusia Indonesia yang selalu punya kebiasaan membawa cindera mata untuk orang-orang terdekat, selepas berpergian.
Di Prancis, budaya membawa oleh-oleh juga ada, tetapi dalam tahap wajar. Mereka tidak pernah mengharapkan kado dari seseorang yang berpergian, walaupun saudara dekat. Sementara saya sendiri setiap mau pulang kampung ke Indonesia, wuih… nyaris mau pingsan lantaran banyaknya titipan. Serba repot memang. Kalau tak dibelikan khawatir dibilang pelit. Sebenarnya bukan masalah kikir atau tidak, tapi kadang-kadang harga kado yang diminta di luar jangkauan alias besar dan berat.
***
HUJAN tak juga berhenti. Selesai sarapan, kami manfaatkan waktu menulis kartu pos. Kartu pos itu kami tujukan buat sanak saudara dan teman. Para pegawai riad (penginapan) yang melihat kami belum beranjak di ruang makan, merasa ewuh (sungkan). Padahal, saya tahu kalau perut mereka mulai keroncongan.
Saya panggil Houssein agar ia menerangkan kepada para pegawai bila ingin sarapan di teras makan, silakan saja, dan hal itu tidak akan menganggu kami. Mereka lalu sarapan di depan meja kami. Kesempatan itu tak saya siakan-siakan untuk berfoto bersama, agar keramahan mereka dalam melayani kami terabadikan.
Pukul 11.00 pagi, hujan mulai berhenti dan berganti dengan udara kering dan hangat. Cepat-cepat kami beranjak dari duduk, lalu keluar riad. Pasar Medina menjadi sasaran kami mencari oleh-oleh.
Dari awal, suami saya sudah jatuh hati dengan pakaian khas Maroko, yaitu jelaba. Pakaian panjang hingga ke mata kaki dengan tutup kepala menyambung. Saya menyebutnya kuncung (bahasa Sunda). Paling menarik hati adalah yang terbuat dari wol. Harga yang ditawarkan bikin kami terkaget-kaget. Alamak… mahal juga, buat ukuran kantong kami. Kebanyakan mereka menawarkan dengan harga turis. Susahnya, selama ini kami merasa bukan turis. Wajar saja, kalau lagi menawar barang, para penjual kerap tertawa.
Seperti ketika saya masuk sebuah toko. Sambil menyampaikan salam, sang pemilik toko sontak tersenyum. Harga yang ditawarkan harga lokal. Perbandingannya dengan harga turis, tiga kali lipat. Kami lalu membeli beberapa pakaian khas Maroko untuk kami sekeluarga.
Beberapa oleh-oleh sudah kami dapatkan. Tinggal untuk orang tua saya di Tanah Air. Sarung bantal duduk dari kulit ciri khas Maroko, menjadi pilihan saya. Di toko itu, pemiliknya sedang mendengarkan orang yang sedang mengaji di radio. Suami saya bertanya, ”Surah apa itu?” Saya jawab, ”Itu surat Al-Baqarah.”
Rupanya komunikasi kami dalam bahasa Prancis didengarnya. ”Anda berdua muslim?” tanyanya. ”Ya.., kenapa?” tanya suami saya. ”Anda dari Prancis?’ tanyanya lagi. ”Kami dari Prancis, tapi istri saya orang Indonesia.”
”Alhamdulillah.. Senang mendengarnya saudara muslim. ”Pilih saja barang yang anda suka. Soal harga, saya kasih kalian berdua harga persaudaraan..” kata pemilik toko itu dengan ramah. Ternyata benar, ketika kami tanyakan harga barang yang kami pilih, berbeda sekali dengan toko sebelumnya yang kami datangi.
Begitu juga saat kami mendatangi toko kerajinan. Penjualnya sempat menanyakan asal negara saya. Lagi-lagi mereka menawarkan harga persaudaraan. Kami merasa beruntung sekali, karena ketika kami berlibur ke Turki, walaupun mereka tahu kami muslim tidak ada istilah harga persaudaraan. Di Maroko, rasa persaudaraan sesama muslim begitu kental.
***
SORE hari kami kembali ke riad untuk membereskan belanjaan, sekalian menghadap Allah (shalat). Setelah itu kami kembali ke Medina. Dalam perjalanan, saya merasa aneh, tiba-tiba badan terasa capek luar biasa. Tubuh saya agak lemas. Walau begitu, saya tetap semangat, apalagi ingin menikmati malam terakhir dan makam malam nan romantis.
Nah, saat masuk restoran, badan saya rasanya semakin aneh. Badan seakan-akan mau roboh. Kepala mendadak panas dan badan saya terasa dingin. Beberapa detik kemudian pemandangan menjadi gelap. Antara mau pingsan dan setengah sadar, telinga masih bisa mendengar suara suami saya berteriak ketakutan. Tapi saya tak bisa menjawabnya. Yang saya tahu kemudian, bau tajam menusuk hidung saya. Ternyata potongan bawang bombai ditempelkan di hidung saya.
Wahh… beda benar dengan di Indonesia. Kalau tidak parfum, paling mentok balsem,. Di Maroko, ternyata bawang bombay bisa buat menyadarkan orang yang pingsan. Dalam keadaan masih lemas dan tangan saya yang biru karena kedinginan tanpa sebab, saya disuruh minum teh mint hangat.
Setelah sadar sepenuhnya, suami saya meminta kepada pelayan membungkus makanan pesanan kami. Kami berdua lalu kembali ke riad. Saya sangat menyesal karena malam romantis jadi batal karena gangguan kesehatan saya. Tapi saya bersyukur karena telah menolak tawaran makan malam bersama keluarga Hannoui. Coba kalau sampai jadi dan saya pingsan di tempat itu, bisa bikin heboh dan repot keluarga mereka.
Seperti yang saya ceritakan dari awal, ketika berangkat dari Prancis, saya baru saja pulih dari sakit. Lantaran merasa gembira selama beberapa hari berada di Maroko, membuat saya pulih dan semakin segar. Sayangnya, di hari terakhir tubuh saya tak mampu menyembunyikan rasa kebahagiaan itu. Malamnya saya tidur lelap sekali. Rupanya energi saya sudah habis-habisan, hingga saya tak sanggup lagi membereskan koper. Suami saya yang baik, mengurus segala sesuatunya. Sementara saya, bermimpi menjadi ratu semalam.
Tujuh malam telah kami lewati di negara dongeng ini. Pagi itu, tepatnya pukul 05,00, kami berdua telah siap-siap untuk meninggalkan kota yang telah memberikan kami kekayaan batin dan sentuhan persaudaraan yang indah. Berat rasanya meninggalkan kamar bulan madu kami, riad yang menawan, dan keluarga baru yang kami dapatkan. Keharuman bumbu, kelezatan hidangan, keindahan rumah-rumah di Maroko, telah terukir di dalam kalbu kami.
Selanjutnya, kami berpamitan dengan Houssein. Lelaki itu telah memberikan kami bekal sarapan buat di airport. Betapa baiknya dia. Setelah saling mengucapkan salam, kami lalu meninggalkan tanda jasa kepadanya. Pintu riad ditutup, seiring dengan kepedihan hati kami meninggalkan Maroko..
Ketika pesawat lepas landas, butir-butir air mata mengalir membasahi kedua pipi. Suami saya sempat berpikir saya sakit lagi. Ketika saya terangkan bahwa saya merasa kehilangan kehidupan Maroko, suami saya mengangguk. Ia mengalami hal yang sama. Maroko, sentuhan indahmu membuat hati ini tergetar. Terima kasih Maroko… untuk kenangan indah bulan madu kami…. (*)













