Duka dari Pulau Dewata

Friday, 29-5-2009 | 8:25 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

Dibaca 1106 Kali -

MASIH ingat kasus pembunuhan terhadap Fuad Muhammad Syafruddin yang akrab dipanggil Udin. Wartawan Harian Bernas, Yogjakarta, tewas dianiaya sejumlah pria tak dikenal di depan rumah kontrakannya. Peristiwa itu terjadi 13 Agustus 1996. Insan pers di tanah air geger. Penguasa Orde Baru diminta menuntaskan kasus itu. Hakim di pengadilan memvonis bebas terdakwa Iwik. Motifnya sampai sekarang belum jelas.Kasus kekerasan terhadap wartawan kembali terulang. AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, redaktur Radar Bali (Jawa Pos Group) yang hilang sejak 11 Februari dan ditemukan tewas di tengah laut di Teluk Bungsil, antara Pelabuhan Padang Bai dan Pulau Nusa Penida, 16 Februari 2009 lalu, ternyata tewas dibunuh. Kapolda Bali Irjen Polisi Teuku Ashikin Husein menjelaskan, eksekusi terhadap korban dilakukan di rumah aktor intelektual Nyoman Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli, sekitar pukul 16.30 hingga 22.30 Wita, 11 Februari 2009.

Nyoman Susrama dikenal publik sebagai adik pejabat di Bangli. Sore itu korban dijemput Komang Gede, Nyoman Rencana dan Komang Gede Wardana di Taman Bangli menggunakan mobil Honda Civic hijau. Dalam kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan, Komang Gede menjabat sebagai akunting proyek pembangunan sekolah TK Internasional di Bangli. Sesampainya di rumah Susrama, korban digelandang ke belakang rumah dengan kedua tangan dilipat dan diikat di belakang.

Susrama memerintahkan Nyoman Rencana dan Wardana menghabisi nyawa korban. Pelaku memukul kepala korban berkali-kali hingga terkapar. Setelah tak bernyawa, mayat korban dimasukkan ke dalam kamar.Kemudian, Susrama memerintahkan pelaku Jampes dan Endy, membersihkan darah yang tercecer di halaman belakang. Malamnya mayat korban dibawa keluar rumah lalu dibuang ke tengah laut. Tujuh tersangka yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan berencana ini kini di tahanan Polda Bali.

Terungkapnya kasus pembunuhan terhadap jurnalis kali ini membuat hati kami pedih. Kami ikut berduka atas meninggalnya kawan kami. Mengapa kebencian atau ketidaksukaan itu harus dilampiaskan dengan mencabut nyawa kawan kami? Apalagi dilakukan dengan tindakan kekerasan yang melampaui batas-batas kemanusiaan.

Wartawan adalah manusia biasa. Wartawan bukan makhluk yang tidak pernah melakukan kesalahan atau kehilafan. Ketidaksempurnaan selalu saja terjadi dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya. Sama dengan profesi-profesi lainnya. Wartawan memiliki tanggungjawab moral, selalu kritis dalam menyikapi problem-problem sosial yang ada di depan matanya, menggunakan mata hati dalam memotret berbagai macam ketimpangan, berjalan dengan pikirannya dan selalu berorientasi kepada mereka yang lemah, terperdaya serta tertindas.

Ketika hasil karya mereka dianggap ‘menyakitkan’, maka pihak-pihak yang merasa tersentil atau bahkan dirugikan, seharusnya memanfaatkan ruang hak jawabnya. Bukan sebaliknya, ketidakpuasan terhadap pemberitaan harus dihadapi dengan cara-cara yang tidak terpuji, main culik, lalu dianiaya sampai mati. Sebagai insan pers, kami semua tentu saja menyesalkan tindakan main hakim sendiri. Aparat kepolisian diharapkan bekerja secara profesional, tanpa pandang bulu dalam menegakkan hukum. Siapapun para pelakunya, mereka harus diadili dengan baik dan benar sesuai koridor hukum yang berlaku di negeri ini.

Kita semua sudah muak dengan tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi di atas kulit bumi bernama Indonesia. Segala persoalan yang terjadi pada bangsa ini, hendaknya diselesaikan dengan menggunakan akal, bukan lagi dengan kekuatan otot. Bukankah bangsa kita adalah bangsa yang beradab, bangsa yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan berbudi luhur? Kedepan kita tak mengharapkan kasus Udin dan Narendra Prabangsa kembali terulang. Kita juga tak menginginkan pencabutan nyawa terjadi kepada siapa saja, terutama kepada manusia-manusia Indonesia, karena nyawa adalah hasil karya cipta Tuhan. Membunuh manusia –bukan dalam keadaan darurat– sama dengan kita tak menghargai hasil karya Sang Maha Pencipta. Semoga apa yang terjadi pada kawan kami, bisa diambil hikmahnya agar kekuatan akal lebih dikedepankan daripada menggunakan kekuatan emosional yang ujung-ujungnya melahirkan kematian… Selamat jalan kawan. Kami semua turut berduka… Kepada keluarga yang ditinggalkan, kami turut berbelasungkawa. (achmad subechi)

21 tanggapan untuk “Duka dari Pulau Dewata”

1. linda,
— 26 Mei 2009 jam 11:10 am
Duka saya juga luar biasa mengetahui ada kejadian seperti ini (lagi!) yang diterima oleh wartawan.
Hanya pengadilah akhirat lah yang amat berimbang kelak yang akan ditimpakan kepada si pelaku dan sutradara pembunuhan    ini…..

2. arifin basyir,
— 26 Mei 2009 jam 11:27 am
Inna lillahi wainna illaihi rojiun. Selain kasus udin yogya masih ada lagi yaitu marsinah dan yang masih hangat adalah kasus munir dan terbaru kini nazarudin. Suspec diagnosa atau azas praduga tak bersalah mengarah pada keterlibatan aparatur keamanan negara. Tetapi ‘kekebalan hukum’ agaknya tidak mampu ditembus oleh pengak hukum, sehingga penyelesaian masalah agaknya masih jauh panggang dari api. Ironisnya ini terjadi dalam kehidupan dunia nyata, dalam kehidupan hukum positif yang jelas aturan mainnya. Lalu bagaimana sekarang dengan kehidupan dunia maya yang sekarang semakin marak. Orang bebas berbicara, tanpa harus diketahui dimana keberadaannya. Orang bisa menjadi wartawan dadakan, bisa menjadi politisi, menjadi kontrol sosial. Kalau seandainya makhlik di dunia maya ini tersangkut masalah hukum, sehubungan dengan ucapannya di dunia maya menyerang kepentingan pejabat negara di dunia nyata. Apakah juga harus menanggung resiko nyawa taruhannya. Jelas lebih sulit mencari barang bukti di dunia maya, sehingga kalaupun ada pembunuhan sang pelaku akan lebih mudah lari dari tanggung jawabnya. Kalau demikian halnya, sungguh semakin tidak nyaman hidup di republik ini. Resiko pekerjaan ini tidak saja menimpa wartawan, tetapi bisa jadi orang terkenal (publik figure) lainnya, misalnya artis atau selebritis yang justru celaka oleh fanatisme penggemarnya. Ya memang semua pekerjaan menanggung resiko dan semua kehidupan pasti ada resiko. Semoga kasus Bali jangan terulang kembali

3. ardi yanuar,
— 26 Mei 2009 jam 2:11 pm
sedih banget mendengar kejadian demi kejadian yg menimpa jurnalis indonesia.. untuk menulis dan mengungkap sebuah kasus secara aktual dan faktual, seorang jurnalis tak jarang sering mempertaruhkan nyawa-nya…btw, majulah terus jurnalis indonesia…gempur semua ketidakadilan di negri tercinta ini.. mendiang bagus narendra layak menyandang pahlawan pers bali, yg saya yakin dirinya tak terbeli…

4. Ahmad Zainul Ihsan Arif,
— 26 Mei 2009 jam 9:19 pm
Turut berduka cita yang mendalam, semoga pihak pengadilan dapat memvonis hukuman yang seberat-beratnya.
Selamat Jalan Kawan, menghadaplah yang kuasa dengan tenang.

5. sumijan,
— 26 Mei 2009 jam 10:56 pm
“RASA MALU” benar-benar telah terputus dari urat nadi para pelaku itu sehingga nekat luar biasa menyiksa dan membunuh seorang jurnalis yang mencari nafkah keluarga dengan cara menyuarakan kebenaran.

Saya menduga ada yang nggak beres dengan praktek penyelenggaraan pemerintahan dan tata kelola pembangunan di daerah itu.

Lebih dari itu, fenomena premanisme di sekeliling pemimpin pemerintahan lokal marak diseantero negeri ini bahkan mengarah pada praktek premanisme aparat dan aparatisme preman.

Pertanyaanya adalah, kepentingan apa yang mendasari fenomena maraknya premanisme di pemerintahan lokal…?

Saya percaya, ketika kejahatan berjaya maka pemimpinya pasti penjahat.
Mungkin keberadaan para preman itu, sengaja di ciptakan dan dipelihara untuk mengkompensasikan atas kebobrokan moral pemimpin dan kepemimpinan di pemerintahan lokal.

Sistem yang tadinya merupakan alat, diubah menjadi tujuan sehingga segalanya menjadi serba formalitas tanpa rasa. Di atas semua itu yang sesungguhnya berperan adalah sistem diluar sistem,yaitu apa kata preman. Pemimpin dan kroni-kroninya di pemerintahan cukup terima bersihnya saja.

Praktek premanisme di seputar penyelenggaraan pemerintahan di daerah saat ini sudah sedemikian mantap dan kokoh, dilakukan oleh multifihak dengan sistem bagito alias dibagi roto,
Dibutuhkan kompak-kompak jahat untuk membuat semuanya menjadi tampak normal dan terhormat setiap hari.

Dengan begitu Pasukan Preman “PEJAH GESANG KULO NDEREK PENJENENGAN” (hidup mati pokoknya saya ikut boss) akan meraja lela di seantero negeri.

Inilah ancaman terbesar yangb berpotensi menggagalkan demokrasi di daerah, acuh terhadap kondisi ini resikonya adalah NKRI pecah berantakan. Tunggu waktu saja.
6. abraham,
— 27 Mei 2009 jam 7:56 am
tidak ada masalah yg tdk dpt dicarikan solusinya dgn baik. jangan membunuh, jangan menginginkan isteri, suami, anak, harta benda sesamamu. jgn merencnkan yg jahat kpd sesama, pdhal kalian saling kenal. peace, please!!

7. putu,
— 27 Mei 2009 jam 9:13 am
Sebagai putra Bali, saya sangat berduka, bukan saja terhadap korban dan keluarganya, terlebih lagi terhadap kejahatan yang dilakukan oleh otak pelaku kejahatan ini.
Kejahatan kemanusiaan ini telah melukai kita semua, terlepas dari apapun agama kita. Peristiwa memalukan ini membuktikan bahwa walau orang Bali terkenal jujur, baik hati, ramah, dsb. sebenarnya tidak berbeda dengan suku-suku lain di dunia dalam hal kejahatan kemanusiaan. Selalu ada oknum, yang karena kebodohannya (begitulah kitab suci Weda menyebut) mampu berbuat kejahatan diluar batas-batas kemanusiaan.
Apabila terbukti tersangka adalah otak pelaku kejahatan sesungguhnya, sebaiknya masyarakat Bali meminta Bupati Bangli (kakak tersangka) dan istri tersangka yang lolos menjadi anggota DPRD Bali, untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Sangat tidak pantas keluarga ini menempati kedudukan terhormat di masyarakat.

8. Pepih Nugraha,
— 27 Mei 2009 jam 10:07 am
Ikut berduka, Bec…. biarlah hukum yang bicara selanjutnya. Kalau hukum sudah bicara ngawur atas kasus ini (misalnya membebaskan si anak pejabat preman itu), wartawan turun ke jalan untuk demo besar-besaran!

9. viant,
— 27 Mei 2009 jam 10:54 am
semoga hukum bisa benar2 berada pada posisinya

10. linda,
— 27 Mei 2009 jam 11:39 am
Hukum harus diluruskan. Jangan sampai sulit bagai menegakkan benang basah. Anak pejabat mana yang kebal hukum di dunia reformasi seperti ini? Besan Presiden saja bisa ditahan, kok!

Coba buka lembaran lama. Peristiwa Sum Kuning yang menyayat hati, apakah sampai kini sempat terkuak siapa pelakunya? Kalau dihitung-hitung, sang pelaku kini sudah beranak bercucu. Bagaimana kalau hukum Tuhan berlaku bagi keturunannya..?

Anak pejabat, harusnya tak perlu gede kepala. Mereka lupa, hidup mereka pun nebeng uang bapaknya, yang segala sesuatunya dibayar dari pajak rakyat. Dari keringat kita. Mereka benar-benar lupa…..
11. arifin basyir,
— 27 Mei 2009 jam 11:56 am
Waduh, waduh seperti ini to perilaku pejabat dan anak pejabat di republik ini. Kalau begini aku nggak kerasan hidup di negeri ini. Aku akan pindah, aku akan mendirikan negara sendiri. Dunia masih luas, dunia maya, planet maya pada masih bisa dihuni. Mudah-mudahan di negei baru menemukan keadilan diatas kebenaran dan kebenaran diatas keadilan, keadilan dan kebenaran diatas segala-galanya. Sampai jumpa disana………………………………

12. sayurijo,
— 27 Mei 2009 jam 1:16 pm
superman dan spiderman… sama-sama jadi jadi wartawan di siang hari, menghajar orang di malam hari. Kenapa wartawan?

Karena wartawan banyak tahu, tapi tak punya kekuatan. Karena mereka cuma manusia biasa yang punya nyawa hanya satu lapis. Tinggal diincar, dihabisi dan… dilupakan. selesai perkara.

Seharusnya ada semacam superhero yang bisa melindungi wartawan
13. bambang setyawan,
— 27 Mei 2009 jam 2:53 pm
Tindakan pelaku membunuh wartawan sangat keji dan tidak ber pri kemanusiaan. Ikut berduka cita atas wafatnya wartawan Gde Bagus Narendra.
Tetapi para wartawan perlu mawas diri dan melihat kebelakang, kenapa peristiwa penganiayaan atau pembunuhan kepada wartawan terus berulang.

Saya berbendapat hal ini berulang karena cara pengungkapan berita yang dilansir para wartawan dianggap menyinggung dan bahkan membuka aib si pelaku dan bahkan disiarkan kepada umum, dan kadang kadang sangat vulgar, yang membuat amarah besar bagi orang yang diberitakan.

Kebebasan Pers tidaklah mutlak, bahwa wartawan bisa semena mena untuk menista orang dengan memberitakan atau memuat berita berita yang menyinggung harkat atau perasaan seseorang. dengan dalih toh sesuai undang undang pers seharusnya orang tersebut bisa membantah melalui hak jawab atas pemberitaan tersebut.

Saya berharap pemberitaan wartawan lebih santun, isi berita berimbang, jujur dan tentu tidak secara vulgar beritanya menyinggung harkat, martabat, perasaan orang yang diberitakan.

Mudah mudahan komentar ini afda manfaatnya, agar peristiwa kekerasan terhadap wartawan tidak berulang/terulang lagi. Wallohuallam…….
14. bineka,
— 27 Mei 2009 jam 4:59 pm
yah begitulah hukum du Indonesia, maju tak gentar membela yang bayar, banyak kasus koruposi yang hilang begitu saja, dan ynag menegakkan kebenaran malah dibunuh. maling ayam dipenjkara + dihajar kadang smapai mati semntra yg korupsi sampai triyunan melenggang bebas. Paling dari pak hakin cuma slah prosedsur. Yah kalau si Fulan korupsi 10 m, tinggal kasih pak hakim 1m, jaksa 1m, polisi 1m dan pengacara 1m. nanti jkan jadi salah pe\rosedure. kasihan rakyat dan pahlawan yang telah mebela tanah air melihat NKRI jadi rebutan para pejabat korup. terahir di Batam kapal Tangker Pewrtamina jual BBM di laut lepas. Makanya kita kalah sama Vietnam yang baru Merdeka tahun1974.

15. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 27 Mei 2009 jam 5:54 pm
..turut berduka, Bung Becki..

Kejernihan Nurani desakan asli energi jurnalistik tidak sedetikpun bisa dipatahkan oleh arogansi apa pun.. dari pihak siapa pun di muka Bumi ini. Jenis kejernihan yang kemurniannya tidak lekang waktu. Sebab ia bermuara pada hakikinya sang Kebenaran sendiri.

Sebuah aliran lembut (dalam nada tegas sekalipun) ..yang derasannya mampu getarkan elegi hati mana pun.

Energi itu, juga untuk pengorbanan (Alm.) AA Gde Bagus Narendra Prabangsa..
16. Robin,
— 27 Mei 2009 jam 6:21 pm
Ikut berduka atas kematian wartawan.
semoga arwahnya di terima di sisi Tuhan

17. haris harindra,
— 27 Mei 2009 jam 7:24 pm
selain harus mengawal terus proses hukum, mungkin ada baiknya pula boikot berita kepemimpinan kakak dari aktor yang bupati bangli itu. terus tekan supaya mereka berhitung dengan posisinya yang tidak terhormat itu.
- turut berduka cita. AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, saya tidak mengenal anda sebelumnya. tapi kini saya kehilangan anda. semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menerima -

18. Djawara Putra Petir, MP., SH., MH.,
— 27 Mei 2009 jam 7:45 pm
TURUT BERDUKA CITA ATAS MENINGGALNYA AA GDE BAGUS NARENDRA PRABANGSA DAN SEKALIGUS RASA SENANG DENGAN TERBONGKARNYA PARA PELAKU PEMBUNUHAN YANG HARUS DIHUKUM SETIMPAL DENGAN PERBUATANNYA, SEMOGA INI MERUPAKAN KORBAN KALI TERAKHIR DARI PEJABAT BERMENTAL KOROP—–MENTAL KOROP MERUPAKAN MENTAL KEJAM UNTUK MENSENGSARAKAN ORANG BANYAK, SEHINGGA BAGI MEREKA APALAH ARTINYA MENGHILANGKAN SATU NYAWA, SEDANGKAN KOROP ITU SENDIRI SECARA TIDAK LANGSUNG MEMBUNUH RIBUAN JIWA.

SALAM DARI SURABAYA :
BUAT KELUARGA ALMARHUM DAN JAWAPOS GROUP, JANGAN GENTAR UNTUK TERUS MENYUARAKAN——BENAR KATAKAN BENAR, SALAH KATAKAN SALAH ! ———
19. albertus prayudia,
— 28 Mei 2009 jam 3:31 pm
Kenapa seorang yang mewartakan harus tewas dengan cara seperti itu? Jangan Pandang keluarga pejabat… Tindak tegas Pak Polisi….

20. albertus prayudia,
— 28 Mei 2009 jam 3:35 pm
Kenapa Ruang hak Jawab Harus Di Gantikan dengan Balok untuk mentungin orang… Katanya keluarga Pejabat… Kok Bodoh ya… Ketahuan, ya resiko… Kalau takut di tangkap, ya jangan korupsi atau maling…Kan akhirnya Ketangkap juga… Meski mayat saudara kami di buang di laut tapi jangan bersuka dulu. CCTV Tuhan ada di mana-mana…

21. sumijansumijan,
— 28 Mei 2009 jam 9:37 pm
Manusia-manusia penyembah koruptor dan uang hasil korupsi, melihat kejadian ini sebagai alat pemuas nafsu kompak-kompak jahat mereka.

Tanpa menyembah koruptor dan uang hasil korupsi, mereka akan mati.
Wajar jika dalam peristiwa berdarah seperti ini, kemudian ada yang memanfa’atkan sebagai tunggangan gratis untuk memojok-mojokan peran wartawan. Dengan begitu Ia merasa telah berbuat benar dan karenanya pantas untuk mendapat “Angpao” dari para koruptor yang menghidupinya.

Apalagi kalau dengan caranya itu lantas bisa membuat para wartawan menjadi takut menyuarakan kebenaran dan berhenti memberitakan kasus-kasus korupsi, maka Ia akan mendapat mahkota dan di angkat menjadi panglima atas pasukan “pejah gesang kulo nderek boss”.

Begundal-begundal macam nih, maunya di ceburin ke laut aja.

Leave a Reply