Kontradiksi

Friday, 29-5-2009 | 9:05 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

Kutitipkan Bangsa Ini…
Oleh Achmad Subechi – 25 Maret 2009 – Dibaca 505 Kali -

LELAKI tua itu selalu saja datang ke rumah, setiap kali saya pulang dari Balikpapan. saya juga heran, kenapa ia bisa tahu kalau saya sudah tiba di Jakarta. Usianya sekitar 65 tahun. Ia tinggal di rumah petak bersama istri keduanya. Anaknya dua, semua wanita. Satu pelajar SMA dan satu lagi pelajar SMP. Meski tergolong kurang mampu, namun anaknya terawat, bersih dan tak kelihatan kalau mereka anaknya orang tidak mampu.

Setiap kali saya lewat di depan rumahnya ada rasa trenyuh dan terharu dengan spiritnya. Bayangkan, tinggal di rumah petak berukuran 3 X 4 meter, tanpa kamar dan hanya ada satu kamar mandi Pak Tua itu mampu menyekolahkan anaknya. Istrinya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Sehari-hari, dengan nafas tersenggal-senggal, ia datangi rumah tetangga kanan kirinya. Tangannya menengadah tanda meminta. Saya enggak tahu persis berapa penghasilan yang ia dapatkan dalam sehari. Kadang, seusai bertemu saya, Pak Tua itu selalu tersenyum manja. Wow… hati saya terasa plong. Artinya, hari ini saya bisa membahagiakan manusia lain, walau hanya dengan senyuman dan kata-kata.

Anak-anak saya sudah hafal. Ketika Pak Tua terlihat berjalan kaki tertatih-tatih dari jauh, anak saya selalu teriak. “Pak Pak… Tua tuh… Dia mau ke rumah.” Biasanya, kami duduk di teras rumah, sekedar ngobrol. Sesekali saya berpura-pura sebagai orang ‘pintar’ saat penyakit asmanya kambuh. Biasanya, telapak tangan saya tempelkan ke dada. Enggak lama kemudian, Pak Tua itu tersenyum sambil mengatakan, “Kena… kena… Nah itu dia… penyakitnya… Alhamdulillah….” Saya tertawa kecil, karena apa yang saya lakukan itu hanya sedikit memberikan sugesti saja.

Apakah ia dapat BLT? Ternyata tidak. Sama dengan tetangga saya lainnya. Seorang janda beranak tiga. Tahun lalu, ia mengadu dan menangis di depan saya menceritakan ada rasa ketidakadilan terhadap program BLT. “Masak… tetangga saya yang mampu malah dapat BLT, sedangkan saya tidak. Padahal nama saya sudah didata. Pak RT sudah saya datangi, tapi dia diam saja,” tuturnya.

Rasanya ingin hari itu juga saya menemui Ketua RT setempat. Tapi karena rumah kontrakan saya beda dengan RT sang Ibu, saya tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mengelus dada melihat perilaku-perilaku penguasa kampung.

Kemarin seorang janda setengah baya, punya dua orang anak datang ke rumah saya. Ia mengucapkan rasa terima kasih karena selama ini biaya sekolah anaknya dihandle oleh istri saya. Lagi-lagi, dia mengeluh tak mendapatkan dana BLT. “Tapi untunglah Pak… Ibu mau memberi dana kepada anak saya untuk biaya sekolah…”

***
DI BALIKPAPAN ketika bencana tanah longsor menghantam salah satu pemukiman, saya datang ke lokasi kejadian memotret dan mencari data. Masya Allah, saya dapati sebuah rumah berukuran 3 kali 2 meter yang dihuni oleh lima orang anggota keluarga. Kamar tidurnya saja tidak ada. Semua ngruntel jadi satu. “Bapak bekerja menjadi penjaga sekolah… Kami berlima tinggal di rumah ini,” kata seorang bocah berusia tujuh tahun kepada saya.

Pemandangan memilukan juga saya lihat di Maumere. Ketika itu saya meliput gempa bumi. Ketika masuk ke pedalaman, ada juga manusia yang tinggal di kandang binatang bersama anak-anak dan istrinya. Pekerjaannya di ladang. Lagi-lagi saya mengelus dada.

Gambaran seperti ini amat kontras dengan di ibu kota. Mall-mall penuh sesak. Rumah-rumah makan bertebaran disana sini. Mau apa saja bisa. Semuanya tersedia. Bagaimana dengan yang di pelosok-pelosok desa yang infrastrukturnya belum memadai bahkan hampir tidak ada?

Dimana rasa keadilan? Dimana pemerataan? Dimana kesejahteraan? Lalu mengapa kemakmuran itu masih jauh dan tak bisa dipetik? Mengapa bangsaku menjadi terpecah-pecah begini, terkotak-kotak oleh simbol dan kekuasaan, tercabik-cabik oleh kepentingan?

Indonesia, bukan negeri yang tak memiliki masa depan. Indonesia adalah aset dunia. Negeri ini akan menjadi bangsa yang besar kalau para pemimpinnya bertindak adil, visioner, arif, bijaksana, berintegritas, merakyat, cerdas dan punya hati.

Wahai para calon pemimpin bangsa, “Kutitipkan negeri ini kepada kalian. Kutitipkan jasa-jasa bapaku yang telah berjuang terhadap negeri ini kepada kalian. Kutitipkan anak-anak bangsa ini kepada kalian. Kuserahkan semuanya kepada kalian… dan dengarkan jeritan hati rakyat serta pahami tingkat kesulitan mereka. Tenggoklah mereka dan jangan hanya duduk di singgasana… Angkatlah derajat kesadaran manusia ke dalam nilai-nilai kemanusian universal..”

Bangsa ini terlalu mahal dipertaruhkan hanya untuk kepentingan sempit. Bangsa ini harus tetap ada, bangsa ini harus mampu memerdekakan kemiskinan, kebodohan, kesengsaraan, ketidakadilan, kesenjangan, kerampuhan jiwa dan segala tetek bengeknya. Akankah masa depan bangsa ini kita percayakan kepada manusia-manusia yang pragmatis, oportunis, tak memiliki integritas, tak profesional, tak berintelektual? Jawabannya ada pada bangsa ini…. Salam dari anak bangsa…

Share on Facebook Share on Twitter

10 tanggapan untuk “Kutitipkan Bangsa Ini…”

1. Novrita,
— 25 Maret 2009 jam 3:16 pm

Ketika orang yang dianggap sebagai pemegang amanah untuk menyelenggarakan negara ini , untuk mensejahterakan rakayt negeri ini, untuk memakmurkan kehidupan bernegara…tidak mampu atau bahkan ada yang menyelewengkan amanah… Kewajiban kita adalah mengingatkan…
Tidak bisa kita memaksakan dengan cara-cara kekerasan…
Namun setidaknya…janganlah kita menjadi penyebab dari keterpurukan, kemiskinan, kesemrawutan, kekacauan…
Tamparlah diri kita sendiri ketika kita mengabaikan tangisan orang disekeliling kita yang kelaparan….
2. jalil,
— 25 Maret 2009 jam 3:49 pm

Ya bangsa ini adalah bangsa yang besar, gemah ripah lo jinawi, seharusnya tidak ada pemandangan kurang makan, anak2 tidak sekolah, susah berobat krn ngga punya biaya, tidur di kandang binatang, tapi saat ini realitanya demikian adanya. Masih banyak jumlahnya lalu kapan akan berkahir penderitaan saudara-saudara kita sebangsa yang kurang beruntung tersebut, Kita memang hanya bisa menitip bangsa ini kepada pemimpinnya, sang pemimpin yang BENAR.
3. slametwijadi,
— 25 Maret 2009 jam 3:54 pm

ada adagium yang menyatakan “the society get a leader it deserves”. apakah memang “layak” bangsa indonesia mendapatkan pemimpin2 spt sekarang ini? jawaban ada pada kita sendiri. indonesia mempunyai semua syarat2 untuk menjadi bangsa yang besar, makmur dan sejahtera tetapi ibarat diterowongan yang panjang dan gelap, saat ini kita belum melihat sinar cahaya diujung terowongan.betapapun, kita tidak boleh pesimis,semoga satu saat nanti bangsa kita dapat memilih pemimpin2nya yang benar.
4. Unang Muchtar,
— 25 Maret 2009 jam 4:07 pm

Ya Allah, sayatlah di api neraka lidah para pemimpin kami, yang hari-hari ini sedang menebar janji untuk memperbaiki nasib Saudara-saudara kami dari belenggu kemiskinan, kesengsaraan dan kesulitan hidup, sayatlah lidah mereka bila mereka terpilih dan tak menepati janjinya……………..
Engkau maha bijaksana, engkau maha tahu dan jauhkanlah kami dari Pemimpin-pemimpin munafik.
Amin……
5. Ryani,
— 25 Maret 2009 jam 7:52 pm

Seharusnya para pemimpin bangsa ini lebih banyak meluangkan waktunya untuk melihat langsung keadaan rakyatnya. Jangan hanya pandai berteori saja & mengumbarkan kata2 yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.
6. abuga,
— 25 Maret 2009 jam 8:05 pm

salam,
saya yakin masih banyak cerita pilu di negeri ini.

ini bisa akibat dari aparat daerah yang hanya berpangku tangan dan membuat laporan abs ‘asal bapak senang’ saja. sudah biasa aparat daerah hanya nunggu jatah dan ngemplang.

sementar pemimpin nasional kalo mau terjun terlalu ribet dengan protokol. pendek kata pemimpin tidak punya gambaran ttg rakyat yang sebenarnya.

hanya satu pertanyaan di hati: apa kira2 yang terpikirkan di benak presiden, gubernur, bupati, dpr jika media memberitakan kisah2 pilu anak negeri ini. di mana peran mereka?? kenapa kisah2 ini selalu ditemukan oleh wartawan bukan dpr yang katanya dekat dengan rakyat?? bukan pemerintah yang katanya pengayom rakyat??

masihkah mereka bisa tertawa, makan enak omong kosong, selingkuh, tidur nyenyak, menilep uang rakyat miskin………. entahlah.
7. Endro,
— 25 Maret 2009 jam 8:20 pm

Mohon maaf, ada satu hal yang bisa dilakukan pak Achmad Subechi. Sepertinya pak SBY meski dikritik kiri kanan masih komit melanjutkan program BLT apabila terpilih jadi presiden lagi.
Mohon maaf lho ya pak Achmad, mungkin anda masih bisa mendatangi pak RT dari Pak Tua. Meskpun bukan Pak RT anda namun apabila didatangi dan dihimbau baik-baik untuk menambahkan nama Pak Tua pada daftar penerima BLT dan pak RT tahu anda wartawan insya Allah beliau tergerak melakukannya. Wassalam.
8. Bambang Darmanto,
— 26 Maret 2009 jam 9:37 am

Saya sendiri heran kalau membaca dan mendengar SBY dengan lantangnya mengatakan bahwa tingkat kemiskinan dan pengangguran telah menurun dibandingkan sebelumnya, padahal dalam keseharian melihat disekitar kita semakin banyak pengemis, pengamen & pengangguran yang berseliweran disepanjang jalan dan di tempat-tempat umum.
Apakah keberhasilan hanya mungkin dinikmati oleh mereka yang dekat dengan kekuasaan ?
9. Fatchurrachman,
— 27 Maret 2009 jam 6:57 am

Tentu saja SBY mengatakan tingkat kemiskinan dan pengangguran turun, karena disekeliling dia kan orang-orang kaya yang meskipun mengemis, tetapi SBY pikir dia bisa dimanfaatkan untuk kumpulin dana kampanye gitu. Lha korban lumpur lapindo yang kepengin ketemu saja dicuekin, tapi dia ga bisa menindak Nirwan Bakrie. Hopo tumon ?
10. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 3:58 pm

Ya, ini satu realitas anomali jiwa dari negeri yang katanya mengusung visi kedilan bagi sosial dan kemakmuran begi seluruh rakyat Indonesia.

Disisi lain, sebagai anak bangsa yang mengedepankan hati empati dan nalar ketika bersikap, jangan sampai lupa mengkalkulasi secara lebih cermat setiap keadaan sebelum bertindak. Dengan begitu energi positif yang hendak kita transpormasikan untuk membela kebenaran itu jangan sampai secara tidak disadari ternyata telah terjebak kedalam wilayah yang kontra pruduktif,di tengah 99% sumber daya dan dana di negeri ini di kuasai oleh para “politikus hitam,pengusaha hitam dan konlomerat hitam”.

Jadi secara itung-itungan ilmu saudagar, syarat utama yang dibutuhkan untuk menolong orang kecil di neri ini adalah dengan cara bersikap premisif terhadap perilaku koruptif kapanpu, dimanapun dan dalam keadaan situasi serta kondisi yang bagaimanapun,pokoknya harus dapet restu kaum koruptif terlebih dahulu.

Dengan begitu pekerjaan menolong orang lain dalam bentuk mengentaskan dari jurang kemiskinan atau apapun masalahnya di jamin menjadi “LEBIH CEPAT DAN LEBIH BAIK”.

Pendeknya, semua itu tergantung ISITAS para pihak yang berkompeten. Urusan pantas atau tidak,nanti dulu.

Leave a Reply