Selamat Jalan Sahabat

Friday, 29-5-2009 | 8:43 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

Oleh Achmad Subechi – 28 April 2009 – Dibaca 833 Kali -

AWAL Januari 2008. Nongkrong sambil ngobrol (berdiskusi) di kantin belakang Kompas, seusai bekerja menjadi kebiasaan kami. Malam itu, selepas bertugas di Kompas.com, saya janjian bertemu Eddy Hasbi (redaktur foto Kompas) di kantin membicarakan perkembangan Kompas Images. Setelah itu saya berniat naik kembali ke lantai lima (kantor Kompas.com).

Sebelum menuju ke lantai lima, saya mampir ke ruangan Eddy. Di tempat itulah, saya bertemu Bambang Wahyuwahono, redaktur desk olahraga. Kami berdua tertawa terbahak-bahak mengenang masa lalu. Masa-masa yang menyenangkan saat bertugas di lapangan meliput berita-berita hukum dan politik. Maklum, saya sudah begitu lama tidak bertemua dia. “Saya baru saja Ching (begitu dia biasa memanggil saya) ditarik lagi ke Jakarta. Sebelumnya saya menjadi wakil kepala biro di Jawa Barat. Sekarang saya di desk olahraga,” katanya.

Saat itu saya juga bercerita kepada dia kalau saya ‘dua kaki’ –menjadi Kepala Biro Persda dan diperbantukan ke Kompas.com. “Baguslah Ching. Hidup ini jangan dibuat susah. Dinikmati saja…. Yang penting anak-anak bisa sekolah. Kedua, integritas (kejujuran) tetap dipertahankan Ching…,” tuturnya sedikit memberi pesan.

Pertemuan dengan Bambang mengingatkan saya pada masa lalu. Pria yang begitu bersahaja, santun, tegas dan penuh wibawa serta energik itu, cukup dikenal oleh para pejabat di negeri ini. Semangatnya dalam mencari berita tak mengenal waktu.  Pernah suatu hari, saya bertemu dia di kantor Komnas HAM kawasan Rawamangun. Padahal waktu itu hari sudah menunjukkan pukul 00.30. Kebetulan Ketua Komnas HAM hendak mengumumkan hasil investigasinya. Tak ada keluh kesah dari bibirnya. Ia dengan setia menanti hasil jumpa pers yang disampaikan Baharuddin Lopa.

Begitu juga ketika kantor Komnas HAM pindah ke kawasan Menteng. Ia benar-benar akrab dengan semua pejabat di Komnas HAM. Keakraban Bambang dengan mereka karena ia dianggap memiliki integritas dan peduli dengan berbagai macam persoalan HAM. Ia benar-benar menguasai konteks (duduk persoalan). Wajar saja, kalau bertanya, pertanyaannya begitu tajam dan menukik.

Begitu juga saat ngepos di kantor YLBHI. Hampir setiap hari, ia berdiskusi sambil menggali isu dari Bambang Widjajanto, Munir (almarhum) dan Teten Masduki.  Gaya bicaranya tidak meledak-ledak. Tatapan matanya tajam dan bersahaja. Kekritisannya itulah yang membuat dirinya disegani wartawan lain. Banyak yang terkesima dengan BW (panggilan akrabnya). Apalagi selama ini ia sangat peduli dengan apa yang dinamakan penegakan supremasi hukum dan ketidakadilan.

Sepekan setelah peremuan itu, saya mendapat kabar kalau BW terjatuh di kantor dan dirawat di rumah sakit karena stroke. Saya kaget. Saya tak menduga, jika pertemuan itu merupakan pertemuan kali terakhir saya dengan BW, karena beberapa saat kemudian saya dipindah ke Kalimantan Timur. Lebih mengejutkan lagi, Minggu (26/4) kemarin saya mendapat SMS yang mengabarkan bahwa sahabat saya itu telah pergi selama-lamanya. Selamat jalan sahabat…. Semoga Allah Swt meluaskan dan menerangi kuburmu serta menerima semua amal ibadahmu, termasuk hasil karya jurnalistikmu hingga pintu reformasi terbuka seperti sekarang ini. Sekali lagi, selamat jalan kawan….

8 tanggapan untuk “Selamat Jalan Sahabat”

1. lily yulianti,
— 29 April 2009 jam 7:56 am

Terima kasih untuk tulisan ini. Saya ingat saat beberapa kali bertemu mas BW di Jakarta, dia ramah dan dalam percakapan-percakapan yang meski singkat, senantiasa memberi pesan serta semangat. Semoga Allah memberi tempat yang layak dan menerima ibadah mas BW. Amin.

ly
2. adven,
— 29 April 2009 jam 8:31 am

Turut berduka cita Pak Bechi,

Meninggalnya Pak Bambang Wahyuwahono yang mendadak tentu menjadi kabar yang mengagetkan. Saya tidak mengenal secara pribadi Beliau, namun membaca kiprah Beliau dari tulisan Bapak, bisa saya pastikan Pak BW merupakan salah satu aktor penting di belakang panggung bagi tegaknya demokrasi dan keadilan HAM di Indonesia. Melalui hasil liputan dan investigasinya masyarakat Indonesia belajar tentang hak dan kewajibannya selaku warga negara. Jalan hidup seorang wartawan memang jalan terjal dan sunyi. Kita, pembaca berita bisa mengenal hasil tulisannya namun sangat jarang bisa mengenal pribadinya. Selamat jalan Pak BW, terima kasih atas dedikasi dan integritas di dalam hidup dan karya ini.

Terima kasih sudah mensharingnya pada kami Pak Bechi.
3. Yani,
— 29 April 2009 jam 10:58 am

Inna Lillahi wa Innalillahi roojiuun…
Semoga Almarhum mendapat tempat yang mulia di sisi Allah swt dan kepada keluarga yang
ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan lahir batin..Aamiin.
4. katou,
— 29 April 2009 jam 4:30 pm

telah hilang sahabat ku “koKi”, kolom kita… i love koki forever more than ever… say yes to koki
5. Cempluk,
— 30 April 2009 jam 2:37 pm

Hikz sedih membacanya…smoga mas BW diterima disisiNYA…,,,,,pakdhe ACHMAD SUBECHI ikut berduka cita hiks
6. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 1 Mei 2009 jam 4:38 am

..turut berduka, Bung Bechi..

Saya hafal geliat internal seorang Jurnalist idealis & terhormat seperti Beliau..
Semoga setiap sumbangsih gelisah Nurani atas segala kisah & peristiwa eksternal yang Beliau sharing-kan selama ini tetap berlanjut dan menjadi salah satu agent pengubah – pembaik kondisi stagnant yang masih banyak menggejala di Negeri yang sama kita cintai ini..

‘nuwun
7. gsumariyono,
— 3 Mei 2009 jam 5:21 pm

landasan utamanya karena pak BW jujur, berani dan punya harga diri, tidak terombang ambing dengan ideologi dan konsep2 pemikiran yang ‘ngawur’, tetapi pak BW mempunyai pandangan yang membela kepentingan banyak.. selamat jalan pak BW….
8. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 2:30 pm

saya yakin di gedung Kompas Palmerah,disana tempat bersemayam para jurnalis pejuang yang seluruh pengabdian hidupnya hanya pantas dicatat dan diperlihatkan di depan Tuhan. Semoga apa yang di buat oleh generasi jurnalis kedepan bisa membuat orang seperti Mas Bambang menjadi tersenyum bahagia dari liang-liang kubur mereka. Saya sangat mengenal tipologi jurnalis group kompas,dari bau dan warnanya sungguh kentara menyengat tajam hingga ke jantung hati setiap pembacanya. Saya selalu bilang kepada anak-anak saya di daerah” nak,kalau kamu rajin baca koran terbitan group Kompas,insyaAlloh kamu akan menjadi cerdas dan lekas dewasa”. Alkhamdulillah anak saya sangat faham akan maksud saya. Selamat jalan, saudaraku,do’a dan sikapku menyertai setiap kebaikanmu.

Selamat Jalan Sahabat
Oleh Achmad Subechi – 28 April 2009 – Dibaca 833 Kali -

AWAL Januari 2008. Nongkrong sambil ngobrol (berdiskusi) di kantin belakang Kompas, seusai bekerja menjadi kebiasaan kami. Malam itu, selepas bertugas di Kompas.com, saya janjian bertemu Eddy Hasbi (redaktur foto Kompas) di kantin membicarakan perkembangan Kompas Images. Setelah itu saya berniat naik kembali ke lantai lima (kantor Kompas.com).

Sebelum menuju ke lantai lima, saya mampir ke ruangan Eddy. Di tempat itulah, saya bertemu Bambang Wahyuwahono, redaktur desk olahraga. Kami berdua tertawa terbahak-bahak mengenang masa lalu. Masa-masa yang menyenangkan saat bertugas di lapangan meliput berita-berita hukum dan politik. Maklum, saya sudah begitu lama tidak bertemua dia. “Saya baru saja Ching (begitu dia biasa memanggil saya) ditarik lagi ke Jakarta. Sebelumnya saya menjadi wakil kepala biro di Jawa Barat. Sekarang saya di desk olahraga,” katanya.

Saat itu saya juga bercerita kepada dia kalau saya ‘dua kaki’ –menjadi Kepala Biro Persda dan diperbantukan ke Kompas.com. “Baguslah Ching. Hidup ini jangan dibuat susah. Dinikmati saja…. Yang penting anak-anak bisa sekolah. Kedua, integritas (kejujuran) tetap dipertahankan Ching…,” tuturnya sedikit memberi pesan.

Pertemuan dengan Bambang mengingatkan saya pada masa lalu. Pria yang begitu bersahaja, santun, tegas dan penuh wibawa serta energik itu, cukup dikenal oleh para pejabat di negeri ini. Semangatnya dalam mencari berita tak mengenal waktu.  Pernah suatu hari, saya bertemu dia di kantor Komnas HAM kawasan Rawamangun. Padahal waktu itu hari sudah menunjukkan pukul 00.30. Kebetulan Ketua Komnas HAM hendak mengumumkan hasil investigasinya. Tak ada keluh kesah dari bibirnya. Ia dengan setia menanti hasil jumpa pers yang disampaikan Baharuddin Lopa.

Begitu juga ketika kantor Komnas HAM pindah ke kawasan Menteng. Ia benar-benar akrab dengan semua pejabat di Komnas HAM. Keakraban Bambang dengan mereka karena ia dianggap memiliki integritas dan peduli dengan berbagai macam persoalan HAM. Ia benar-benar menguasai konteks (duduk persoalan). Wajar saja, kalau bertanya, pertanyaannya begitu tajam dan menukik.

Begitu juga saat ngepos di kantor YLBHI. Hampir setiap hari, ia berdiskusi sambil menggali isu dari Bambang Widjajanto, Munir (almarhum) dan Teten Masduki.  Gaya bicaranya tidak meledak-ledak. Tatapan matanya tajam dan bersahaja. Kekritisannya itulah yang membuat dirinya disegani wartawan lain. Banyak yang terkesima dengan BW (panggilan akrabnya). Apalagi selama ini ia sangat peduli dengan apa yang dinamakan penegakan supremasi hukum dan ketidakadilan.

Sepekan setelah peremuan itu, saya mendapat kabar kalau BW terjatuh di kantor dan dirawat di rumah sakit karena stroke. Saya kaget. Saya tak menduga, jika pertemuan itu merupakan pertemuan kali terakhir saya dengan BW, karena beberapa saat kemudian saya dipindah ke Kalimantan Timur. Lebih mengejutkan lagi, Minggu (26/4) kemarin saya mendapat SMS yang mengabarkan bahwa sahabat saya itu telah pergi selama-lamanya. Selamat jalan sahabat…. Semoga Allah Swt meluaskan dan menerangi kuburmu serta menerima semua amal ibadahmu, termasuk hasil karya jurnalistikmu hingga pintu reformasi terbuka seperti sekarang ini. Sekali lagi, selamat jalan kawan….

Share on Facebook    Share on Twitter

8 tanggapan untuk “Selamat Jalan Sahabat”

1. lily yulianti,
— 29 April 2009 jam 7:56 am

Terima kasih untuk tulisan ini. Saya ingat saat beberapa kali bertemu mas BW di Jakarta, dia ramah dan dalam percakapan-percakapan yang meski singkat, senantiasa memberi pesan serta semangat. Semoga Allah memberi tempat yang layak dan menerima ibadah mas BW. Amin.

ly
2. adven,
— 29 April 2009 jam 8:31 am

Turut berduka cita Pak Bechi,

Meninggalnya Pak Bambang Wahyuwahono yang mendadak tentu menjadi kabar yang mengagetkan. Saya tidak mengenal secara pribadi Beliau, namun membaca kiprah Beliau dari tulisan Bapak, bisa saya pastikan Pak BW merupakan salah satu aktor penting di belakang panggung bagi tegaknya demokrasi dan keadilan HAM di Indonesia. Melalui hasil liputan dan investigasinya masyarakat Indonesia belajar tentang hak dan kewajibannya selaku warga negara. Jalan hidup seorang wartawan memang jalan terjal dan sunyi. Kita, pembaca berita bisa mengenal hasil tulisannya namun sangat jarang bisa mengenal pribadinya. Selamat jalan Pak BW, terima kasih atas dedikasi dan integritas di dalam hidup dan karya ini.

Terima kasih sudah mensharingnya pada kami Pak Bechi.
3. Yani,
— 29 April 2009 jam 10:58 am

Inna Lillahi wa Innalillahi roojiuun…
Semoga Almarhum mendapat tempat yang mulia di sisi Allah swt dan kepada keluarga yang
ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan lahir batin..Aamiin.
4. katou,
— 29 April 2009 jam 4:30 pm

telah hilang sahabat ku “koKi”, kolom kita… i love koki forever more than ever… say yes to koki
5. Cempluk,
— 30 April 2009 jam 2:37 pm

Hikz sedih membacanya…smoga mas BW diterima disisiNYA…,,,,,pakdhe ACHMAD SUBECHI ikut berduka cita hiks
6. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 1 Mei 2009 jam 4:38 am

..turut berduka, Bung Bechi..

Saya hafal geliat internal seorang Jurnalist idealis & terhormat seperti Beliau..
Semoga setiap sumbangsih gelisah Nurani atas segala kisah & peristiwa eksternal yang Beliau sharing-kan selama ini tetap berlanjut dan menjadi salah satu agent pengubah – pembaik kondisi stagnant yang masih banyak menggejala di Negeri yang sama kita cintai ini..

‘nuwun
7. gsumariyono,
— 3 Mei 2009 jam 5:21 pm

landasan utamanya karena pak BW jujur, berani dan punya harga diri, tidak terombang ambing dengan ideologi dan konsep2 pemikiran yang ‘ngawur’, tetapi pak BW mempunyai pandangan yang membela kepentingan banyak.. selamat jalan pak BW….
8. sumijan,
— 21 Mei 2009 jam 2:30 pm

saya yakin di gedung Kompas Palmerah,disana tempat bersemayam para jurnalis pejuang yang seluruh pengabdian hidupnya hanya pantas dicatat dan diperlihatkan di depan Tuhan. Semoga apa yang di buat oleh generasi jurnalis kedepan bisa membuat orang seperti Mas Bambang menjadi tersenyum bahagia dari liang-liang kubur mereka. Saya sangat mengenal tipologi jurnalis group kompas,dari bau dan warnanya sungguh kentara menyengat tajam hingga ke jantung hati setiap pembacanya. Saya selalu bilang kepada anak-anak saya di daerah” nak,kalau kamu rajin baca koran terbitan group Kompas,insyaAlloh kamu akan menjadi cerdas dan lekas dewasa”. Alkhamdulillah anak saya sangat faham akan maksud saya. Selamat jalan, saudaraku,do’a dan sikapku menyertai setiap kebaikanmu.

Leave a Reply