Wasiat Terakhir Mantan Presiden Korea Selatan
Friday, 29-5-2009 | 8:37 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
Oleh Achmad Subechi – 23 Mei 2009 – Dibaca 1446 Kali -
USIANYA sudah mencapai 62 tahun. Ia pernah memegang tampuk kekuasaan tertinggi (presiden) tahun 2003-2008 di negaranya. Namanya Roh Moo-hyun. Beberapa waktu lalu, lelaki itu dipanggil aparat kejaksaan di negaranya, terkait dengan kasus korupsi yang melibatkan keluarga dan orang dekatnya. Bahkan, 19 April 2009 lalu, para jaksa di Korea Selatan (Korsel), menahan seorang pembantu dekatnya bernama Jung Sang Moon.
Mantan Sekretaris Umum itu kemudian ditahan, karena diduga menerima suap jutaan dolar dari pengusaha sepatu yang sudah ditahan dan para pengusaha lokal lainnya untuk keluarga Roh. Roh Moo-hyun sendiri, juga akan diperiksa terkait tuduhan itu. Sedangkan, istri Roh, anaknya dan seorang keponakan perempuan Roh, telah diperiksa. Diduga malu atas tuduhan korupsi melibatkan anggota keluarganya, Roh akhirnya mengambil jalan pintas. Sabtu (23/5) pagi, lelaki itu bunuh diri loncat dari sebuah bukit dan tewas seketika, walau sempat dibawa ke rumah sakit.
“Mantan Presiden Roh meninggalkan rumahnya pukul 05.45. Ketika mendaki bukit Ponghwa, dia terlihat melompat sekitar pukul 06.40,” kata Moon Jae-in, Kepala Staf Kepresidenan Roh. Bahkan, sebelum bunuh diri, ia meninggalkan wasiat buat keluarganya. “Segalanya menjadi sulit… Saya merasa membuat banyak orang menderita.” Selain itu Roh juga berpesan agar jenazahnya dikremasi. Roh adalah pribadi yang dibentuk dari bawah (jalanan). Mantan pejuang hak asasi manusia itu tak pernah menduga bakal duduk di The Blue House, Istana Kepresidenan. Sebagai anak petani miskin dan peternak ayam di Kimhae, Roh amat bersahaja.
Sayang, petaka itu menghampiri keluarganya. Roh merasa malu. Suatu hari sebelum kasus korupsi melilit keluarganya terbongkar, Roh dengan rendah hati menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat dan negaranya karena tak bisa menuntaskan masalah korupsi dan perekonomian. Pidato itu disampaikan, satu hari setelah Mahkamah Konstitusi negara itu menolak usaha untuk meng-impeachnya dan memulihkannya kembali ke jabatan presiden.
Katanya, Mahkamah tidak membebaskan dirinya dari kewajiban moral dan politiknya. Untuk itu dia bertekad mengatasi masalah ekonomi Korea Selatan. Sebelumnya, parlemen meng-impeachnya Roh dengan tuduhan melancarkan kampanye secara tidak sah, salah-kelola dalam bidang ekonomi dan tidak berhasil menghentikan korupsi. Mahkamah Konstitusi Korea Selatan memutuskan tuduhan ketidakmampuannya melaksanakan tugas dan tuduhan korupsi tidak dapat dibuktikan.
***
SUNGGUH amat menyedihkan. Lebih-lebih setelah membaca isi surat wasiat Roh. Pesan yang ia sampaikan teramat dalam. Ada makna tersembunyi yang patut dijadikan pelajaran buat para pejabat kita di negeri ini. Roh tidak akan melakukan tindakan nekat, seandainya anggota keluarganya tak terlilit kasus korupsi. Ia paham betul kekuasaan akan melahirkan madu. Madu-madu itulah yang menarik minat para ’semut’ untuk mendekat ke istana raja. Ketika keinginan atau kepentingan para ’semut’ itu tak mampu menembus benteng pertahanan Roh, maka keluarga dekat Roh yang didekati.
Akibatnya, aib itu menyeruak, lalu melambung ke seantero Korea bahkan dunia. Roh tak mampu mengelola isu itu. Ada beban moral yang tak bisa ia tanggung untuk selamanya. “Saya merasa membuat banyak orang menderita..” Bayang-bayang ketakutan karena merasa bersalah, bisa jadi membuat Roh mengambil jalan pintas. Kematian adalah cara terbaik dan tercepat dalam menyelesaikan masalah. Roh ingin bebas, ia tak mau dikejar-kejar bayang-bayang ketakutan yang telah membuat malu dirinya. Ada perasaan bersalah terhadap masyarakat dan negaranya. Ia tak tega melihat bangsanya menderita karena ulah para koruptor yang notabene ternyata ada di dalam anggota keluarganya sendiri.
Dalam pribadi manusia, tubuh ini selalu dikendalikan oleh dua kekuatan: nafsu dan akal (pikiran). Ketika hati (tempat bersemayamnya segala keinginan/nafsu) tak mampu dikendalikan oleh akal, maka manusia cenderung akan melakukan aktivitas negatif dan merugikan manusia lain. Sebaliknya, ketika akal manusia mampu menguasai hati –’merevisi’ atau bahkan tak menuruti kata hati– maka ia akan menjadi pribadi-pribadi tinggi yang bisa mengeyampingkan bahkan mencampakan penyakit hati. Pribadi yang tinggi dijamin berjiwa bersih dan bercahaya.
Bagaimanapun juga, petaka yang terjadi pada Roh, mari kita ambil hikmahnya. Calon pemimpin di negeri ini hendaklah bercermin dari peristiwa-peristiwa terburuk yang awalnya mengeyampingkan persoalan moral untuk memenuhi keinginan hati. Bukankah pusat kekuasaan, akan menjadi sentral para ’semut’ untuk menghisap bahkan mencuri madu dengan berbagai cara? Tak mustahil, kasus yang terjadi pada keluarga Roh juga bakal terjadi di negeri ini.
Kita semua tahu, kekuasaan yang dimiliki istana, mampu merubah segala-galanya. Tergantung mereka yang memiliki kepentingan akankah mampu menanamkan pengaruhnya untuk meraih apa yang diinginkannya? Untuk itu kita berharap, siapapun presiden terpilih, hendaknya mampu mengendalikan hatinya, mengontrol perilaku-perilaku anggota keluarganya, agar rakyat dan negara tak dirugikan…
13 tanggapan untuk “Wasiat Terakhir Mantan Presiden Korea Selatan”
1. om_parmin,
— 23 Mei 2009 jam 5:02 pm
coba kalo di indonesia. pejabat yang korupsi punya rasa malu dan urat ke-MALU-an nya tdk putus.bisa di bayangkan berapa banyak yang akan bunuh diri karena ketahuan korupsi.sayang nya pejabat kita masih memegang motto: BERANI HIDUP demi sebuah kemunafikan..
2. hendro,
— 23 Mei 2009 jam 5:09 pm
KPK tidak perlu capek kalau pejabat kita seperti orang KOREA, pasti banyak yg bunuh diri.
3. pablo,
— 23 Mei 2009 jam 6:43 pm
“Saya merasa membuat banyak orang menderita..” Bayang-bayang ketakutan karena merasa bersalah, bisa jadi membuat Roh mengambil jalan pintas. Kematian adalah cara terbaik dan tercepat dalam menyelesaikan masalah. Roh ingin bebas, ia tak mau dikejar-kejar bayang-bayang ketakutan yang telah membuat malu dirinya. Ada perasaan bersalah terhadap masyarakat dan negaranya. Ia tak tega melihat bangsanya menderita karena ulah para koruptor yang notabene ternyata ada di dalam anggota keluarganya sendiri.
Begitulah seharusnya kita bersikap – para karuptor ” SILAHKAN MENYUSUL “
4. amien,
— 23 Mei 2009 jam 10:17 pm
di Indonesia sebenarnya juga mencoba untuk mulai memasuki fase tersebut, dimana korupsi menjadi hal yang hina. bukan saja korupsi yang dilakukan diri sendiri, tapi juga korupsi yang terjadi karena faktor keluarga seperti yang dialami Roh dan di Indonesia oleh Soeharto.
terkait dengan korupsi oleh keluarga presiden, pak SBY juga sering mengungkapkan hal tersebut di berbagai kesempatan di TV. Bahwa memimpin bangsa harus mendahulukan kepentingan rakyat, bukan keluarga, Entah siapa yang dimaksud oleh SBY seperti yang terakhir disampaikan pada diskusinya dengan Kadin. beberapa pakar menyatakan bahwa yang disindir oleh SBY tentang bisnis keluarga di pemerintah ialah JK, meskipun JK tidak pernah menanggapi langsung hal tersebut, mungkin karena JK tidk merasa melakukan hal tersebut. ia hanya menyatakan bahwa bisnis keluarganya hanya sekitar 10 % yang bersentuhan dengan pemerintah yang dinyatakannya saat menjawab pertanyaan Karni Ilyas tentang bisnis keluarga JK dalam tolk show di TVOne.
sebaiknya pak SBY mengungkapkan data seperti tuduhannya, biar masyarakat dapat menilai…
karena mental pak Roh Mooh-Hyun (untuk mengakui korupsi yang dilakukan keluarga dekatnya) sepertinya belum dimiliki oleh calon pemimpin-pemimpin kita
5. sianeindriani,
— 23 Mei 2009 jam 11:37 pm
Kita juga prihatin, negeri kita ini sekarang yang dipikirin hanya Kekuasaan, lantas uang. Kini uang telah menjadi segalanya. Agar menang Pilkada pakai uang, menang Pileg pakai uang, lolos dari tangkapan KPK pakai uang, Menang Pilpres pakai uang…eh BLT
6. Rukyal Basri,
— 24 Mei 2009 jam 6:22 am
Kalau arwah Roh yang punya malu tiba tiba terbang ke Indonesia, dan merasuki orang orang Indonesia yang memang pantas dirasukinya, wah, agaknya lahan kuburan nggak bakal cukup deh, tukang gali kubur panen raya, termasuk supir ambulanse dan modin tukang doa, tukang kembang dll.
7. oscar soenda,
— 24 Mei 2009 jam 10:19 pm
bangsa jepang punya tradisi harakiri jika merasa malu teramat sangat. rasa malu ditransformasikan kedalam laku seppuku, mengakhiri hidup dengan usus terburai daripada hidup dipermalukan karena kegagalan. bangsa jepang juga mengubah spirit bushido menjadi sikap etos kerja yang hebat. lihat saja, produk2 industri jepang pasti ada ditiap rumah tangga indonesia. korea juga begitu. roh moon-hyun mengakhiri hidup dengan bunuh diri, daripada hidupnya dipermalukan !
saatnya semangat siri ala bugis ditransformasikan dalam kehidupan bangsa indonesia. misalnya, malu untuk korupsi, malu untuk mencuri, malu untuk kolusi, malu untuk memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk keluarga, kerabat, lingkaran dekat, dst. andai JK jadi presiden, dan ada kerabatnya yang korupsi, akankah seppuku dengan badik untuk menebus rasa malu? atau seperti pada umumnya bangsa kita yang suka ngeles dan cari kambing hitam? wallauhualam bissawab………………….
8. Abak,
— 24 Mei 2009 jam 10:30 pm
Hm…. di sini rasa salah itu selalu dilempar ke orang lain, tidak berhenti di diri sendiri. dan berani menunjuk, saya yang salah.
sehingga persoalan tidak selesai, dan ujungnya saling menyalahkan, dan merasa dirinya yang paling benar dan paling bersih.
siapa korup?
tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain
siapa yang nepotis?
tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain
siapa yang menyalahgunakan fasilitas?
tidak ada yang mengaku, tunjuk orang lain
9. zentua Simbolon,
— 25 Mei 2009 jam 3:27 am
Hidup Indonesia, tidak perlu bunuh diri kayak gini. Para koruptor kita memang lain dari yang lain. ketika koruptor biasanya berlindung atas nama agama; bantu bangun mesjid, LSM berbau agama, sumbang pengjian,sekolah-2 berbau agama(Pesantren-2), sumbang ke gereja, dan rumah ibadah agama-2 lainnya. Jadi kontradiktif dengan korea, koruptor kita malah bangga udah sumbang itu-ini. ada yang malah merasa malaikat, Hidup koruptorrrrrrrrrrrrr,,,,,….. selamat koruptor,……………. Amin.
10. Yan,
— 25 Mei 2009 jam 6:03 am
Pejabat Indonesia disarankan nonton drama korea, supaya terhibur sekaligus dapat pelajaran berharga. he he he
11. ANSWARI JADI,
— 25 Mei 2009 jam 7:59 am
KEMATIAN YANG SANGAT TERHORMAT, DARI PADA DIADILI OLEH MASA YANG KADANG2 MENGABAIKAN HUKUM, SEBAGAI ANAK BANGSA BERANI BERBUAT BERANI BERTANGGUNG JAWAB, TINGGAL MENUNGGU PENGADILAN AKHIRAT, YANG BAIK KITA TIRU YANG JELEK BUANG JAUH2 DR NKRI
12. z Lubis,
— 25 Mei 2009 jam 9:05 am
@abak.
Untuk Korup,kolusi mungkin bisa lempar atau tunjuk orang lain
tp kalo nepostis sudah jelas terlihat,tinggal tunjuk aja!!
13. sumijan,
— 25 Mei 2009 jam 11:04 pm
Terimakasih Pak Bechi, anda telah mengantarkan hikmah kebaikan kerumah kami melalui bacaan ini, sehingga :
Kami bisa belajar untuk untuk lebih hati-hati dan lebih teliti dalam menilai setiap keadaan.
Kami bisa belajar menjaga nasib, dengan menghindari sikap inkonsisten sebagaimana yang telah membuat Pak Roh Moo Hyun menjadi “kesleo Sikap” yang kemudian menjadi “Kesleo Jiwa”.
Kami bisa belajar, betapa Pak Roh Moo Hyun telah kehilangan jiwanya lantaran tidak pandai menjaga nasibnya,perubahhan sikapnya telah membuat hidupnya dikelilingin kesukaran-kesukaran yang menghantarnya pada jurang aib kematian.
Kami bisa belajar, bahwa “Hantu Kewenangan Presiden” telah menjadi “ALAT UJI PENYINGKAP TABIR KARAKTER ASLI” dari seorang “Humanis” kaliber dunia Roh Moo Hyun. Sehingga harga diri dan kredibilitas se orang Roh Moo Hyun talah di ukur dan di bobot dengan hasil akhir “r a s a m a l u” yang tak tertahankan.
“Rasa Malu”, Ia benar-benar telah memberikan kredibilitas luarbiasa atas bangsa jepang, sifat Tuhan sungguh di Muliakan di sana yang justeru oleh bangsa yang tak pernah menyebut-nyebut nama Tuhan.
“Rasa malu” Ia juga telah di wahyukan pada Bangsa Cina,ketika korupsi secara kongkret dapat di berantas dengan sikap tegas dan sangat cekatan.
Beribu-ribu penjahat termasuk koruptor telah di hukum tembak mati di negeri cina,bahkan jika itu ketua partai berkuasa atau presiden sekalipun.
Tanpa bermaksud menjelek-jelekan bangsa sendiri, di Indonesia ini kurang apa di banding negara manapun dalam menyebut-nyebut nama Tuhan.
Tetapi mengapa “Rasa Malu” itu hingga kini belum juga datang..?
Ketika “rasa malu” itu tidak lagi ada dan atau kalaupun ada tak lagi dapat diterapkan secara persis, maka masih adakah tempat bagi Tuhan di sini…?
Ketika “kerja tipu-tipu.nego-nego dan kommpak-kompak jahat” telah di angkat menjadi panglima sikap, masihkah harus tetap merasa bahwa agama dan keber-agamaan masih ada disini…?
Ini negara kita,baik buruknya ya.. tanggungjawab kita bersama,, karena agama itu nasehat..agama itu nasehat..agama itu nasehat
memnerapkan agama secara persis itu dengan nasehat
nasehat itu menghendaki kebaikan pada yang lainya
Karena sesungguhnya amal ibadah itu di hitung pada akhirnya perbuatan
Berbahagialah bagi orang yang bisa istikomah dalam nama Tuhan hingga ajal tiba.













