‘Pasar Hati’ Mendukungmu Prita (Era Humanisme)
Sunday, 7-6-2009 | 14:52 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan
Oleh Achmad Subechi – 3 Juni 2009 – Dibaca 875 Kali -
PRITA Mulyasari. Dia hanya manusia biasa. Popularitasnya mengalahkan artis-artis papan atas di Indonesia, karena ketertindasan. Sudah ada 15.000 dukungan di facebook. Hampir setiap hari saya mendapatkan surat dukungan itu dari beberapa rekan saya. Tuntutan teman-teman adalah ‘Bebaskan Ibu Prita Mulyasari dari tahanan dan segala tuntutan hukum’.
Di Balikpapan, Kalimantan Timur, kalangan penggiat dunia maya, sudah memperguncingkan kasus Prita. “Tolong angkat kasus ini. Dimana empati kita? Ibu itu masih punya dua anak yang masih kecil-kecil. Masak gara-gara menulis email saja, dia harus masuk penjara. Ini keterlaluan,” kata Yoyok Setiyono (News Director Info Channel).
Yoyok, usianya masih muda. Tapi, hatinya bergejolak dan tak mau menerima perlakuan yang dianggapnya melampaui batas dan mengekang kebebasan manusia untuk berkeluh kesah atau sekedar menyampaikan pendapatnya setelah mendapatkan pengalaman empiris. Begitus juga teman-teman saya lainnya yang rajin berselancar di dunia internet. Mereka terharu mendengar berita yang cukup mengejutkan. “Apa salahnya kita curhat dengan teman melalui email dan isinya menceritakan pengalaman pribadinya. Lha kok ini tiba-tiba dijebloskan ke penjara. Aneh….?” tutur rekan saya lainnya.
Kembali ke soal dukungan terhadap Prita yang angkanya sudah mencapai 15.000. Ini sutau fenomena yang luar biasa. Surat dukungan yang melimpah ruah itu, menandakan bahwa masyarakat kita telah muak dengan tindakan-tindakan yang tak menggunakan hati. Ini adalah era bangkitnya gerakan humanisme. Ketika ada manusia tertindas, dianggap terdhzalimi, bahkan tercerabut hubungan kasih sayangnya dengan sang buah hati, maka ‘pasar’ akan menjawabnya. ‘Pasar’ juga yang akan ikut berbicara, menolak tindakan-tindakan yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai dasar kemanusian.
Sebuah gerakan yang ciamik dan tak menutup kemungkinan akan terus berkembang, demi menjaga harga diri dan harkat martabat manusia. Terlepas salah atau benar, rakyat rupanya masih mempunyai hati. Hati nurani yang letaknya di dasar jiwa itu berontak dan ikut berbicara dalam memperjuangkan asasi manusia. Ketika hati sudah mengambil peranan, maka pendekatan yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah, akan lebih elegan, walau negara kita adalah negara hukum.
Hati terbuat dari segumpal darah yang hitam. Tapi ia mampu merobek-robek keangkuhan, merobek-robek kesombongan, merobek-robek kediktaktoran, merobek-robek kedhzaliman dan merobek-robel sel syaraf mata manusia serta mampu menumbahkan air mata bahkan menjebol dinding-dinding hati manusia lainnya yang hitam pekat akibat kearoganan.
Bukankah Prita adalah manusia biasa, manusia yang juga punya hati dan buah hati? Tak ada satupun manusia di dunia ini yang boleh memisahkan atau bahkan membuat abar-abar, sehingga hubungan kasih sayang antara seorang ibu dan anaknya tercabik-cabik. Mampukah kita membendung air mata, manakala Khairan Ananta Nugroho (3) dan adiknya Ranarya Puandika Nugroho (1 tahun 3 bulan) –keduanya anak Ny Prita– bertanya kepada bapaknya, “Ayah dimana Ibu….?”
Ternyata, dibalik rintihan itu… kini sang ibu berada dibalik jeruji penjara hanya karena persoalan yang mungkin bisa diselesaikan dari hati ke hati, sejak kasus itu mencuat. Kini lagi-lagi ‘Pasar Hati’ telah mengibarkan bendera perang. ‘Pasar Hati’ sudah terlanjur berbicara tak hanya di seantero negeri ini. ‘Pasar Hati’ di dunia internasional pun juga sudah mendengar cerita ini. Lalu, sampai kapan ‘Pasar Hati’ mampu menerobos dinding-dinding hati manusia-manusia yang diberikan amanah untuk menegakkan hukum dan keadilan? Prita… bersabarlah….. teman-teman di dunia maya berada di belakangmu……
Share on Facebook Share on Twitter
34 tanggapan untuk “‘Pasar Hati’ Mendukungmu Prita (Era Humanisme)”
1. Linda Sari,
— 3 Juni 2009 jam 2:07 pm
setuju mas….. mari kit beri dukungan terus untuk ibu Prita….
hanya orang2 yang tidak punya hati nurani yang sanggup memisahkan anak dari ibunya..
atau..(maaf..) mungkin mereka tidak terlahir dari rahim seorang ibu…..
2. linda,
— 3 Juni 2009 jam 2:08 pm
Hanya manusia yang tidak berhati dan tidak berbudi lah yang mengusulkan dan memberi ide, serta menyeret seorang Ibu muda yang tengah menyusui, yang hanya berseloroh dalam tulisannya menyatakan ketidakpuasannya kepada layanan publik yang namanya Rumah Sakit…..
Ayo kita cari tahu,siapa pemilik RS OMNI itu.., siapa saja susunan direksinya…. , yang apakah betul-betul hanya mementingkan bisnis semata-mata tanpa mau menerima kritikan konsumen. . ?? dan dengan segala arogansinya menyeret wanita yang memiliki dua anak balita kepada proses hukum.
Bukalah hati .. bukalah rasa wela asih kalian…..
Tiada akan ada gunanya Rumah Sakit semegah itu kalau penghuninya ( baca: pemiliknya ) tidak berjiwa….
3. bambang,
— 3 Juni 2009 jam 2:18 pm
dulu tindakan seperti itu mungkin dilakukan penjajah kepada warga “inlander”,tapi sekarang setelah lebih 60 tahun merdeka,mereka para penguasa dan penegak hukum yang punya logo “pengayom” justru tanpa hati nurani dan deep tought mengikuti saja perintah organisasi/orang yang membayarnya mengetrapkan pasal-pasal yang memberatkan pada orang yang lemah.
Quo vadis kebebasan mengemukakan pendapat ya
4. rizaldo,
— 3 Juni 2009 jam 2:18 pm
setuju mas. jajaran direksi RS OMNI tidak punya hati nurani. copot saja para direksinya.
5. Novrita,
— 3 Juni 2009 jam 2:33 pm
Yang paling gak bisa diterima adalah orang yang demikian tega memisahkan anak yang masih membutuhkan ASI dengan ibunya. Apa hal ini tidak melanggar hak bagi seorang ibu untuk memberikan gizi, makanan, asupan yang baik buat sang bayi?
Saya begitu marah mengikuti kasus ini. Dari segi hak asasi sang bayi, dia berhak 100% memperoleh ASI, begitu juga sebaliknya. Katanya digembar-gemborkan pemberian ASI. Sekarang, kok malah ada ibu sedang memberikan ASI harus dipisahkan dengan anaknya.
Jangan bilang, bahwa ” bisa saja anaknya dibawa serta ke rumah tahanan.”Apa gak lihat kondisi kejiwaan sang anak..?
Konsumen ngeluh kok malah diseret ke pengadilan?
Kemana nurani para penegak hukum?
APa tidak bisa melihat kasus ini dari kacamata yang lebih lebar?
Paranoid yang berlebihan dari RS Omni saya rasa makin membuat makin kacau… Saya yakin, adanya kasus ini makin menambah simpati kepada Prita dan mempurukkan RS Omni..
APa iya hal itu yang diinginkan RS Omni..?
Pihak Humas RS Omni mestinya bisa melihat hal ini dengan cermat dan mempertimbangkan dengan matang. Begitu juga Direkturnya… Semua yang mengelola RS Omni seharusnya memberi masukan yang bijak terhadap pemilik.
Kalo sudah begini, percayalah.. yang diingat masyarakat adalah hal jelek tentang RS Omni…Makin jauh dari tujuan semula untuk meredam agar complaint Prita gugur kan…
Kalo Prita tidak merasa salah, ya memang dia tidak salah menurut saya… Bukankah wajar seorang konsumen mengeluh apabila ada pelayanan yang kurang…
Semoga Prita tabah dan terus diberi kekuatan. Dibalik semua ini ada hikmah yang jauuuuuhhh lebih besar..
6. Mas Agus,
— 3 Juni 2009 jam 2:35 pm
Naahhhh… IDI… apa ini bisa disebut malpraktek…? DEPKES… kok diam saja…? Kok yang berkunjung malah Dewan Pers bukannya LBH ini kasus hukum yang semena-mena… siapa sih yang punya OMNI…? kok sebegitu kuasanya dia terhadap pasien… Polisi harus menyelidiki ini…
7. ugeng,
— 3 Juni 2009 jam 2:46 pm
betul mas achmad.. ini memang perang hati.. dimana keadilan dan hati para jaksa, ketika mereka harus menahan seorang ibu di penjara. padahal saat pemeriksaan di polisi, polisi tidak menahannya karena ibu prita sangat kooperatif dan mempunyai balita.. sedangkan 2 jaksa yg terancam pidana 20 th karena ganja saja dikenakan wajib lapor… saya akan memilih pemimpin yg lebih mengutamakan hati dan keadilan.. tp apakah ada?
Ugeng: Itulah kualitas pemimpin kita. tanpa bermaksud mencurigai siapapun, kita sudah bosan dan jenuh dengan apa yang dinamakan ketidakadilan. Buat apa pakai lambang timbangan segaa, kalau cara menakarnya tidak baik dan benar. Salam kompasiana….
8. Indont3ars,
— 3 Juni 2009 jam 2:52 pm
Anda terlalu banyak berteori.!!!bla…bla..bla…ngoceh tanpa makna….apa yg anda harapkan dng teriak2 di internet..? knp ngga bertindak sekalian aja,turun kejalanan demontrasi..emang lbh gampang sih bersikap seperti orang yg perduli,soalnya anda cuman duduk didepan komputer di temenin rokok sama kopi…dan tulisan anda terlalu puitis….mencoba menarik simpati membaca justru bikin muak,stop being a walking pen…try to sound smart buy you are stupid.aksi bicara lebih keras dari pada omongan ….just go outside and help that women….!!!
Indont3ars: Luar biasa sekali pemikaran dan penilaian anda. Salut.. Thanks banget… Sorry gue mau ngopi lagi nih… daag
9. Bagindazzz,
— 3 Juni 2009 jam 2:53 pm
Jgn pernah singgah apalagi berobat ke Rumah Sakit ini
10. N. Nurhayathi,
— 3 Juni 2009 jam 3:08 pm
Kasus ini sebenarnya bisa jadi berakar pada debat hangat akhir-akhir ini yakni tentang neoliberalisme. Rumah Sakit yang dibuat tidak lebih sebagai proyek bisnis akhirnya hanya bicara keuntungan..keuntungan dan bila perlu menipu pasiennya karena mengganggap pasien sapi perahan yang dapat dieksploitasi. Pendekatan pasar dalam pengembangan kesehatan melalui privatisasi layanan rumah sakit sangat jelas bersumber pada neoliberalisme…dan bisa dicari siapa yang membuatnya menjadi begitu.
Para dokter sekarang pun banyak yang mengejar keuntungan materi sebagai motivasi menjadi dokter, bukan untuk pelayanan publik. Oleh karena itu, mereka menganggap pasien adalah konsumen yang dapat diperas demi memperoleh penghasilan yang tinggi, bukan demi penyembuhan penyakit si pasien. Cerita Ny Prita jelas menunjukkan betapa rendahnya kualitas dokter yang bertugas.
Jadi, kesimpulannya..mari kita dukung pembebasa ibu Prita..stop privatisasi layanan rumah sakit.. perketat masuk FK dengan seleksi yang baik agar yang masuk benar-benar memiliki motivasi menolong sesama bukan untuk mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain dan yang terpenting boikot rumah sakit yang mengeksploitasi pasiennya. Yang terpenting jangan piliah capres yang melakukan privatisasi pelayanan publik alias neolib.
Salam
11. dedy risanto,
— 3 Juni 2009 jam 3:21 pm
Ikut Prihatin dengan kasus ibu Prita, membuat kita jadi berhati-hati lagi berselancar di dunia maya… tapi seperti biasa orang indonesia,,,Untung Kejadiannya dimasa Kampanye Capre-Cawapres,jadi kayaknya bisa happy ending,, karena baru sebentar saja Ibu mega, ibu Mufidah dan ibu Uga mau membesuk bahkan menurut kompas akan diminta unutk di bawa pulang,!
saya tidak bisa membayangkan penderitaan ibu Prita kalo kejadiannya bukan dimasa Kampaye, Kasus David-Singapur meledak di masa kampanye Caleg,, jadi niali jualnya kurang,,,,,sabar-sabar-sabar,, gusti paringono sabar!
12. albertus prayudia,
— 3 Juni 2009 jam 3:31 pm
Mentang-mentang punya kuasa, punya wewenang, eh begitu… Inikan demokrasi Cyber…Kalau nggak mau di komentarin… ya berhati baik dan bertindaklah yang baik… Sekali lagi kan ada hak jawab… Jangan main penjarain orang….penjara bukan penyelesaian… terlebih tangisan sang buah hati… sungguh menggetarkan hati…
kok ya tega…………,
13. Abukamal,
— 3 Juni 2009 jam 3:38 pm
Ngeri juga ya, kalau berobat ke rumah sakit ini berarti harus siap-siap dipenjara. Apapun yang dilakukan dokter, perawat, dan temen2nya di rumah sakit tidak boleh diomongin, tidak boleh diperbincangkan, tidak boleh dikeluhkesahkan.
Kami ikut mendoakan semoga Bu Prita secepatnya bebas.
14. andre,
— 3 Juni 2009 jam 3:41 pm
BOIKOT RUMAH SAKIT OMNI
15. Mas Agus,
— 3 Juni 2009 jam 3:43 pm
@Indont3ars… kalah saingan ente… kita kaum intelektual bro… demo milik kaum liberal… klo kita masih bisa berkarya dengan damai kenapa gak. Ini juga bisa dibilang demo… tapi ini demonya orang intelek… Kaum intelek berpikir dengan otak dan penanya… kaum liberal berpikir dengan otak dan ototnya… jangan-jangan anda ini termasuk orang liberal… atau mungkin neo-liberal…?
16. lintang,
— 3 Juni 2009 jam 4:02 pm
saya yakin masih ada penegak hukum yang ‘punya hati’
17. kuncoro,
— 3 Juni 2009 jam 4:06 pm
tolong kompas kalau perlu membantu ini, depkes bereaksilah kalau perlu juga tutup tuh rumah sakit. mentang2 oran kecil sebegitunya enak aja jeblos penjara
18. sumijansumijan,
— 3 Juni 2009 jam 5:07 pm
WOW….ADA YANG SEPERTI NASIB SAYA…..?
Saudaraku Prita Yang Terhormat tapi Tertindas di seantero negeri,
Dalam situasi ini,pekerjaan terpenting adalah memnajaga nasib dengan benar dan tepat,agar semua kesukaran-kesukaran tidak semakin sukar.
Sungguh…!, trenyuh dan haru-biru suasana hati empati di dada ini, baru mengetahui hal ini setelah membaca tulisan “Pasar Hati” Mas Bechi.
Seorang Ibu tulen yang kelihatan tak neko-neko, mengalami nasib buruk luar biasa akibat di laporkan pencemaran nama baik oleh satu Institusi yang merasa telah di cemarkan nama baiknya. Ironinya institusi yang sangat lekat dengan kerja-kerja sosial kemanusiaan pula.
Sebagi orang waras, saya bertanya-tanya dalam hati, dimanakah tempatnya hati dan empati Institusi kemanusiaan itu….? sehingga terlalu yakin bahwa tindakan-nya atas Ibu Prita adalah hal yang pantas dan wajar.
Adakah ibu Prita dijadikan tumbal alat sock theraphy atas sakit hati oknum-oknum Institusi yang semakin sering di laporkan mall praktek oleh para pasien-nya…?
Boleh jadi, Ibu-ibu Prita lainya akan menunggu giliran di pidanakan hanya karena melakukan-hal-hal baru yang seharusnya menjadi tanggung-jawab pemerintah untuk melakukan kerja pembinaan terhadap pengguna internet di se antero negeri ini. Ini fenomena baru, yang apabila terdapat unsur negatif-nya harusnya cukup dilakukan upaya pembinaan sosialisasi dan pendekatan yang lebih manusiawi.
Yakin, seandainya para arwah leluhur pendiri negara bangsa ini menyaksikan hal ini, niscaya mereka akan marah dan mengutuk praktek kerja-kerja anak bangsa yang semakin mendewa-dewa kan angka-angka untung-rugi dan menang-kalah.
Seakan pusaka warisan leluhur, nilai-nilai filosofis Panca Sila dan mukadimah UUD’45 sudah lenyap di telan bumi, duh… Gusti alloh Tuhan-ku, semoga jauhkan azhab dari negeri kami ini!
Betapa nasib sesamaku di seantero negeri ini telah menjadi korban ke biadapan penerapan menejemen angka-angka, budaya baru dari bangsa kapitalis opportunistis asing yang dipaksakan untuk menindas dan memeras kami. Celaka.., oh…celaka, ternyata terbukti angka-angka tidak memiliki hati dan empati,apalagi rasa.
Yakin, di “Pasar Hati” Pak Bechi pasti ada di sediakan gratis ilmu “Menejemen Rasa dan Merasa”
Dengan ilmu “menejemen rasa dan merasa” semua anak bangsa akan menemukan hati dan empati serta kredibilitas nasionalis dan Pancasialis sejati.
Penerapan menejemen angka-angka dalam urusan apapun pasti, melahirkan ketidak seimbangan, ke tidak pantasan, ketidak wajaran, ketidak samaan, ketidak pasian, ketidak adilan, ketitak rataan dsb..dsb…
Selanjutnya yang terjadi adalahsemuanya kerja-kerja hanya untuk memakmurkan dan mensejahterakan kaum kapitalis opportunistis dalam dan luar negeri. bahkan kerja-kerja di pemerintah,swasta dan kemasyarakatan….?
Semoga seluruh stakeholders bangsa ini segara siuman,bahwa peran dan fungsi anak bagsa ini adalah untuk membangun bangsa Indonesia dengan rasa dan karsa. Tanpa itu, kita hancur lebur sebagai bangsa.
Kembali ke Ibu Prita, apakah tindakan “institusi sosial kemanusiaan” RS melaporkan Ibu prita ini tidak kontraproduktif dengan visi dan misi RS sebagai institisu pengemban amanah sosial kemanusiaan…?
Ataukah, Ibu Prita ini adalah orang yang kebetulan dijadikan korban balas dendam dan sock theraphy atas oknum-onum RS yang sakit hati lantaran semakin sering di adukan mall paktek oleh warga masyarakat….?
kalau kesemuanya itu hanya di dasarakan atas asumsi pihak RS akan adapat dirugikan, maka stikma negatif RS ke depan sebagai institusi angker dan berbahaya tak terhindarkan lagi.
Saya sangat berharap ada fihak-fihak yang memiliki kapasitas intervensi positif menjadi fasilitator agar pihak RS mau mencabut laporanya, sebab ini kasus delik umum.
Semoga pihak Institusi aparat yang menengani kasus ini, dapat mengedepankan unsur “rasa dan merasa” serta pembinaan yang lebih manusiawi lagi terhadap Ibu Prita, sebab kasus internet adalah fenomena massa yang sama sekali baru sehingga menjadi tanggungjawab pemerintah juga untuk melindungi dan mengayomi setiap warga negaranya dari jeratan hukum lantaran ke awamanya. Apalagi untuk kategori seorang Ibu rumah tangga yang jelas tak mungkin neko-neko itu.
Mari membangun bangsa dengan rasa dan merasa, agar negara bangsa ini menjadi berbahagia.
Besakan Ibu Prita atau bangsa ini tak punya hati dan rasa malu!!!!
Terimakasih Pasar Hatinya.
19. bambang p.s.,
— 3 Juni 2009 jam 5:17 pm
Masalah ini sudah menyangkut berbagai aspek. Pertama masalah penerapan UU ITE, apakah pasal-pasal dalam UU ITE ini sudah tepat? atau terlalu kaku? atau terlalu mudah ‘diplintir’? atau justru penerapan UU nya yang salah? Janganlah gara-gara UU ITE menjadikan para pecinta internet malah jadi takut berkomunikasi. Bayangkan, susahnya mensosialisasikan internet, eh udah pada demen internet, malah ketika datang UU ITE maka datang juga hukuman penjara bagi orang yang hanya sekedar curhat ataupun menyuarakan kebenaran.
Kedua adalah aspek pelayanan kesehatan. Waduh, kok empati sudah hilang yah dalam pelayanan kesehatan kita. Kita sudah sering dengar dimana-mana bahwa jika mau masuk ke sebuah rumah sakit harus bayar DP dulu baru terlayani. Belum lagi kasus malpraktek yang sering juga terjadi. Nah, kalau sekedar protes atau tidak setuju dengan pelayanan yang diberikan lalu dituntut ……….. waduh …………… kok arogan sekali yah. Apa tidak dilalui dengan pertemuan terlebih dahulu antara kedua belah pihak? Selesaikan secara damai jikalau ada perbedaan pendapat. Bukan langsung bak bik buk tahan. Apa sudah hilang budipekerti dari para pelayan kesehatan kita?
Aspek berikut adalah wawasan kebangsaan (walau tdk terkait dgn artikel di atas), lha ini kaitannya dengan neoliberal (ha….ha….ha…). Beberapa minggu yang lalu disurat kabar saya membaca sebuah rubik tentang masuknya dokter-dokter asing ke Indonesia, dgn praktek yang gak karuan pula. Alasannya cukup klasik, adalah globalisasi yang menjadi kambing hitamnya. Jujur ini membuat aroma yang tidak sedap. Harus segera diatasi.
Aspek politik (??), yang karena musim kampanye presiden, konon beberapa kontestan mendatanginya dan ingin membebaskannya. Terlepas pro dan kontra apakah dijadikan komoditas politik, mari kita dukung saja pelepasan ibu muda ini dari penjara, biar segera berkumpul dengan anak-anaknya. Utamakan kemanusiaannya dibanding pro kontra sesama kita disini soal apakah menjadi komoditas politik atau tidak ![]()
20. swibo,
— 3 Juni 2009 jam 6:56 pm
mungkin kasus kaya prita ini sebenarnya banyak tapi gak ketahuan aja, kasihan si prita. Boss tulisannya bagus ajarin dong….
21. rotten,
— 3 Juni 2009 jam 7:39 pm
Gak perlu demo2an klo zaman sekarang. Ada cara lain yg jauh lebih efektif utk menghukum pengusaha yg spt ini: Word of Mouth, apalagi dgn bantuan kemajuan teknologi.
Lindungilah diri Anda & orang2 yg Anda sayangi dgn:
- Jangan datang lagi ke sini & jgn berobat ke 2 dokter ini
- Informasikan kpd teman2, tetangga2, & keluarga2 Anda & minta mereka menginformasikan kpd orang2 lain
Ingat, kasus ini bisa jadi preseden. Kalau para customer gak bertindak, jgn heran kalau akan ada Omni2 lainnya. Tapi, kalau kita bisa bertindak dgn efektif, ini akan jadi pelajaran bagi pengusaha lainnya utk gak sewenang2.
Customer adalah raja. Kita berhak & malah harus menghukum mereka yg menginjak2 kita.
22. sumijansumijan,
— 3 Juni 2009 jam 10:10 pm
Pak Bechi Yth, saya baru saja baca postingan Mas Iskandarjet di Kompasiana, disana di ceritakan bahwa, Ibu prita sekarang sudah keluar dari Lapas berkumpul kembali dengan keluarganya dengan status tahanan Kota. Namun demikian, perkaranya tetap jalan.
PN Tanggerang memutus bersalah dan bayar uang penggati kerugian materiil Rp.161 Juta dan kerugian imateriil Rp. 100 juta untuk klarifikasi media nasional. Menyedihkan.
Mengapa sepertinya para Hakim di negeri ini tidak ada lagi yang berani bersikap “progresif”, ketika seorang hakim di dalam mengambil keputusan hukum atas satu perkara yang sedang di tanganinya boleh di dasarkan atas “hati nurani sanga hakim”….?
Mengapa seolah “seluruh hakim” di negeri ini menjadi serempak tunduk patuh habis pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP)…..?
Kalau seandainya seorang hakim lebih mengikuti hati nurani dalam menjalankan tugasnya, siapa yang marah-marah…?
Kalau kerja Hakim cuma tunduk patuh habis pada wilayah BAP, apa tidak sebaiknya tugas-tugas kehakiman di seluruh indonesia di ganti-kan oleh ” hakim robot cop” saja…?
Dengan begitu semua proses hukum dapat diselesaikan secepat kitlat, murah dan tanpa prosedur berbelit n bertele-tele.
Jika lau sama-sama tak pakai hati nurani dan akal sehat, mengapa negara ini tak pilih pakai “Hakim Robot Cop” saja….?
Paling kalau “hakim robot cop” lagi macet, dibelikan baterai di warung sebelah, jalan lagi.
Duh…., Gusti..Allah SWT, semoga Ibu Prita dan keluarganya setiap hari semakin siap menghadapi tantangan nasib memilukan ini. Amiiin.
Mohonma’af jika pertanyaan dan usulan saya salah.
23. muir,
— 4 Juni 2009 jam 3:31 am
setiap orang itu punya otak dan punya hati…nah kalo melihat kasus Prita seharusnya hati kita tergugah tapi kalo liat kasus Manohara, orang2 gak pake bahkan otak juga gak dipake yang ada pake nafsu…pa lagi kl liat ibunyaaa…
24. anto,
— 4 Juni 2009 jam 10:19 am
wah.. kalo bu prita sampai dinyatakan bersalah.. kayanya kolom surat pembaca di media cetak ga perlu ada lagi deh.. Tidak boleh melakukan aktivitas curhat atau komplain dalam bentuk apapun di media apapun termasuk email, facebook dan termasuk kompasiana, resikonya besar “penjara”.
25. S. Rumondor,
— 4 Juni 2009 jam 10:39 am
Siapapun yg pernah berobat apalagi dirawat di RS Swasta pasti tahu bahwa Rumah sakit adalah ladang bisnis yg paling subur ,ketidak tahuan pasien dimanfaatkan sebesar2nya utk mengeruk duit pasien sebanyak2nya sebagai contoh ada RS dimana rawat inap kls 3 yg harga kamar hanya Rp 150,000 ttp harus memberi deposit sejumlah Rp 13 jt dan selesai perawatan deposit tsb masih kurang ,demikia pula ada RS UTK Rawat jalan sebelum diperiksa harus setor duit dulu ,belum lagi resep obat yg diberikan harganya selangit mahalnya ,pengalaman saya sendiri mengantar anak dewasa berobat di UGD karena panas kemudian diperiksa darah bermacam2 yg menurut saya ada yg tidak perlu dan selesai pemeriksaan diharuskan dirawat ,karena menolak disuruh mengisi surat pernyataan menolak dirawat ,ternyata dgn istirahat dirumah dlm waktu 3 hari sembuh total ,coba kalau mengikuti kemauan pihak RS dirawat berapa juta biaya yg harus dibayar , yang menjengkelkan begitu selesai dari UGD dan membayar harga obat dan pemeriksaan darah harganya selangit tetapi pasien bisa apa mau tidak mau yah harus bayar .
26. Yaning,
— 4 Juni 2009 jam 11:30 am
Harusnya RS Omni bermain cantik dan elegan, dengan menanggapi keluhan konsumen dengan baik. Kalau begitu mereka sendiri juga bisa mengambil manfaat, yaitu brand image mereka akan menjadi bagus karena mengutamakan kepuasan konsumen. Sayangnya bukan seperti itu yang terjadi. Bukankah dengan menuntut Ibu Prita nama rumah sakit tersebut akan menjadi lebih buruk lagi dan mengurangi pasien potensial yang sebenarnya berniat berobat ke sana?
Soalnya promosi gethok tular alias dari mulut ke mulut itu sebenarnya paling efektif. Apalagi kalau hal buruk, wah, nyebarnya ke mana-mana itu.
Mari kita layani setiap konsumen, pasien, pengguna jasa apapun itu dengan baik.
27. echi,
— 4 Juni 2009 jam 12:31 pm
Saatnyalah LSM Wanita bergerak dan mendukung kaum yg tertindas, ini salah satu dari beberapa puluh kasus yg belum terungkap, masih banyak kasus yg tersembunyi yg berhubungan dengan wanita yg tak berdaya yg tdk mempunyai kekuatan .contohnya
ibu prita yg mengatakan kebenaran ,dinyatakan bersalah , dimana kesalahan ibu pitra ini , ….?
yach mudah2an tidak mempengaruhi perkembangan anak2 dari ibu Pitra dengan kejadian melihat ibunya ditahan . tolong ditinjau kembali, bebas kan tanpa bersyarat.. PakHakim ,,,mohon keadilan bapak sebagai penegak hukum , Ingat pak masih ada yg lebih berkuasa dari bapak kita punya bapak yang akan menilai kejujuran bapak ,ok dech pak …kita tunggu good news.
28. R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 4 Juni 2009 jam 1:11 pm
Pasar HATI.. jendela jerit sang Sukma.. pembahasa bisikan NURANI..
Bung Bechi, maturnuwun..
Kisah pilu Ibu Prita, sebuah contoh dari sekian banyak deret kisah senada lain yang acap kali berhasil mencuat sebentar, lalu melenyap.
Sayangnya, umumnya ia tidak nyata mereda.
Duka penyertanya tetap berlangsung.. dan (bisa) terhidupi abadi.. dalam keseharian sang korban.. termasuk lingkungan terdekat sang korban.
Bagaimana kita bisa berkaca pada kondisi ini..?
Saya kira, seperti yang sering kali saya utarakan sedari lama, kita musti kembali pada pembenahan pembentukan nilai Pendidikan Moralitas di Negeri kita ini.
Di segala sektor, tanpa kecuali..!!
Dari mana memulainya?
Cara praktisnya adalah dari setiap diri. Dari diri kita masing-masing.
Lalu, lebarkan sedikit demi sedikit energi/aura positifnya, ke lingkungan terdekat.
Bila setiap dari kita relakan diri memperbesar energi positif dimaksud, saya yakin perbaikan menjadi nyata. Setiap diri relakan diri menjadi Agent Perubahan.
Menuliskan bahasa sukma positif atas apa yang berlangsung di sekitar (seperti yang dilakukan oleh Bung Bechi, termasuk banyak Sahabat lain), juga salah satu cara terkait, menurut saya.
29. Indont3ars,
— 4 Juni 2009 jam 4:28 pm
R.Ngt Anastia Ririen……R.Ngt itu artinya apa.?
30. babyoil,
— 5 Juni 2009 jam 1:18 am
semua ini tdk akan terjadi apabila pemerintahan yg sekarang tdk terlalu cepat untuk memaksakan UU ITE berlaku
infrastruktur SDM kita masih banyak yg jaka sembung niiiihhh
kacau….
31. underworld,
— 5 Juni 2009 jam 4:25 am
Saya yakin seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan pasti bakal membela dan mendukung untuk KEBEBASAN PRITA.
Jangan pernah menyerah PRITA karena kami akan mendukungmu dan semoga masalah ini cepat teratasi “LEBIH CEPAT LEBIH BAIK”
32. muniel,
— 5 Juni 2009 jam 8:23 am
berani gak bu siti fadhilah kasih sanksi ke rs omni?
menurtu bu siti “Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menegaskan, masyarakat sebaiknya belajar dari kasus Prita Mulyasari. Apabila masyarakat tidak puas dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit, sebaiknya mengadu melalui jalur yang benar dan tidak asal menulis tanpa menyertakan bukti-bukti.
Siti Fadilah Supari, Kamis (4/6) di Lampung Selatan, mengatakan, ketika masyarakat berobat dan mendapat pelayanan kesehatan yang tidak memuaskan, masyarakat diperbolehkan mengadu kepada kepala dinas kesehatan setempat. Jika tetap tidak puas dengan penyelesaian masalah layanan kesehatan, masyarakat bisa mengadu ke Majelis Kehormatan Kedokteran Indonesia (MKKI).(kompas.com)
berarti curhat ato ngasih peringatan ke teman ttg suatu pelayan gak boleh ya….
sekarang jaman maju bu…. informasi sebagian besar lewat email bu……
bukan berarti prita melalui jalur yang salah!!!!!!!!!!!!!
Muniel: Mana ada sih pejabat yang mau memberikan ruang dan waktunya untuk menerima rakyatnya? Suruh menghadap atau melapor kepala dinas? Emang gampang apa? Coba deh besok gue menghadap Menkes, pasti ditanya macam-macam oleh sang ajudan…. Yang jelas, pemerintah harus melakukan penelitian secara serius apakah seberapa baik tingkat pelayanan dari RS swasta di negeri ini. Jangan hanya kemewahan infrastrukturnya saja yang ditonjolkan. Kapan nih Bu Menkes mengumumkan hasil penelitiannya?
33. erni,
— 5 Juni 2009 jam 5:06 pm
Apapun yang terjadi, RS OMNI sudah pasti kalah. Justru dengan blow up kasus ini secara besar – besaran, orang pasti langsung malas berobat kesana. Kesehatan sangatlah sensitif dan pasien memerlukan kepercayaan yang tinggi kepada dokter/ rumah sakit. Walaupun *misalnya* yang terjadi pada bu Prita adalah murni fitnah, warga juga pasti ragu untuk berobat kesana. Sekian ratus juta yang dimenangkan oleh OMNI tidak akan ada gunanya. It’s a lose-lose situation untuk OMNI.
34. fanni_g,
— 6 Juni 2009 jam 5:08 pm
to muniel:
Ibu Siti Fadhilah kayaknya gak akan kasih sanksi ke RS OMNI, melihat kasus ini sudah di-politisir. Selain itu juga banyak pihak2 tertentu yang berkepentingan pastinya.
Hati Nurani memang sangat diharapkan dalam penyelesaian kasus ini, tapi pemerintahan yang dipimpin oleh orang no.1 sekarang tidak akan ‘menyentuh’ area tersebut.
Dikarenakan oleh agenda yang ‘Ekonomi Neo-Lib’ lebih prioritas.
Lagi-lagi masyarakat ‘dibodohi’ oleh suatu aksi2 pembelaan yang tidak masuk akal!!!
kirim komentar
Nama (wajib)













