Ayat Sarat Makna

Wednesday, 10-6-2009 | 17:55 WIB | Komentar | Kategori: Gagasan

PASAR menjadi sumber inspirasi kehidupan. Lebih-lebih kalau kita mau melangkahkan kaki ke pasar tradisional. Ada spirit yang bisa kita ambil, setelah mengamati kehidupan dan perilaku para pedagangnya.  Entah sudah berapa banyak sahabat yang saya ajak nongkrong di pasar, hanya sekedar memetik hikmah dari kerasnya kehidupan. 

ADA nilai-nilai kearifan di dalamnya. Sebaliknya, ada juga pedagang yang tak berpegangan pada nilai. Terpenting untung, walau ketidakjujuran selalu menjadi alat untuk meraup kekayaan. Lebih mengelikan lagi, ada pedagang yang asal kasih harga, setelah melihat penampilan konsumennya.

Begitu juga ketika kita mengamati perilaku pembeli. Ulet, tidak grusak-grusuk dan pandai menawar. Sangking uletnya, cara menawarnya pun, benar-benar mampu merontokan hati pedagangnya. “Ada kepuasan tersendiri kalau kita berhasil menawar barang dagangan dengan murah,” begitu seorang sahabat saya berkomentar setelah saya ajak nongkrong di Pasar Palmerah, beberapa bulan lalu.

Sahabat saya itu merasakan ketenangan, setelah berjam-jam bercengkaram dengan pedagang sayur mayur. Ia bertanya ngalor ngidul, termasuk mengorek asal-usul sang pedagang serta sayur mayur yang dijajakannya. “Coba bayangkan, hanya mengambil untung Rp 500 perak saja per ikat, ibu itu berangkat dari Serpong pukul 15.00 sore dan kembali ke rumah pukul 06.00 pagi. Ini spirit luar biasa yang berhasil saya tangkap dari cerita sang ibu itu,” katanya.

Sejak itu, sahabat saya mengaku akan mencoba hidup berhemat, karena mencari uang Rp 500 perak saja susahnya minta ampun dan harus memeras keringat seperti yang dilakukan seorang ibu pedagang. “Hidup ini memang keras. Kalau mau makan, ya harus banting tulang kayak pedagang itu. Mereka tak mengenal waktu,” tuturnya.

Paling menyenangkan kalau nongkrong di pasar tradisional adalah mengamati perilaku para pedagangnya. Kekerabatan antara penjual cabe, tomat, wortel, sayur mayur, benar-benar terbangun dari zaman nenek moyang mereka. Walau lapak mereka berdekatan, tak pernah ada cekcok mulut apalagi berantem.

“Tuhan menurunkan rezeki itu sudah ada alamatnya. Kita tak boleh sakit hati kalau melihat warung orang lain ramai, sedangkan warung kita sepi. Iri, dengki, sombong, rakus, harus kita kesampingkan kalau rezeki itu mau datang ke diri kita,” kata Paijah, sang pedagang sayur mayur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Paijah sudah puluhan tahun membuka lapak di pasar itu. Ia nyaris tak pernah menggerutu, walau dagangannya kadang sepi pembeli. Kuncinya, harus ulet, rajin dan tak mudah patah semangat.

Sesekali saya tertawa geli setiap kali mengamati para pedagang sayur, ikan, bumbu-bumbu, buah dan lain-lain. Sambil menunggu pembeli, tangan mereka tak pernah berhenti bergerak atau berpangku tangan. Pasti ada-ada saja yang dipegangnya atau dibenahi (utek-tek barang dagangan). Nganggur sedikit saja (berdiam diri), rasanya tidak ada kamus buat para pedagang. Hidup harus dinamis.
***
RABU (10/6) kemarin, saya sengaja mengajak Rizal (anak saya) jalan-jalan ke Pasar Kebayoran Lama. Kali ini saya ingin mengamati para pedagang di pasar loak. “Pa… itu ular kobra ya? Hi… menakutkan. Ular kok dijual,” kata anak saya.

Kami terus berlalu. Kali ini kaki melintas di depan para penjual batu akik, manik-manik tempoe doloe, hingga keris-keris mini (miniatur). Saya tak begitu suka dengan batu akik. Pandangan kami hanya sekilas.

Di ujung pasar, seorang wanita tua berbadan gemuk, sibuk menawarkan lembaran uang kuno. Saya berhenti sejenak. Seorang pria muda, terlihat memilih-milih uang jadul, diantaranya pecahan Rp 1000 bergambar Soekarno yang diterbitkan sekitar tahun 1964. Potongan kertasnya agak tebal, lebar dan panjang. Pada tahun yang sama, juga dikeluarkan uang pecahan Rp 10.000 juga bergambar sang Proklamator Soekarno. Bentuknya, lebih lebar lagi dibanding uang pecahan kertas terkini. Trus ada juga uang pecahan Rp 10.000 bergambar RA Kartini, pecahan Rp 100 rupiah bergambar Soekarno dan pecahan Rp 25 rupiah (tahun 1964) serta tumpukan uang kuno lainnya.

“Anak muda itu orang kaya. Dia kolektor uang dan sering membeli uang kuno ini. Kapan hari dia nongkrong di rumah saya sampai jam 03.00 pagi, hanya memilih uang jadul. Penampilannya ya begitu saja, tapi dia sangat kaya. Kadang dia memburu mata uang asing, Iran, Irak, dolar dan lain-lainnya,” bisik sang emak kepada saya.

Saya amati, anak muda itu. Lagi-lagi, sang emak selalu menceritakan keadaan sesungguhnya siapa anak muda tersebut. Kali ini suaranya agak keras. Sang anak muda itu tahu kalau lagi diperguncingkan. “Ah… saya ini orang biasa saja. Jangan dengerin omongan emak,” tuturnya.

Sepuluh uang pecahan telah dipilih. Sang emak menelitinya satu persatu. “Ah.. kalau yang ini harganya agak mahal. Rp 100 ribu perlembar (mata uang Iran). Kalau lainnya okelah… perlembar Rp 5000 saja,” kata sang emak.

Usai dibayar, sang pemuda itu pergi. Saya jadi ikutan tertarik mengoleksi uang jadul. Saya pilih sepuluh lembar. “Berapa Mak?” “Kasih saja Rp 50.000.” “Kalau uang golden nedherland ini berapaan?” “Oh… uang ini biasa dipakai untuk kerokan. Ya sudah sepuluh ribu empat,” ungkapnya.

Anak saya, tertawa geli mengamati cara saya memilih-milih uang jadul. “Untuk apa Pa? Masak uang jadul kok dibeli?” “Eittt… tahu enggak… kalau kamu mau jadi orang kaya, mestinya uang pecahan Nedherland yang dikeluarkan tahun 1914 itu kamu beli semua,” kata saya. “Lho untuk apa?” “Ah.. dikau ini kurang cerdas. Kan uang kepeng ini bisa dibuat liontin. Tinggal kamu lubangi, lalu dibelikan tali kalungnya, trus dijual ke teman-teman sekolahmu. Kamu jual Rp 25.000 saja bisa laku lho kalau sudah jadi kalung. Siapa tahu kalung dengan bandul mata uang kuno, bisa ngetren.” Anak saya hanya tertawa saja. Akhirnya, saya beli empat kepeng. Sesampainya di rumah, kepeng-kepeng itu saya lubangi pakai paku dan saya bersihkan dengan braso. “Wow… bagus juga Pa,” kata Rizal.

Nah, sebelum saya meninggalkan lapak sang emak, mata wanita itu seakan tak berkedip menatap saya. Orang di sekitarnya juga begitu. “Apa ada yang salah? Bukankah, saya sudah membayarnya.”

Sesaat kemudian, emak itu mendekati saya. Ia berbisik. “Sebentar… saya ada oleh-oleh buat kamu.” “Hah…..? Oleh-oleh apa Mak?” Wanita itu lalu merunduk ke bawah mengambil tas kresek warna merah. “Ini kamu bawa pulang.” “Apa isinya?” “Sudah bawa saja pulang ke rumah.”

Awalnya saya berusaha menolak. Tapi bibir rasanya tak bisa berkata-kata, kecuali ucapan terima kasih. Saat kaki baru melangkah beberapa meter, sang emak itu memanggilnya saya kembali. “Hoi… kesini sebentar.” “Ada apalagi Mak?” “Ini juga kamu ambil. Bawa ke rumah dan jangan dijual…” pesannya sambil memberikan satu tas kresek berwarna hitam.

Sambil pulang menuju ke rumah, Rizal, anak saya tak henti-hentinya tertawa. “Ada… ada saja Pa. Kenapa tidak ditolak?” “Zal… Papa justru terharu dengan sikap emak itu. Coba bayangkan, ditengah masyarakat yang tingkat individualistiknya begitu tinggi, masih saja ada orang mau memberi sesuatu ke orang lain. Dan nanti kamu akan tahu ada apa dibalik semua ini. Pasti ada makna tersembunyi…”

Sesampainya di rumah, Rizal berteriak memanggil mamanya. “Nih… Papa ada-ada saja. Tuh, dikasih pedagang dua tas kresek. Enggak tahu apa isinya.” Mendengar cerita Rizal, isteri saya tentu saja ngomel. “Kenapa enggak ditolak? Buat apa dibawa pulang ke rumah? Kasihkan ke orang saja…”

Saya diam, tak menjawab. Di depan teras, Rizal saya suruh membeli kardus bekas. Maksud saya, apapun isi dari tas kresek itu, barang pemberian orang haruslah kita rawat dan kita hargai, tanpa harus melihat nilainya. Apalagi, sang pemberi adalah manusia-manusia yang tulus, ikhlas tanpa pamrih.

Setelah saya buka, astaga… isinya berbagai macam pakaian wanita dan anak-anak. Semuanya terlihat masih baru. Entah, sang emak beli dari mana dan apa maksud dari pemberian itu.

Begitu, saya masukan ke dalam kardus, lewatlah seorang janda tetangga rumah saya. “Om… itu apa?” tanyanya. “Oh… ini diberi pedagang uang jadul di Pasar Kebayoran Lama.”

“Wah saya mau juga lho Om… Kebetulan anak-anak belum beli baju.” Tanpa ba… bi… bu… lagi, semua pakaian itu saya suruh angkut ke rumahnya. “Asal dipakai ya?” “Iya.. Om… dengan senang hati. Anak-anak saya pasti merasa senang….” tuturnya.

Dari cerita itu, ternyata sedekah itu memang ada alamatnya. Saya hanya perantara dari sang emak. Barang pemberian itu, akhirnya jatuh di tangan janda yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga… Terima kasih Tuhan, Engkau telah menunjukan satu ayat sarat makna….

Leave a Reply