Berburu Uang Gress

Wednesday, 9-9-2009 | 17:19 WIB | 1 Komentar | Kategori: Gagasan, Lebaran

Oleh Achmad Subechi – 9 September 2009 – Dibaca 676 Kali -

LEBARAN sudah di depan mata. Selain sibuk merencanakan mudik, berburu uang pecahan Rp 2000 di kantor Bank Indonesia (BI) semakin marak. Apalagi uang pecahan Rp 2000 itu baru diluncurkan ke publik. Wow… tambah semangat. Rekan-rekan saya yang berencana mudik, sejak seminggu lalu sudah mengantongi uang receh, walau ia harus berlama-lama antre. “Uang ini nanti akan saya bagi-bagikan di kampung (Madura, Jawa Timur) pada saat lebaran,” kata seorang rekan saya.

Di Cirebon, para orangtua sempat cekcok mulut dengan aparat Bank Indonesia (BI) saat antre tukar uang pecahan Rp 2000. Biasanya, semakin mendekati hari H, Bank Indonesia di masing-masing daerah penuh sesak. Uang baru, harumnya pun beda. Lalu untuk apa uang itu? Rupanya, uang itu akan dibagi-bagikan kepada sanak famili, kerabat dekat, anak-anak yang datang ke rumah-rumah (budaya unjung-unjung).
Entah darimana asal usul dari budaya unjung-unjung ini. Dulu, ketika saya masih kecil, saya juga pernah beramai-ramai keliling kampung dari gang ke gang, dari pintu rumah ke pintu rumah, hanya sekedar menndapatkan uang unjung-unjung. Kalau dulu masing-masing rumah menyediakan uang Rp 25 perak/orang, kini angkanya sudah jauh di atas itu. Bisa jadi, pecahan Rp 2000 akan mewarnai budaya unjung-unjung. Waktu itu mendapatkan uang receh dari tetangga kanan kiri, senengnya setengah mati. Biasanya, uang itu kita belikan kembang api dan mercon. Jarang yang disimpan atau ditabung.

Lebaran kemarin ketika saya pulang kampung, lagi-lagi budaya itu masih ada. Rekan saya sudah menyediakan uang pecahan Rp 5000 buat masing-masing anak. Bahkan, ada juga pelajar SMP yang ikut-ikutan melakukan unjung-unjung. Melihat rekan saya membagi uang receh, wow… raut wajahnya seakan-akan plong. Apakah ini uang untuk membuang sial? Atau katagori zakat atau sedekah? Saya tidak begitu paham. Saya sendiri juga tidak tahu pasti, sejak kapan budaya itu lahir. Apakah terkait dengan budaya Islam atau tidak, sampai kini saya belum menemukan literaturnya.

Lalu berasal darimana budaya itu? Konon, kabarnya uang yang diberikan kepada bocah-bocah itu adalah bagian dari bagi-bagi rezeki atau sekedar gift setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Benarkah? lagi-lagi saya tidak tahu persis. Yang jelas pada hari itu antara yang memberi dengan yang diberi sama-sama bergembira.

Anak-anak pun merasa kegirangan. Selain baju baru, sepatu baru, uang di kantong dari hasil unjung-unjung juga masih gress. Tahun lalu, saya sengaja menukarkan uang kepada penjual jasa penukaran uang gress yang ada di terminal. Selisihnya (keuntungan sang penjual), sekitar Rp 10.000 per Rp 100.000. Membawa pulang uang gress ke kampung halaman, rasanya menyenangkan sekali. Walau begitu, saya belum pernah mendapati pemudik membawa uang gress sekarung hanya untuk memeriahkan budaya unjung-unjung alias bagi-bagi uang tanpa amplop. Walau zaman telah berubah, namun budaya unjung-unjung, saling berbagi kebahagiaan itu tak luntur ditelan zaman. Sampai kapan?

Share on Facebook Share on Twitter

tanggapan untuk “Berburu Uang Gress”

1. swiyadi,
— 9 September 2009 jam 9:13 am

Selama antara yang memberi dengan yang diberi sama-sama bergembira budaya ini tidak mungkin akan luntur. Ini juga wujud dari ungkapan bahwa “kegembiraan yang dibagi adalah kegembiraan yang berlipat”. Sampai kapan, mestinya ya sampai sikap manusia berobah…

Comments (1)

 

  1. Riany says:

    Bagi saya hal ini bentuk kita berbagi rezeki terutama dengan anak-anak kecil tetangga sekitar rumah, melihat mereka bergembira di hari raya tentu sangat membahagiakan.
    Lebaran kali ini, uang pecahan 2 ribuan menjadi primadona, karna untuk menukarnya pun sangat susah di mana BI pun membatasi penukarannya.

Leave a Reply