<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ACHMAD SUBECHI &#187; karyawan</title>
	<atom:link href="http://bechiblog.com/category/karyawan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bechiblog.com</link>
	<description>the soul and spirit of mankind</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Sep 2009 17:19:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cleansing of The Soul</title>
		<link>http://bechiblog.com/2008/08/31/cleansing-of-the-soul-2/</link>
		<comments>http://bechiblog.com/2008/08/31/cleansing-of-the-soul-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 05:27:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bechi</dc:creator>
				<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[
TAK ada gading yang tak retak. Begitu juga manusia. Sebaik-baiknya manusia, pasti ada setitik noda yang terselip di atas kertas putih. Sebaliknya, seburuk-buruknya manusia, ternyata masih ada titik putih yang mewarnai lembaran hitam.
Manusia serba terbatas, artinya penuh kekurangan, walau sudah diberi akal oleh Sang Khalik untuk menyempurnakan kekurangannya. Persoalannya, akal kadang selalu kalah dengan tarikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bechiblog.com/wp-content/uploads/2008/08/yinyang2.jpg"><img class="size-medium wp-image-433 alignright" title="yinyang2" src="http://bechiblog.com/wp-content/uploads/2008/08/yinyang2.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>TAK ada gading yang tak retak. Begitu juga manusia. Sebaik-baiknya manusia, pasti ada setitik noda yang terselip di atas kertas putih. Sebaliknya, seburuk-buruknya manusia, ternyata masih ada titik putih yang mewarnai lembaran hitam.</p>
<p>Manusia serba terbatas, artinya penuh kekurangan, walau sudah diberi akal oleh Sang Khalik untuk menyempurnakan kekurangannya. Persoalannya, akal kadang selalu kalah dengan tarikan hati. Di sisi lain, dalam realitas kehidupan, manusia selalu dituntut agar selalu sempurna. <span id="more-428"></span></p>
<p>Kata-kata &#8217;sempurna&#8217; itulah yang kemarin saya sampaikan di depan sejumlah mahasiswa Unmul, Kalimantan Timur, saat berpamitan kepada saya setelah sebulan lebih melakukan KKN di kantor kami.</p>
<p>&#8220;Kalau saya disuruh menilai kalian, saya katakan tidak ada yang sempurna. Coba lihat, tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang sempurna. Begitu juga pria&#8230; Sama dengan halnya ketika kita membangun rumah, bekerja dan lain-lain. Semuanya selalu saja tidak sempurna. Celakanya, sang majikan selalu menuntut yang sempurna.&#8221;</p>
<p>Begitu juga perilaku manusia. Tidak ada satu pun manusia yang sempurna (mampu) menjaga perilakunya. Jangankan menjaga, untuk mempertahankan perilakunya saja, mereka belum tentu bisa. Alam semesta juga begitu. Ada panas, ada hujan. Ada malam, ada siang dan lain sebagainya.</p>
<p>Esok&#8230; kita semua memasuki bulan Ramadhan. Bulan penuh rachmat ini, marilah kita jadikan ruang untuk cleansing of the soul. Dengan jiwa yang bersih, kita sambut langkah baru, menatap masa depan lebih baik lagi, terutama keselamatan dunia akhirat. Perjalanan masih panjang dan terlalu panjang&#8230;.. Mohon maaf lahir bathin buat semua teman-teman, sahabat-sahabat saya, musuh-musuh saya, pimpinan-pimpinan saya, guru-guru saya, orang tua saya, keluarga saya dan semua makhluk yang memiliki jiwa&#8230;. (achmad subechi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bechiblog.com/2008/08/31/cleansing-of-the-soul-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Bisnis dan Kebutuhan Spiritual</title>
		<link>http://bechiblog.com/2008/08/28/antara-bisnis-dan-kebutuhan-spiritual/</link>
		<comments>http://bechiblog.com/2008/08/28/antara-bisnis-dan-kebutuhan-spiritual/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 04:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bechi</dc:creator>
				<category><![CDATA[KONTEMPLASI]]></category>
		<category><![CDATA[achmad subechi]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[DERAJAT kesadaran manusia terhadap kebutuhan spiritual akan semakin meningkat, ketika mereka telah merasakan pahit getirnya kehidupan yang telah dijalaninya. Pengalaman-pengalaman empiris itulah yang akhirnya melahirkan kesadaran agar berbuat yang terbaik dan mampu memberikan makna buat diri sendiri, keluarga dan manusia lainnya.

JABATANNYA lumayan tinggi. Selain menjabat sebagai President Director Hotel Grand Tiga Mustika, Balikpapan, Drs Ec [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>DERAJAT kesadaran manusia terhadap kebutuhan spiritual akan semakin meningkat, ketika mereka telah merasakan pahit getirnya kehidupan yang telah dijalaninya. Pengalaman-pengalaman empiris itulah yang akhirnya melahirkan kesadaran agar berbuat yang terbaik dan mampu memberikan makna buat diri sendiri, keluarga dan manusia lainnya.<br />
</em><br />
JABATANNYA lumayan tinggi. Selain menjabat sebagai President Director Hotel Grand Tiga Mustika, Balikpapan, Drs Ec Sumpono Kangmartono MM adalah pemilik hotel yang cukup megah di Kota Minyak. Posisi puncak itu tak akan pernah ia raih, kalau saja Sumpono tak merasakan pahit getirnya dalam menjalani kehidupan. <span id="more-324"></span></p>
<p>Ketika usianya sembilan tahun, sang ibunda tercinta wafat. Sejak itu, ia harus berjuang menghidupi dirinya sendiri. Sumpono kecil tak segan-segan berjualan permen di gedung-gedung bioskop yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.</p>
<p>&#8220;Untuk bisa hidup saya terpaksa berjualan permen dari bioskop ke bioskop. Dan wakktu itu permen yang saya jual adalah barang dagangan milik kakak saya,&#8221; kenangnya. Ketika menginjak dewasa,, Sumpono berangkat ke Surabaya kuliah di Ubaya. Lulus kuliah, ia mendapat gelar sarjana dan menikah dengan kekasihnya yang sama-sama kuliah di Ubaya. Setelah menikah, ia membangun usaha baru berjualan alat-alat tulis kantor. Selanjutnya usahanya berkembang hingga ia diipercaya menjadi supplier.</p>
<p>Dari situ usaha berkembang, dan merangkak ke bisnis lainnya. &#8220;Saya bahkan waktu itu sempat jualan nomer buntut, dari nalo, SDSB sampai undian harapan. Saya pernah sukses di usaha itu, tapi harta juga habis atau bangkrut gara-gara itu,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Berangkat dari kegagalan itulah, Sumpono lalu merintis usaha kontraktor kecil-kecilan. Selanjutnya ia mendapat kepercayaan dari Maspion, untuk memasok asbes ke rumah-rumah transmigran. &#8220;Tapi, lagi-lagi saya bangkrut habis-habisan karena ditipu rekan bisnis saya. Puncak kebangkrutan saya ketika terjadi krismon tahun 1997. Semua harta benda saya habis karena disita bank,&#8221; ujarnya.<br />
***<br />
KINI ia menjadi bos besar di Balikpapan. Meski begitu, Sumpono tetap Sumpono, pria bersajaha yang selalu ramah menyapa tamu-tamunya. Agar bisnis hotelnya bisa berjalan dengan baik dan berkembang pesat, ia tak segan-segan meng-handle tamu-tamunya.</p>
<p>Denyut nadi kehidupan di hotelnya mulai dari perencanaan, promosi, melakukan inovasi hingga sampai menata menu restoran yang ada di hotelnya, ia lakukan bersama anggota keluarganya. Pekerjaan semacam ini sudah ia lakoni hampir dua tahun, agar hotel yang menelan investasi Rp 90 miliar itu cepat berkembang dan sukses seperti yang ia cita-citakan.</p>
<p>Gaya bicaranya yang lembut dan ramah memberikan suasana sejuk ketika berbicara dengan para tamu dari berbagai daerah dan belahan dunia. Pendekatan Sumpono terhadap para pelanggannya adalah bagian dari praktik atau upaya menjalankan kegiatan public relations (PR). Banyak tamu yang datang kembali ke hotelnya, lantaran merasa kerasan diperlakukan sebagai keluarga sendiri. &#8220;Tamu-tamu itu selalu datang kembali kesini, karena bisik-bisik&#8230;,&#8221; kata dia memberikan sedikit resep untuk menarik tamu agar kembali menginap di hotelnya.</p>
<p>Sebagai  pebisnis yang terus bergulat dengan urusan manusia dan uang, ternyata Sumpono punya predikat lain yang melampaui itu semua. Apa gerangan? Pria berdarah campuran Tionghoa itu, ternyata seorang pendeta agama Budha sekte Mahayana dan menduduki jabatan Ketua DPD Walubi, Kalimantan Selatan.</p>
<p>Di tanah kelahirannya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sumpono juga mempunyai yayasan sosial dan vihara bernama Duta Prabha. Jadi jangan kaget apabila kemudian Sumpono mengenakan jubah kependetaaan dan  memimpin upacara keagamaan, Budha. Yayasannya memiliki usaha pemakaman, krematorium dan rumah abu.</p>
<p>14-15 Agustus, dia berangkat ke Banjarmasin memimpin upacara kirim doa untuk para arwah leluhur. &#8220;Pas bulan ini, kami ada acara  kirim doa. Biasanya diikuti sekitar 200 sampai 300 umat. Mereka kirim doa diiringi pembacaan mantra sutra untuk mendoakan arwah leluhur agar bisa tenang di alam baka, atau menjelma kembali menjadi manusia yang lebih baik,” katanya.</p>
<p>Inilah pendekatan dari perpaduan keseimbangan antara bisnis dan rohani. Sebagai contoh, untuk merayakan ulang tahun hotelnya, wajib hukumnya mengundang anak-anak yatim piatu atau anak-anak panti asuhan. &#8220;Tahun lalu, kami undang 300 anak yatim piatu. Semua bisnis bisa kami laksanakan, tapi ada syaratnya. Sebagian harus harus kita sisihkan buat mereka yang membutuhkan,&#8221; katanya.</p>
<p>Menyambut Ramadhan, Sumpono merencanakan menggelar kegiatan tilawatil Quran bagi karyawannya yang beragama Islam. &#8220;Tilawatil ini sifatnya hanya internal buat karyawan kami. Tujuannya agar mereka termotivasi untuk beribadah,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Tanggal 13 September 2008 nanti, Hotel Grand Tiga Mustika akan merayakan hari jadinya yang ke-2. Ia sengaja tidak mengundang artis-artis besar dan ternama, tapi ia lebih memilih mengundang tamu agungnya yaitu anak-anak yatim piatu di Balikpapan. &#8220;Kami sedang menyiapkan acara untuk  anak yatim piatu,&#8221; katanya.</p>
<p>Dia juga berencana membuat kotak sumbangan khusus terbuat dari ukiran kayu khas Kaltim. Kotak itu akan ditaruh di hotel, bandara dan tempat-tempat strategis yang ramai dikunjungi orang. “Tujuannya untuk sosial. Jadi kalau ada banjir, musibah atau orang-orang membutuhkan bisa menggunakan dana itu,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Baginya bisnis dan kegiatan rohani harus berjalan berdampingan, termasuk dalam mengelola Grand Tiga Mustika. Di atas tanah sekitar 5.000 meter di depan Hotel Grand Senyiur, ia bangun hotel sembilan lantai dengan berbagai fasilitas. Lantai delapan ia kembangkan untuk arena hiburan karaoke, spa dan panti pijat keluarga. &#8220;Sekarang ini lagi pada tahap pembangunan. Semua hiburan bersifat untuk keluarga,&#8221; jelasnya. Di lantai delapan itu pula, Sumpono juga bertempat tinggal bersama istri dan anak-anaknya.</p>
<p>Lantai pertama hingga delapan boleh-boleh saja untuk semua aktivias bisnis, tetapi bagi Sumpono lantai sembilan merupakan area istimewa. Bangunan paling atas hotel itu, secara khusus dibangun sebuah rumah ibadah cetya Budha. Vihara itu berada di puncak hotel dan langsung beratap langit dengan view laut nan menawan di kawasan Teluk Balikpapan. &#8220;Ke depan, tamu-tamu dari Thailand atau negara lain bisa melakukan meditasi di tempat ini,&#8221; tuturnya. (ps/joi/bec)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bechiblog.com/2008/08/28/antara-bisnis-dan-kebutuhan-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan I</title>
		<link>http://bechiblog.com/2007/09/30/perubahan-i/</link>
		<comments>http://bechiblog.com/2007/09/30/perubahan-i/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2007 08:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bechi</dc:creator>
				<category><![CDATA[achmad subechi]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[PERUBAHAN I
MESKI hanya satu kata&#8230; ’perubahan’, tapi maknanya amat dalam dan luas. Ketika sebuah perubahan datang, manusia tak lagi bisa melakukan perlawanan apalagi berkompromi dengan apa yang dinamakan waktu. Waktu atau masa memberikan jawaban akan kemanakah diri kita? 
                 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14;"><span style="font-size:180%;">PERUBAHAN I</span><o:p></o:p></span></p>
<p style="text-align: left;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14;"><o:p></o:p></span><span style="font-size:100%;"><i style=""><span lang="SV">MESKI hanya satu kata&#8230; ’perubahan’, tapi maknanya amat dalam dan luas. Ketika sebuah perubahan datang, manusia tak lagi bisa melakukan perlawanan apalagi berkompromi dengan apa yang dinamakan waktu. Waktu atau masa memberikan jawaban akan kemanakah diri kita? <o:p></o:p></span></i></span></p>
<div style="text-align: left;">                    </div>
<p style="text-align: left;" class="MsoNormal"><span lang="SV"  style="font-size:100%;"><o:p></o:p>MUNGKINKAH kita masih ada di sini? Atau jangan-jangan sebaliknya sudah memiliki dunia atau mainan baru? Lalu kemana roda nasib ini akan terus bergerak? Benarkah posisi kita masih di angka 10.00 atau 11.00 (jarum jam)? Atau jangan-jangan kita sudah berada di angka 12.00, lalu meluncur ke bawah menuju ke wilayah non-produktif <span style=""> </span>(13.00)? Dari 13.00 kita diseret menuju ke angka 03.00 &#8211;lorong teramat menyedihkan yaitu kematian (06.00)?<br />Suatu hari sekitar tahun 1998, saya membicarakan makna atau hakekat perubahan dengan seorang rekan. Ketika itu saya sempat bertanya, ”Akankah Anda tetap bekerja di Jakarta? Sampai kapan?” Ia menjawab tidak tahu. Semua tergantung bos. Kalau bos menyuruh dipindah, maka saya akan pindah. Kalau bos tidak memberikan perintah untuk pergi dari Jakarta, ya&#8230;. saya akan diam. Itu artinya saya tetap ada di sini.&#8221;<br />”Lalu sampai kapan Anda bersikap seperti itu?” ”Saya benar-benar tidak tahu dan saya harus bagaimana lagi&#8230; Padahal anak istri saya tinggal di Surabaya.” Dari diskusi itu saya sedikit memberikan gambaran apa yang dinamakan perubahan. Dengan mengetahui arti dari perubahan, paling tidak kawan saya yang satu ini sudah mulai menyiapkan diri dan mengatur strategi bagaimana ia harus bersikap ketika perubahan tiba. ”Perubahan itu datang tidak diduga. Bisa jadi, besok, setahun dua tahun lagi Anda akan dipindah. Lalu apa yang harus Anda perbuat?” kata saya.<br />Tapi kawan itu rupanya tidak mudeng (tak paham) atas penjelasan saya. Ia belum memahami apa yang dinamakan perubahan. Perubahan tidak hanya menyangkut soal pindah tempat atau tidak. Justru yang harus dipikirkan apakah kita siap menerima perubahan itu?<br />Misalnya kalau dulu bekerjanya nyantai, sekarang harus lebih keras lagi. Kalau dulu tidak disiplin, maka ke depan dia harus lebih disiplin. Kalau dulu tidak jujur, maka ke depan keujuran akan menjadi taruhan utama. Itu masih berbicara perubahan dalam tataran sikap. Belum lagi menyangkut soal sistem dan lain-lain.<br />Tiga hari setelah ngobrol dengan saya, tiba-tiba datang kabar bahwa ia ditarik ke Surabaya. Ketika saya temui, kawan baik ini tertawa ngakak dan baru percaya kalau perubahan datang tanpa bisa diduga dan datangnya begitu cepat.<br />Ternyata setelah tiba di Surabaya, ia hanya mampu bertahan satu tahun. Setelah itu ia pindah kerja ke sebuah perusahaan lain setelah dibajak dengan iming-iming gaji besar, plus fasilitas mobil. Kini ia menjadi seorang manajer di perusahaan itu.<br />”Seandainya dulu saya tidak dipindah ke Surabaya, mungkin saya sampai saat ini tidak bisa menjadi manajer. Jadi karyawan melulu&#8230; Huaha.. ha.. ha&#8230;Mengapa? Dulu intelektual, loyalitas, integritas dan kerja keras saya seakan-akan tak ada nilainya.<br />Sekarang&#8230; orang lain terkaget-kaget menghargai saya,” kelakarnya.</span><span style="font-size:100%;">  </span><span lang="SV"  style="font-size:100%;">Itulah perubahan. Perubahan selalu membawa makna. Makna akan ditemukan setelah melalui sebuah proses yang cukup panjang. Apakah kita pernah menemukan makna itu selama ini? Anda sendiri yang paling tahu.<br />Sebaliknya ada juga karyawan yang karena tamak (serakah) ingin cepat kaya, ikut-ikutan latah pindah ke perusahaan lain. Celakanya lagi, mereka tidak menyadari seberapa hebat kompetensi yang mereka miliki. Modalnya hanya percaya diri dan hanya besar di mulut. Apa yang terjadi? Ketika perusahaan yang baru memberikan posisi strategis, ia tidak mampu menjawab tantangan itu. Maka lahirlah kekecewaan dari manajemen dan akhirnya ia kabur karena memang tak mampu mempertanggung jawabkan kepemimpinannya selama ini.<br /></span></p>
<div style="text-align: center;"><span lang="SV"  style="font-size:100%;">*** <o:p></o:p></span></div>
<div style="text-align: left;">                      </div>
<p style="text-align: left;" class="MsoNormal"><span lang="SV"  style="font-size:100%;">SUDAH siapkah kita menyambut datangnya perubahan? Fenomena saling bajak-membajak SDM yang memiliki kompetensi bukan barang lagi dan ada kecenderungan trendnya semakin meningkat.<br />Hanya mereka yang memiliki kekayaan intelektual, kompetensi, spririt, kecerdasan, dan inovatif (melahirkan ide-ide brilian) yang bakal laku. Sedangkan mereka yang pas-pasan atau setengah-setengah (mati tidak, hidup tidak) akan digilas oleh sang waktu yang congkak.<br />Pendek kata tenaga profesional amat dibutuhkan di era kekinian. Mereka yang merasa dirinya profesional, namun tak mendapatkan penghargaan dan secara kebetulan berada di lingkungan yang salah (penuh konflik dan intrik) lambat-laun akan meninggalkan arena yang dianggapnya tak menguntungkan buat masa depannya.<br />Bagi kalangan profesional, mengundurkan diri dirasa lebih baik daripada harus berlama-lama berada di perusahaan yang diangapnya bisa merubah atau mempengaruhi ethos kerjanya yang selama ini sudah baik. Karyawan yang baik dipastikan akan ketularan atau terjangkiti virus dari karyawan yang berwatak dan berethos kerja tidak baik.<br />Situasi seperti itu diperparah lagi dengan kepentingan pragmatis karena tuntutan ekonomi yang belum bisa mereka atasi. Fenomena side job (pekerjaan sampingan) bukan barang yang baru lagi bagi mereka-mereka yang merasa memiliki kekayaan intelektual, jaringan dan kompetensi.<br />Diprediksikan, tingkat pembajakan terhadap karyawan di level menengah bahkan atas<i style=""> </i>dengan berbagai macam iming-iming, bakal meningkat di tengah tuntutan yang serba instan &#8211;cepat dan langsung jadi.<br />Para pengusaha juga tidak mau repot-repot mencari SDM yang masih mentah apalagi belum memiliki kompetensi, sementara mereka ingin roda perusahaan segera bergerak cepat lalu menghasilkan keuntungan berlipat-lipat.<br />Tidak hanya di level karyawan saja yang harus pandai-pandai membaca akan datangnya sebuah perubahan. Perusahaan-perusahaan besar juga was-was dalam menghadapi persaingan yang kian tajam dan sempit. Keterkejutan, kegalauan, kebimbangan, ketakutan, ketidakpastian serta melemahnya rasa percaya diri akibat kegagalan dalam mengantisipasi datangnya sebuah perubahan, semakin membawa mereka (peruasahaan) terjebak dalam wilayah <i style="">situation panic. </i><span style=""> </span>Pada ahirnya mengiring mereka ke wilayah kontra produktif.<br />Persaingan global di dunia usaha yang semakin transparan dan tak lagi mengenal batasan-batasan &#8212;etika bisnis&#8212; akan menjadi tantangan terbaru bagi para CEO. Pemilik modal besar, tanpa sungkan-sungkan mengajukan penawaran pembelian terhadap sebuah perusahaan yang diangapnya stagnan atau salah urus. Saling caplok antar perusahaan tak lagi bisa dibendung. Bahkan, untuk mengalahkan kompetitor, mereka berani mengambilalih perusahaan yang selama ini menjadi lawannya.<br />Itulah gambaran dari perubahan yang sudah pasti bakal terjadi di banyak perusahaan. Perubahan yang mungkin akan terjadi pada diri kita, bukan karena semata terkait dengan trend kekinian, akan tetapi perubahan itu lahir akibat adanya daya yaitu kekuatan besar yang tidak terikat oleh apapun –pasar,<span style="">  </span>pesaing baru, penyebaran tekhnologi informasi, pertumbuhan jaringan komputer, perubahan hierarki di perusahaan, perampingan dan lain-lain.<br />Kenapa produk aqua, teh botol, jamu tradisional, mobil, sepeda motor, televisi dan alat-alat elektronik lainnya saja bentuknya berubah-rubah? Perubahan memang dibutuhkan, biar tidak monoton&#8230; Kita tidak bisa hanya berdiri dan berharap di satu titik, lalu titik itu tidak bergerak menuju ke titik terindah (kesuksesan) karena memang kita sendiri dari awal tidak ada niat untuk berani berubah. Selamat datang perubahan&#8230;.. </span><span style="font-size:14;"><span style="font-weight: bold;font-size:100%;" >(achmad subechi)</span><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14;"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14;"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14;"><o:p> </o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14;"><o:p> </o:p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bechiblog.com/2007/09/30/perubahan-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
