<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ACHMAD SUBECHI &#187; Lebaran</title>
	<atom:link href="http://bechiblog.com/category/lebaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bechiblog.com</link>
	<description>the soul and spirit of mankind</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Sep 2009 17:19:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Berburu Uang Gress</title>
		<link>http://bechiblog.com/2009/09/09/berburu-uang-gress/</link>
		<comments>http://bechiblog.com/2009/09/09/berburu-uang-gress/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 17:19:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bechi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/2009/09/09/berburu-uang-gress/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Achmad Subechi &#8211; 9 September 2009 &#8211; Dibaca 676 Kali -
LEBARAN sudah di depan mata. Selain sibuk merencanakan mudik, berburu uang pecahan Rp 2000 di kantor Bank Indonesia (BI) semakin marak. Apalagi uang pecahan Rp 2000 itu baru diluncurkan ke publik. Wow… tambah semangat. Rekan-rekan saya yang berencana mudik, sejak seminggu lalu sudah mengantongi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Achmad Subechi &#8211; 9 September 2009 &#8211; Dibaca 676 Kali -</p>
<p>LEBARAN sudah di depan mata. Selain sibuk merencanakan mudik, berburu uang pecahan Rp 2000 di kantor Bank Indonesia (BI) semakin marak. Apalagi uang pecahan Rp 2000 itu baru diluncurkan ke publik. Wow… tambah semangat. Rekan-rekan saya yang berencana mudik, sejak seminggu lalu sudah mengantongi uang receh, walau ia harus berlama-lama antre. “Uang ini nanti akan saya bagi-bagikan di kampung (Madura, Jawa Timur) pada saat lebaran,” kata seorang rekan saya.</p>
<p>Di Cirebon, para orangtua sempat cekcok mulut dengan aparat Bank Indonesia (BI) saat antre tukar uang pecahan Rp 2000. Biasanya, semakin mendekati hari H, Bank Indonesia di masing-masing daerah penuh sesak. Uang baru, harumnya pun beda. Lalu untuk apa uang itu? Rupanya, uang itu akan dibagi-bagikan kepada sanak famili, kerabat dekat, anak-anak yang datang ke rumah-rumah (budaya unjung-unjung).<br />
Entah darimana asal usul dari budaya unjung-unjung ini. Dulu, ketika saya masih kecil, saya juga pernah beramai-ramai keliling kampung dari gang ke gang, dari pintu rumah ke pintu rumah, hanya sekedar menndapatkan uang unjung-unjung. Kalau dulu masing-masing rumah menyediakan uang Rp 25 perak/orang, kini angkanya sudah jauh di atas itu. Bisa jadi, pecahan Rp 2000 akan mewarnai budaya unjung-unjung. Waktu itu mendapatkan uang receh dari tetangga kanan kiri, senengnya setengah mati. Biasanya, uang itu kita belikan kembang api dan mercon. Jarang yang disimpan atau ditabung.</p>
<p>Lebaran kemarin ketika saya pulang kampung, lagi-lagi budaya itu masih ada. Rekan saya sudah menyediakan uang pecahan Rp 5000 buat masing-masing anak. Bahkan, ada juga pelajar SMP yang ikut-ikutan melakukan unjung-unjung. Melihat rekan saya membagi uang receh, wow… raut wajahnya seakan-akan plong. Apakah ini uang untuk membuang sial? Atau katagori zakat atau sedekah? Saya tidak begitu paham. Saya sendiri juga tidak tahu pasti, sejak kapan budaya itu lahir. Apakah terkait dengan budaya Islam atau tidak, sampai kini saya belum menemukan literaturnya.</p>
<p>Lalu berasal darimana budaya itu? Konon, kabarnya uang yang diberikan kepada bocah-bocah itu adalah bagian dari bagi-bagi rezeki atau sekedar gift setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Benarkah? lagi-lagi saya tidak tahu persis. Yang jelas pada hari itu antara yang memberi dengan yang diberi sama-sama bergembira.</p>
<p>Anak-anak pun merasa kegirangan. Selain baju baru, sepatu baru, uang di kantong dari hasil unjung-unjung juga masih gress. Tahun lalu, saya sengaja menukarkan uang kepada penjual jasa penukaran uang gress yang ada di terminal. Selisihnya (keuntungan sang penjual), sekitar Rp 10.000 per Rp 100.000. Membawa pulang uang gress ke kampung halaman, rasanya menyenangkan sekali. Walau begitu, saya belum pernah mendapati pemudik membawa uang gress sekarung hanya untuk memeriahkan budaya unjung-unjung alias bagi-bagi uang tanpa amplop. Walau zaman telah berubah, namun budaya unjung-unjung, saling berbagi kebahagiaan itu tak luntur ditelan zaman. Sampai kapan?</p>
<p>Share on Facebook    Share on Twitter</p>
<p>tanggapan untuk “Berburu Uang Gress”</p>
<p>1. swiyadi,<br />
— 9 September 2009 jam 9:13 am</p>
<p>Selama antara yang memberi dengan yang diberi sama-sama bergembira budaya ini tidak mungkin akan luntur. Ini juga wujud dari ungkapan bahwa “kegembiraan yang dibagi adalah kegembiraan yang berlipat”. Sampai kapan, mestinya ya sampai sikap manusia berobah…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bechiblog.com/2009/09/09/berburu-uang-gress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pelacur…</title>
		<link>http://bechiblog.com/2009/09/09/771/</link>
		<comments>http://bechiblog.com/2009/09/09/771/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 17:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bechi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/2009/09/09/771/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Achmad Subechi &#8211; 9 September 2009 &#8211; Dibaca 3975 Kali -
PAGI tadi sehabis shalat Subuh, saya melihat tayangan cukup menyedihkan. Peristiwanya terjadi di Muara Angke, Jakarta. Satpol PP yang jumlahnya puluhan orang, memburu seorang wanita. Wanita muda itu akhirnya tertangkap, setelah berusaha melarikan diri menceburkan diri ke sungai, lalu bersembunyi di bawah kolong jembatan.
Tubuhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Achmad Subechi &#8211; 9 September 2009 &#8211; Dibaca 3975 Kali -</p>
<p>PAGI tadi sehabis shalat Subuh, saya melihat tayangan cukup menyedihkan. Peristiwanya terjadi di Muara Angke, Jakarta. Satpol PP yang jumlahnya puluhan orang, memburu seorang wanita. Wanita muda itu akhirnya tertangkap, setelah berusaha melarikan diri menceburkan diri ke sungai, lalu bersembunyi di bawah kolong jembatan.</p>
<p>Tubuhnya basah kuyup. Ia menggigil kedinginan. Selanjutnya wanita itu diangkut menggunakan truk entah kemana. Info yang saya dengar melalui televisi, wanita itu adalah pelacur. Ia terkena razia aparat. Dulu ketika saya masih tinggal di Surabaya, ada dua pelacur yang ditemukan tewas di sungai. Usut punya usut, keduanya meninggal karena nekat menceburkan diri ke sungai saat ada operasi serupa.</p>
<p>Saya memahami bagaimana getirnya perasaan sang pelacur itu saat dibawa petugas. Aturan main sudah ada. Hukum harus ditegakkan. Seakan-akan para wanita yang mendapat julukan penyakit masyarakat itu, tak peduli dengan apa yang dinamakan hukum. Ini persoalan perut. Perut yang harus diisi. Lebih-lebih menjelang lebaran. Mereka panik dan kemungkinan butuh biaya untuk membeli baju baru dan ongkos pulang kampung. Negara punya aturan main tersendiri. Semua kegiatan yang berbau maksiat selama bulan Ramadhan harus ditutup dan tidak boleh buka. Semua masyarakat harus mentaatinya….</p>
<p>Share on Facebook    Share on Twitter</p>
<p>40 tanggapan untuk “Sang Pelacur…”</p>
<p>1. Perkasaputra,<br />
— 9 September 2009 jam 7:22 am</p>
<p>Tapi mungkin lebih menyentuh kalau menyaksikan realita wanita-wanita pekerja bangunan yang juga masih bisa berpuasa tanpa perlu menjual diri.<br />
Banyak juga lho disekeliling kita ………..<br />
2. jabal,<br />
— 9 September 2009 jam 7:34 am</p>
<p>“bersatulah wahai pelacur-pelacur ibukota”….(alm..rendra)<br />
3. ironi,<br />
— 9 September 2009 jam 8:01 am</p>
<p>mana lebih baik? melakukan kegiatan agama atau menolong sesama? Yang lebih parah lagi melakukan kegiatan agama dan sekaligus mencelakakan orang lain? Mana ada perempuan yg suka rela jadi pelacur. Seharusnya sebagai negara yg menjunjung tinggi agama, negara menyediakan pekerjaan bagi para pelacur supaya kembali ke jalan yg benar bukannya main tangkap. Tangkaplah preman, bandit, koruptor, pemerkosa, perusuh, teroris, pencuri bukan pelacur. Pelacur itu dibina jangan dibinasakan.<br />
4. hery SLAME S,<br />
— 9 September 2009 jam 8:11 am</p>
<p>memang seharusnya segala penyakit masyarakat harus dibrantas sampai akar2nya. Namun harus ada perimbangan solusi, mau dikasih pekerjaan apa mereka agar bisa hidup. Tapi jangan2 dasar pelacurnnya aja yg malas, ingin gampang cari uang dan cari kenikmatan juga….. ah dasar..<br />
5. Ranu Telaga,<br />
— 9 September 2009 jam 8:44 am</p>
<p>Namanya maksiat itu ga boleh dilakukan kapan aja kalllleeeee, ga hanya pas ramadhan…. Emang kalo ga taat kenapa, emang situ sapa?<br />
6. zag,<br />
— 9 September 2009 jam 9:08 am</p>
<p>saya setuju hukum harus ditegakkan. namun yang juga harus dipikirkan adalah bagaimana supaya para pengemis, pencopet dan psk(istilah yang banyak digunakan sebagai pengganti kata pelacur) tidak kembali ke “profesi” nya yang lama, juga sesudah bulan Ramadhan. sebenarnya ini tugas negara/pemerintah pusat dan daerah. namun apabila ada diantara kita yang mempunyai ide yang kreatip, ada baiknya kalau dituliskan di kompasiana. siapa tahu pemerintah daerah/pusat akan mengadopsinya.<br />
7. bineka,<br />
— 9 September 2009 jam 9:16 am</p>
<p>Memang susah bro, negara yang isinya kebanyakan orang munafik (STMJ sholat terus maksiat juga), karena hukum kita ini terlalu berbelit belit, adopsi saja hukum terbalik, semua pejabat harus bisa membuktikan kekayaannya dari mana asalnya kalau tidak bisa harus mengembalikan dan masuk penjara. Kita lihat banyak PNS gaji 5 juta tapi gaya hidup sana dengan orang gaji 50 juta. Mereka juga pintar mengelabui KPK , dengan money laundry misal buka mini market yang kagak pernah untung tapi dilaporkan untung 45 jt per bulan jadi kalau diperiksa KPK loloslah. Dan banyak lagi bro merteka lebih pintar caranya soalnya kan mereka praktek langsung kita kan cuma teori.<br />
Maka jangan heran 200 orang Indonesia nonton F1 di singapore dengan biaya 3,6 juta sing $ dengan santainya sementara banyak rakyat papua yang mati kelaparan. Dimana hati nurani para koruptor, mungkin iblis sendiri ngeri lihat koruptor ternyata mereka lebih jahat dari iblis<br />
8. Mustafa Sabaroedin,<br />
— 9 September 2009 jam 9:27 am</p>
<p>Selama belum ada koruptor dihukum mati, tidak akan hilang korupsi dari bumi NKRI. Mengapa hukuman mati itu tidak dijalankan? Jawabnya sederhana sekali, lebih banyak pelaku korupsi daripada yg tidak.<br />
9. bineka,<br />
— 9 September 2009 jam 9:28 am</p>
<p>Gue ralat 3,4 juta Sing $ atau = Rp 3,4 milyard paket nonton 3 hari bersama Versace ada kompas otomotif<br />
10. Bahlul,<br />
— 9 September 2009 jam 9:41 am</p>
<p>Survival of the fittest…Good luck!<br />
11. nourin,<br />
— 9 September 2009 jam 9:44 am</p>
<p>Kadang perempuan memang masih aja dapat stereotip yg negatif. Padahal kalo mau biacara soal melarang semua kegiatan maksiat selama ramadhan, gak usah lah memojokkan kaum perempuan. Sang pelacur ada juga karena ada yang menikmati profesi-nya toh??<br />
12. Vicky Laurentina,<br />
— 9 September 2009 jam 9:53 am</p>
<p>Pak Bechi, kalau perempuan itu tidak melacur kan tidak perlu dikejar-kejar Satpol, tidak perlu sampai menyebur ke sungai segala. Maaf ya, tapi alasan perut itu klise. Kan bisa cari pekerjaan lain. Pelacur pintar dandan, jadilah tukang make-up di salon atau minimal tukang cuci rambut. Pelacur pintar menghibur, kan bisa jadi penyanyi organ tunggal. Cari kerja mbok yang halal tho..<br />
13. Uripbejo,<br />
— 9 September 2009 jam 10:07 am</p>
<p>Jualan daging yang itu jelas bertentangan dengan agama lalu mengemis juga haram? Siapa yang punya solusi?<br />
14. Sunu Gunarto,<br />
— 9 September 2009 jam 10:08 am</p>
<p>Kata orang sejarah pelacuran sudah ada sejak jaman bahelula. Dan akan tetap ada sampai entah kapan (?). Namun di negeri ini yang selalu menjadi korban koq kaum wanita. Sangat memprihatinkan memang. Semoga ada solusi cerdas dan bijak untuk mengatasi ini. Kaum wanita tidak menjadi korban melulu………..<br />
15. yunika,<br />
— 9 September 2009 jam 10:13 am</p>
<p>serba salah…ada orng yg mau dpt duit secara cepat dgn korupsi,menjadi pengemis atau mungkin melacur. smntara banyak orang yg susah mau cari pembantu ataupun baby sitter. knp? krn semua orng mau dpt duit secara cepat dan banyak!!!!!</p>
<p>anyway tindakan satpol PP juga ga sepenuhnya dibenarkan. kalo mau memberantas pelacur, ya jgn hnya bulan Ramadhan donk… yg namanya haram, bukan hanya di bulan tertentu saja loh.<br />
16. nurkhalis,<br />
— 9 September 2009 jam 10:33 am</p>
<p>“bersatulah wahai pelacur-pelacur ibukota” rendra<br />
17. wijaya kusumah,<br />
— 9 September 2009 jam 10:34 am</p>
<p>Cukup Prihatin mas, melihat kejadian ini<br />
18. Ribu,<br />
— 9 September 2009 jam 10:49 am</p>
<p>Kenapa peraturan hanya ditegakkan hanya di bulan ramadhan harusnya setiap hari dong. Kalau memang itu dosa masak ada waktu-waktunya. Kalau dosa kapanpun itu dosa. Banyak orang munafik yang hanya berpandangan sempit. Kalau ngak ada laki-laki hidung belang otomatis pelacuran akan mati dengan sendirinya, jadi apa hukuman satpol PP untuk para laki-laki hidung belang. Jangan-jangan satpol PP langganan juga. Wallahualam…..<br />
19. joenme,<br />
— 9 September 2009 jam 10:50 am</p>
<p>akibat Pola pikir pragmatis… orang telah merubah dan banyak ulah, ingin cepat banyak uang tanpa kerja keras, tanpa susah dulu.<br />
beberapa penyakit masyarakat kita, diantaranya…, ke inginan banyak, kemampuan terbatas, ingin cepat berhasil tanpa usaha, orang kaya di puja &#8211; puja, orang ber ilmu ditinggalkan. akhirnya.. didunia sengsara… di akhirat disiksa….. karena tidak ada ke ikhlasan dalam dirinya, ketika miskin susah untuk ikhlas, ketika kaya pongah dan sombong.<br />
ketika di uji dengan kemiskinan, mereka tidak siap untuk miskin.<br />
kebodohan dan kemiskinan.. bukan sebuah alasan, untuk kita berbuat yang tidak baik.<br />
satpol PP juga orang susah, mengejar ngejar si miskin pelacur yang juga susah.<br />
sesama orang susah, jangan galak galak… hehehe<br />
20. erik,<br />
— 9 September 2009 jam 11:08 am</p>
<p>Beh..beh…<br />
Gila juga yah…<br />
argumen :</p>
<p>“Negara punya aturan main tersendiri. Semua kegiatan yang berbau maksiat selama bulan Ramadhan harus ditutup dan tidak boleh buka. Semua masyarakat harus mentaatinya….”</p>
<p>Seperti penulis bilang, ini masalah perut…..<br />
Apa yang sudah diperbuat pemerintah/negara/ulama untuk mengurus perut2 mereka ini sehingga mereka bisa membedakan ramadhan dan bulan yang lainnya (agar mereka tidak beroperasi) ? Bahkan ketika Ramadhan harga2 cenderung melonjak lebih tinggi dan kebutuhan bertambah… IRONIS SEKALI…<br />
21. Meranti,<br />
— 9 September 2009 jam 12:08 pm</p>
<p>Masalahnya Satpol PP gak pernah berani menangkap pelacuran tingkat tinggi, yang beroperasi di hotel-hotel mewah…..Cobalah kalau menertibkan yang manusiawi sedikit. Mengapa orang sampe mau jadi pelacur ? mungkin benar-benar lapar dan pikiran buntu untuk nyari kerja yang halal, sedangkan keperluan perut sangat mendesak. mungkin menjadi pelacur semata-mata untuk bisa makan, bukan untuk kemewahan. Disini pemerintah dan orang-orang mampu berdosa, mereka korupsi dan berfoya-foya dengan kekayaannya. Coba kalau punya hati nurani uang korupsi dan uang orang kaya itu disumbangkan, dijadikan modal buat orang-orang miskin, biar bisa usaha yang halal.<br />
22. dewiyudi,<br />
— 9 September 2009 jam 12:22 pm</p>
<p>Andaikata kalo ditangkap terus ada diberdayakan dg pekerjaan halal sih tdk apa2..<br />
memang org Indonesia pinginnya kerja ringan dpt duit banyak dg cepat..akhirnya…<br />
kita tiap hari melihat org masih sehat banyak yg jadi pengemis,PSK..<br />
padahal spt yg mbak Yunita tulis..kita cari pembantu dan baby sitter susahnya minta ampun…<br />
padahal ini pekerjaan yg halal…<br />
Pemerintah memikirkan ini gak ya….<br />
23. Elysius Cerdas,<br />
— 9 September 2009 jam 12:37 pm</p>
<p>Bangsa ini munafik. Hanya satu bulan suci, yaitu bulan ramadhan. Ada razia segala macam kemakhsiatan, termasuk pelacur. Banyak pejabat yang koruptor, juga termasuk aparat Satpol PP yang bertugas merazia. Itu kasus bank Century, dana publik yang digelontorkan ke sana sebesar Rp. 6, 7 triiun. Pelacur yang hanya cari makan ditangkap. Tangkaplah para perampok bank Century, Gubernur Bank Indonesia yang tidak tegas dalam mengawas, Menteri keuangan yang hanya bertndak sesuai prosedur tanpa memikirkan tentang rasa keadilan masyarakat, tangkap Presiden SBY yang paling bertanggung jawab atas semuanya itu.<br />
24. ichwan kalimasada,<br />
— 9 September 2009 jam 12:52 pm</p>
<p>dampak prostitusi politik, Hmmmmmmmmmmmmmm…..<br />
25. Lailatul Qodriyah,<br />
— 9 September 2009 jam 12:55 pm</p>
<p>Sangat menyedihkan, kadang orang bilang cari uang halal itu susssah, tapi ternyata yang harampun juga susssah. Hal ini terjadi bukan hanya untuk urusan perut tapi banyak hal yang mempengaruhi seperti tuntutan mode, gaya hidup dan bermacam-macam keinginan, jadi tidak hanya kebutuhan hidup yang dicari tapi kepuasan hidup yang ingin dicapai…<br />
26. yani HS,<br />
— 9 September 2009 jam 1:03 pm</p>
<p>Jadi,…..siapa yang salah ?<br />
27. ojodumeh,<br />
— 9 September 2009 jam 1:53 pm</p>
<p>Sebenarnya kita hanya bisa bilang prihatin, karena pada kenyataannya setiap masalah yang timbul dinegeri ini belum pernah ada penyelesaiannya yang tuntas dan jelas. Pelacuran dari dulu tidak selesai, karena antara pemerintah belum satu jalan dalam pemikiran. coba dikasih solusi. kalau boleh saya kasih solusi yang agak ekstrim tapi agak sedikit memberikan jalan.<br />
Terlepas dari hukum agama manapun dengan tidak mengurangi rasa hormat pada perempuan, tapi mohon maaf nya kang.<br />
Kita ini banyak pulau yang belum tergarap dan belum termanfaatkan. Buat saja pulau yang belum termanfaatkan itu seperti lasvegasnya US sana bahkan kalau mungkin lebih wah dari sana itu tuh, dipulau itu segala permaksiatan ada disana, pajak tinggikan hasilnya dipakai pembangunan inprastruktur yang kedodoran saat ini. kalau ada PSK yang masih berkeliaran diluar pulau kemaksiatan maka dikenakan sangsi yang tegas &amp; jelas serta dilemparkan ke pulau kemaksiatan tersebut biar mudah dikontrolnya dari segala resiko &amp; penyakit biar tidak menulari ke yang baek-baek kaleeeeeeeee yeeeeeeeeeee.<br />
Apakah itu solusi ektrim atau bukan, saya serahkan kepada semuanya………………..<br />
28. 2pac shakur,<br />
— 9 September 2009 jam 2:15 pm</p>
<p>Dalam sbuah hadis, Rasulullah pernah bercerita kpd para sahabatnya. Suatu hari ada seorang perempuan nakal (psk) yg sedang kehausan mendekati sbuah sumur, trnyata disamping sumur itu trdapat anjing yg kehausan jg, seketika itu sang pelacur memberikan air dari dlm sumur sehingga sang anjing pun segar kembali,</p>
<p>Melihat kelakuan pelacur kpd anjing tadi akhirnya Allah swt menyuruh malaikat tuk mengampuni dosanya.</p>
<p>Sayangnya masyarakat kita lebih membenci kpd org yg melacurkan dirinya tnpa merugikan org lain dripada -PARA Pelacur agama, pelacur negara, pelacur politik dll yg jelas merugikan kita smua.,<br />
29. bineka,<br />
— 9 September 2009 jam 3:19 pm</p>
<p>saya pikir, orang melacur kan ada demand nya, la demand nya orang hidung belang, dan jangan dianggap ringan karena ini sudah hobi mereka, kalau tidak ada pelacur mereka akan nyari , maslahnya kalau sudah ngebet mereka lalu ngawur saja alias memperkosa kan kita juga yng repot.<br />
ya salah satunya ya lokalisasi tadi, soalnya mereka itu kalau sudah napsu ya sudah tidak mikir dosa lagi. Kecuali kita kalau pakai hukum Islam, boleh poligami dan zina di rajam. terlalu panjang kalau debat disini. Soalnya gue waktu penataran P4 tahun 1990 topiknya masalah pelacur. Sya pikir ya justru koruoptor itu yang bikin kita jadi sensara kayak gini dan ini sudah mebudaya dari lurah sampai president<br />
30. nano,<br />
— 9 September 2009 jam 3:26 pm</p>
<p>hidup adalah pilihan.. dan setiap pilihan ada resikonya… mau jadi apa diri kita ya adalah pilihan kita.. jangan menyalahkan keadaan…<br />
31. Harris,<br />
— 9 September 2009 jam 4:19 pm</p>
<p>Bung AS, Kita maklum, Setiap bulan Puasa, ada anggaran untuk memberantas kemaksiatan, sedang di bulan-bulan lain anggaran tersebut tidak disediakan. Jadi operasi tersebut ada karena memang sudah direncanakan. Sayang tho, kalau anggaran tersebut akan hangus begitu saja bila tidak dilaksanakan?. karenanya operasi itu tidak akan menyelesaikan akar masalah karena 11 bulan lainnya kembali dibiarkan berlangsung. Pertanyaannya kemudian apakah tidak ada jalan keluar untuk mengatasinya? Seandainya Korupsi tidak ada; Seandainya Lapangan kerja banyak; Seandainya pendidikan berhasil; Seandainya Departemen2 yang berkaitan bekerja dengan baik, maka penyakit masyarakat tersebut akan jauh berkurang. Menghilangkan sama sekali tidak mungkin karena itu menjadi bagian dari keragaman hidup.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Harris<br />
32. teguh,<br />
— 9 September 2009 jam 4:25 pm</p>
<p>resiko! titik<br />
33. Budi Bahasoan,<br />
— 9 September 2009 jam 4:31 pm</p>
<p>Salah, karena namanya: PELACUR!<br />
Coba kalau namanya: KORUPTOR.., maka sudah pasti tidak akan kena razia dan sekalipun ditangkap…maka tinggalnya boleh di rumah..sendiri..<br />
34. sanjaya,<br />
— 9 September 2009 jam 4:41 pm</p>
<p>pelacur ada karena ada peminatnya!!harusnya yg dioperasi orang-orang<br />
yg dateng ke tempat pelacuran tsb yg notabene berduit…<br />
kalo peminat udah nggak ada otomatis pelacuran berhenti sendiri..<br />
ato bisa dipakai sendiri he…he..hee<br />
35. ari,<br />
— 9 September 2009 jam 4:59 pm</p>
<p>pelacur juga manusia, aparat juga manusia, negara dibuat oleh manusia, aturannya ditegakkan oleh manusia, manusia butuh makan, manusia akhirnya bertahan, terkadang …..harus memakan manusia lainnya….<br />
36. arasydimas,<br />
— 9 September 2009 jam 6:11 pm</p>
<p>ngabuburit dgn sang pelacur, hua…hua..he.he..<br />
37. syafruddin djalal,<br />
— 9 September 2009 jam 9:17 pm</p>
<p>kata “pelacur” sejatinya bukan hanya dielekatkan pd wanita menjual diri. Masih bnyk pelacur lain yg menjual kepercayaan masyarakat, dan mereka yg perlu diuber<br />
38. bianca,<br />
— 9 September 2009 jam 9:38 pm</p>
<p>Operasi seperti itu baik. Dan kalau bisa di luar bulan puasa juga dilakukan. Aparat manusia juga kok, bukan robot. Kadang sedikit over dalam aktivitasnya dapat dimaklumi.</p>
<p>Pelacuran itu penyakit masyarakat. Harus dibasmi kalau masyarakat tidak mau terjangkit wabah yang lebih besar lagi. Pelacuran adalah kanker sosial. Apakah Anda mau jadi pahlawan gadungan dengan membela jiwa-jiwa yang sakit. Padahal ada pilihan bagi mereka menjalani hidup yang sehat. Masih ada pekerjaan tanpa menjual dan menginjak2 kehormatan diri sendiri.</p>
<p>“Tidak ada yang sukarela jadi pelacur”. Itu ungkapan klise.<br />
Saya yakin kalau para pelacur itu ditawari kerja di pabrik dengan gaji UMR mereka akan menolak mentah-mentah.<br />
39. Liabonzafi,<br />
— 9 September 2009 jam 10:06 pm</p>
<p>Melacur=zina</p>
<p>apa bedanya sepasang kekasih belum menikah yang berbuat mesum???<br />
Hati hati Para komentator!!! Jaga bicara, bentengi diri!<br />
40. tukul rewangsa,<br />
— 9 September 2009 jam 10:24 pm</p>
<p>Sebagai sisi gelap kehidupan yang melekat abadi dengan budaya manusia, tak ada cara lain kecuali dengan merelokasinya. Kalau mau jadi pelacur atau terpaksa menjadi pelacur, menetaplah di lokalisasi yang telah ada, jangan bertebaran dimana-mana. Memang ada yang berdalih terpaksa jadi pelacur tapi banyak juga yang memang memilih hidup jadi pelacur. Anda mau coba uji? Saya pernah membantu seorang pelacur dengan memberi modal berwarung, tapi memang tak bisa! Ia tak betah! Warung itu malah jadi pelacuran! Repot, kan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bechiblog.com/2009/09/09/771/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mensyukuri Nikmat</title>
		<link>http://bechiblog.com/2007/10/03/mensyukuri-nikmat/</link>
		<comments>http://bechiblog.com/2007/10/03/mensyukuri-nikmat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 14:42:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bechi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buyung]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[pengemis]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[
MENSYUKURI NIKMAT
LEBARAN sudah di ujung mata. Semalaman istriku menghitung-hitung uang yang harus dialokasikan untuk membeli pakaian, celana, sepatu dan lain-lain buat anak-anak. Lembar demi lembar uang pecahan Rp 50.000 ia amati satu-persatu, sambil menghitung dalam hati. 
Sejak sore hari tiga anakku sudah terlihat rapi. Mereka bersiap-siap berangkat ke Ramayana, Pasar Kebayoran Lama, Jakarta. Semula aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_6F05BcxMEas/RwOvHz45MFI/AAAAAAAAAB8/cb__74TS9Nk/s1600-h/allahinarabic.gif"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_6F05BcxMEas/RwOvHz45MFI/AAAAAAAAAB8/cb__74TS9Nk/s200/allahinarabic.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117126150345797714" border="0" /></a>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:180%;">MENSYUKURI NIKMAT</span></p>
<p class="MsoNormal"><o:p></o:p><span style="font-style: italic;">LEBARAN sudah di ujung mata. Semalaman istriku menghitung-hitung uang yang harus dialokasikan untuk membeli pakaian, celana, sepatu dan lain-lain buat anak-anak. Lembar demi lembar uang pecahan Rp 50.000 ia amati satu-persatu, sambil menghitung dalam hati.</span> </p>
<p class="MsoNormal">Sejak sore hari tiga anakku sudah terlihat rapi. Mereka bersiap-siap berangkat ke Ramayana, Pasar Kebayoran Lama, Jakarta. Semula aku agak ogah ketika diajak mereka untuk menemani.</p>
<p class="MsoNormal">Mengapa? Saya terlalu cengeng. Saya tak bisa menahan tangis ketika mengamati perilaku manusia di pusat perbelanjaan menjelang Lebaran. Atas desakan anak-anakku, kami akhirnya berangkat. “Silakan pilih kaos yang kalian suka?” kata istriku kepada dua anakku yang masih duduk di bangku SMP. Keduanya terlihat sibuk memilah-milah baju yang bertengger di atas rak pakaian. “Masak hitam lagi? <st1:place st="on"><st1:state st="on">Kan</st1:state></st1:place> kamu sudah punya di rumah..” tegur Rizal kepada Buyung, kakaknya. <span style="" lang="FR">“Ah… enggapa-apa Zal… Warna hitam sekarang lagi ngetrend… Keren…” jawab Buyung sambil tertawa-tawa. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="" lang="FR">Hampir setengah jam aku menemani mereka. Tak satu kaos pun berhasil mereka pilih. </span><st1:city st="on"><st1:place st="on">Ada</st1:place></st1:city> kaos bergambar bagus, warnanya juga okey&#8230; tapi sayangnya ukurannya kecil. Kami kemudian berputar-putar lagi. Semua etalase pakaian kami datangi. Akhirnya, Buyung dan Rizal menemukan kaos yang ia impikannya. </p>
<p class="MsoNormal">Kini giliran anakku paling bungsu yang belum dapat jatah. Namanya Aina. Ia masih duduk di TK B. Emaknya anak-anak terlihat sibuk memilihkan baju yang warnanya disukai Aina. Aina tersenyum kegirangan mendapatkan hadiah dari emaknya. </p>
<p class="MsoNormal">Selaniutnya kami berjalan menuju ke tempat penjualan celana jean. “Sudah <st1:city st="on"><st1:place st="on">sana</st1:place></st1:city> pilih celana sesuka kalian,” tutur istriku. Tapi Rizal dan Buyung tahu diri. “Ia ogah membeli. Celana itu hanya dipegang-pegang.. Kenapa tidak tertarik? “Enggak ah… di rumah <st1:state st="on"><st1:place st="on">kan</st1:place></st1:state> masih ada.” </p>
<p class="MsoNormal">“Ambil saja… Papa bawa duit kok.” “Engah ah… Ayo kita ke tempat makanan saja sambil menunggu buka,” sahut Rizal. Kami akhirnya berangkat duluan, sementara Aina masih muter-muter sama emaknya. Sesampainya di lantai tiga, anak-anak sempat melihat sepatu dan sandal yang dipajang di rak. Mereka akhirnya milih satu persatu.</p>
<p class="MsoNormal">Puas berbelanja, kami nongkrong di stand penjualan makanan. Usai buka, anak-anak kutinggal turun ke bawah. Di tangga menuju Ramaya, saya nongkrong sendirian. Saya amati lalu-lalangnya manusia. Di sebelah kanan saya, ada dua pria usianya masih 20 tahunan sedang duduk-duduk. Keduanya sibuk memilin-milin tangan, entah apa maksudnya.</p>
<p class="MsoNormal">Sementara di depannya ada seorang wanita bersama anak perempuannya. Usianya anaknya kira-kira dua tahun. Wanita itu terlihat serius menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ruoanya, ia sedang berbuka puasa dengan bekal nasi bungkus yang ia bawa dari rumah. Ehmmm… nikmat sekali rasanya. Sesekali sang anak disuapinya. </p>
<p class="MsoNormal">Di depan wanita itu, ada tiga bocah. Usianya sama dengan anak-anak saya. Tangannya menenteng tas kresek. Setiap kali ada orang lewat ia menawarkan barang dagangannya. Tak satupun pengunjung Ramayana mau membeli. Di sampamping mereka ada dua pengemis wanita. Usianya sudah lanjut. Sambil menengadahkan tangan, keduanya hilir mudik diantara kesibukan manusia lain. Tak satu pun pengunjung bersedia memberikan uang recehnya. </p>
<p class="MsoNormal">Saat saya melamunkan nasib ketiga bocah penjual tas kresek itu, tiba-tiba anakku bernama Buyung duduk di sebelahku. “<st1:place st="on"><st1:city st="on">Ngapain</st1:city> <st1:state st="on">Pa</st1:state></st1:place>? Ehmm… kasihan ya anak-anak itu.” Saya terdiam tak menjawab. Beberapa saat kemudian saya angkat bicara juga. “Apa maknanya setelah kamu melihat pengemis dan bocah-bocah itu?” “Kagak tahu Pa..?”</p>
<p class="MsoNormal">Masak kagak tahu? “Dengan melihat mereka, mestinya kamu harus lebih bersyukur dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kamu. Kenapa? Seandainya ayahmu kagak bekerja, mungkin nasib kamu dan adik-adikmu sama dengan mereka. Mungkin kamu juga kagak menginjak gedung ini karena tidak memiliki uang untuk membeli barang. Seharusnya anak-anak itu jam segini sudah harus belajar di rumah. Tapi karena orang tuanya tidak mampu dan tuntutan atau desakan ekonomi kian menghimpit, maka mereka jadi seperti ini,” kataku. </p>
<p class="MsoNormal">Anakku terdiam. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Mungkin, Buyung sedang berpikir apa makna atau pesan yang disampaikan ayahnya. Kulihat, air matanya mulai menetes. Lalu ia bangkit berdiri dan mengajak saya segera pergi meninggalkan keramaian…. </p>
<p class="MsoNormal">Sambil berjalan kaki, kulihat seorang wanita setengah baya baru turun dari angkot. Dua anaknya yang masih duduk di bangku SD, diajaknya menyusuri stand-stand pakaian yang ada di kaki <st1:city st="on"><st1:place st="on">lima</st1:place></st1:city>. Setelah melihat-lihat pakaian dan mencocokannya dengan tubuh sang anak, wanita itu membuka dompet kecilnya.</p>
<p class="MsoNormal">Ia hitung uangnya lembar demi lembar. Astaga… ternyata tidak cukup. Entah apa pekerjaan suami wanita itu. Ingin rasanya saya menghampiri wanita itu lalu membantunya membelikan pakaian yang diinginkan anaknya. Tapi saya takut&#8230; takut wanita itu merasa terhina.  Kini Lebaran sudah di depan mata dan sang ibu ‘wajib’ membelikan pakaian baru, celana baru, sepatu baru buat sang anak dengan segala keterbatasannya. Semoga Tuhan memberikan rezeki berlimpah kepada mereka agar ikut bergembira di hari yang fitri mendatang… Selamat Lebaran, minal aidhin wal faidhin, mohon maaf lahir bathin…. (achmad subechi)</p>
<p class="MsoNormal"><o:p> </o:p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bechiblog.com/2007/10/03/mensyukuri-nikmat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
