<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ACHMAD SUBECHI &#187; pengemis</title>
	<atom:link href="http://bechiblog.com/category/pengemis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bechiblog.com</link>
	<description>the soul and spirit of mankind</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Sep 2009 17:19:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mensyukuri Nikmat</title>
		<link>http://bechiblog.com/2007/10/03/mensyukuri-nikmat/</link>
		<comments>http://bechiblog.com/2007/10/03/mensyukuri-nikmat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 14:42:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bechi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buyung]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[pengemis]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bechiblog.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[
MENSYUKURI NIKMAT
LEBARAN sudah di ujung mata. Semalaman istriku menghitung-hitung uang yang harus dialokasikan untuk membeli pakaian, celana, sepatu dan lain-lain buat anak-anak. Lembar demi lembar uang pecahan Rp 50.000 ia amati satu-persatu, sambil menghitung dalam hati. 
Sejak sore hari tiga anakku sudah terlihat rapi. Mereka bersiap-siap berangkat ke Ramayana, Pasar Kebayoran Lama, Jakarta. Semula aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_6F05BcxMEas/RwOvHz45MFI/AAAAAAAAAB8/cb__74TS9Nk/s1600-h/allahinarabic.gif"><img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_6F05BcxMEas/RwOvHz45MFI/AAAAAAAAAB8/cb__74TS9Nk/s200/allahinarabic.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117126150345797714" border="0" /></a>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:180%;">MENSYUKURI NIKMAT</span></p>
<p class="MsoNormal"><o:p></o:p><span style="font-style: italic;">LEBARAN sudah di ujung mata. Semalaman istriku menghitung-hitung uang yang harus dialokasikan untuk membeli pakaian, celana, sepatu dan lain-lain buat anak-anak. Lembar demi lembar uang pecahan Rp 50.000 ia amati satu-persatu, sambil menghitung dalam hati.</span> </p>
<p class="MsoNormal">Sejak sore hari tiga anakku sudah terlihat rapi. Mereka bersiap-siap berangkat ke Ramayana, Pasar Kebayoran Lama, Jakarta. Semula aku agak ogah ketika diajak mereka untuk menemani.</p>
<p class="MsoNormal">Mengapa? Saya terlalu cengeng. Saya tak bisa menahan tangis ketika mengamati perilaku manusia di pusat perbelanjaan menjelang Lebaran. Atas desakan anak-anakku, kami akhirnya berangkat. “Silakan pilih kaos yang kalian suka?” kata istriku kepada dua anakku yang masih duduk di bangku SMP. Keduanya terlihat sibuk memilah-milah baju yang bertengger di atas rak pakaian. “Masak hitam lagi? <st1:place st="on"><st1:state st="on">Kan</st1:state></st1:place> kamu sudah punya di rumah..” tegur Rizal kepada Buyung, kakaknya. <span style="" lang="FR">“Ah… enggapa-apa Zal… Warna hitam sekarang lagi ngetrend… Keren…” jawab Buyung sambil tertawa-tawa. <o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="" lang="FR">Hampir setengah jam aku menemani mereka. Tak satu kaos pun berhasil mereka pilih. </span><st1:city st="on"><st1:place st="on">Ada</st1:place></st1:city> kaos bergambar bagus, warnanya juga okey&#8230; tapi sayangnya ukurannya kecil. Kami kemudian berputar-putar lagi. Semua etalase pakaian kami datangi. Akhirnya, Buyung dan Rizal menemukan kaos yang ia impikannya. </p>
<p class="MsoNormal">Kini giliran anakku paling bungsu yang belum dapat jatah. Namanya Aina. Ia masih duduk di TK B. Emaknya anak-anak terlihat sibuk memilihkan baju yang warnanya disukai Aina. Aina tersenyum kegirangan mendapatkan hadiah dari emaknya. </p>
<p class="MsoNormal">Selaniutnya kami berjalan menuju ke tempat penjualan celana jean. “Sudah <st1:city st="on"><st1:place st="on">sana</st1:place></st1:city> pilih celana sesuka kalian,” tutur istriku. Tapi Rizal dan Buyung tahu diri. “Ia ogah membeli. Celana itu hanya dipegang-pegang.. Kenapa tidak tertarik? “Enggak ah… di rumah <st1:state st="on"><st1:place st="on">kan</st1:place></st1:state> masih ada.” </p>
<p class="MsoNormal">“Ambil saja… Papa bawa duit kok.” “Engah ah… Ayo kita ke tempat makanan saja sambil menunggu buka,” sahut Rizal. Kami akhirnya berangkat duluan, sementara Aina masih muter-muter sama emaknya. Sesampainya di lantai tiga, anak-anak sempat melihat sepatu dan sandal yang dipajang di rak. Mereka akhirnya milih satu persatu.</p>
<p class="MsoNormal">Puas berbelanja, kami nongkrong di stand penjualan makanan. Usai buka, anak-anak kutinggal turun ke bawah. Di tangga menuju Ramaya, saya nongkrong sendirian. Saya amati lalu-lalangnya manusia. Di sebelah kanan saya, ada dua pria usianya masih 20 tahunan sedang duduk-duduk. Keduanya sibuk memilin-milin tangan, entah apa maksudnya.</p>
<p class="MsoNormal">Sementara di depannya ada seorang wanita bersama anak perempuannya. Usianya anaknya kira-kira dua tahun. Wanita itu terlihat serius menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ruoanya, ia sedang berbuka puasa dengan bekal nasi bungkus yang ia bawa dari rumah. Ehmmm… nikmat sekali rasanya. Sesekali sang anak disuapinya. </p>
<p class="MsoNormal">Di depan wanita itu, ada tiga bocah. Usianya sama dengan anak-anak saya. Tangannya menenteng tas kresek. Setiap kali ada orang lewat ia menawarkan barang dagangannya. Tak satupun pengunjung Ramayana mau membeli. Di sampamping mereka ada dua pengemis wanita. Usianya sudah lanjut. Sambil menengadahkan tangan, keduanya hilir mudik diantara kesibukan manusia lain. Tak satu pun pengunjung bersedia memberikan uang recehnya. </p>
<p class="MsoNormal">Saat saya melamunkan nasib ketiga bocah penjual tas kresek itu, tiba-tiba anakku bernama Buyung duduk di sebelahku. “<st1:place st="on"><st1:city st="on">Ngapain</st1:city> <st1:state st="on">Pa</st1:state></st1:place>? Ehmm… kasihan ya anak-anak itu.” Saya terdiam tak menjawab. Beberapa saat kemudian saya angkat bicara juga. “Apa maknanya setelah kamu melihat pengemis dan bocah-bocah itu?” “Kagak tahu Pa..?”</p>
<p class="MsoNormal">Masak kagak tahu? “Dengan melihat mereka, mestinya kamu harus lebih bersyukur dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kamu. Kenapa? Seandainya ayahmu kagak bekerja, mungkin nasib kamu dan adik-adikmu sama dengan mereka. Mungkin kamu juga kagak menginjak gedung ini karena tidak memiliki uang untuk membeli barang. Seharusnya anak-anak itu jam segini sudah harus belajar di rumah. Tapi karena orang tuanya tidak mampu dan tuntutan atau desakan ekonomi kian menghimpit, maka mereka jadi seperti ini,” kataku. </p>
<p class="MsoNormal">Anakku terdiam. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Mungkin, Buyung sedang berpikir apa makna atau pesan yang disampaikan ayahnya. Kulihat, air matanya mulai menetes. Lalu ia bangkit berdiri dan mengajak saya segera pergi meninggalkan keramaian…. </p>
<p class="MsoNormal">Sambil berjalan kaki, kulihat seorang wanita setengah baya baru turun dari angkot. Dua anaknya yang masih duduk di bangku SD, diajaknya menyusuri stand-stand pakaian yang ada di kaki <st1:city st="on"><st1:place st="on">lima</st1:place></st1:city>. Setelah melihat-lihat pakaian dan mencocokannya dengan tubuh sang anak, wanita itu membuka dompet kecilnya.</p>
<p class="MsoNormal">Ia hitung uangnya lembar demi lembar. Astaga… ternyata tidak cukup. Entah apa pekerjaan suami wanita itu. Ingin rasanya saya menghampiri wanita itu lalu membantunya membelikan pakaian yang diinginkan anaknya. Tapi saya takut&#8230; takut wanita itu merasa terhina.  Kini Lebaran sudah di depan mata dan sang ibu ‘wajib’ membelikan pakaian baru, celana baru, sepatu baru buat sang anak dengan segala keterbatasannya. Semoga Tuhan memberikan rezeki berlimpah kepada mereka agar ikut bergembira di hari yang fitri mendatang… Selamat Lebaran, minal aidhin wal faidhin, mohon maaf lahir bathin…. (achmad subechi)</p>
<p class="MsoNormal"><o:p> </o:p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bechiblog.com/2007/10/03/mensyukuri-nikmat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
